| Foto bersama usai kagiatan program praktisi mengajar, Dok. Panitia |
SURABAYA — Universitas 17
Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menggelar program Praktisi Mengajar bertema
"Dari Teori ke Praktik: Strategi Komunikasi Pemberdayaan Berbasis
Komunitas dalam Menggerakkan Perempuan, UMKM, dan Pemuda" pada Rabu, 17
Juni 2026, pukul 13.00 WIB, di Gedung R. Ing. Soekanjono lantai 6, UNTAG
Surabaya. Acara ini menghadirkan dua praktisi pemberdayaan masyarakat sebagai
narasumber, yaitu Evi Ratnasari, S.IP., pendiri komunitas Omah Jaman Now (OJN),
dan Achmad Danial Abidin, pendiri Alas Institute.
Kegiatan
ini diinisiasi oleh dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat, Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si., M.I.Kom., dan khusus
diikuti oleh mahasiswa Kelas B dan E. Program ini merupakan bagian dari upaya
menghubungkan teori komunikasi pembangunan dengan praktik di lapangan, dengan
menghadirkan langsung pelaku pemberdayaan masyarakat yang bergerak di bidang
berbeda — dari pemberdayaan pemuda perkotaan hingga penyelesaian konflik sosial
dan lingkungan di wilayah perdesaan.
Evi
Ratnasari, yang juga berprofesi sebagai communication strategist dan menjabat
Direktur Komunikasi di Politea Consulting, memaparkan perjalanan OJN sebagai
ruang kreatif yang awalnya difokuskan pada penyediaan tempat berkumpul gratis
bagi anak muda. OJN berdiri dengan empat pilar utama, yaitu community building,
leadership, networking, dan pengembangan soft skill, dengan tagline "Ruang
aman. Komunitas suportif. Bersama bertumbuh, bersama berdampak."
Namun
memasuki masa pandemi, OJN mengalami pergeseran besar. Evi menyebut perubahan
ini sebagai "evolusi dari ruang menjadi peluang", yakni transformasi
dari model yang bergantung pada ruang fisik menuju model yang lebih fleksibel
dan berbasis pemanfaatan media digital. Dari proses evolusi itulah lahir
program turunan BantuFinansialku x YoungVision, yang berfokus pada literasi
keuangan, pengembangan diri, dan penciptaan pendapatan bagi mahasiswa, fresh
graduate, profesional muda, hingga ibu rumah tangga. OJN juga menjalin
kemitraan dengan PlasticPay, platform yang mengonversi sampah menjadi nilai
tunai.
Evi
menjelaskan bahwa seluruh ekspansi program tersebut tidak lahir dari kampanye
komunikasi yang terstruktur, melainkan dari percakapan personal dengan
individu-individu dalam jaringannya. Ia juga menegaskan bahwa OJN sengaja tidak
menerapkan pendekatan instruksi searah dalam mendorong partisipasi anggota,
karena menurutnya kesadaran untuk berkontribusi harus tumbuh dari masing-masing
individu. Dalam pemaparannya, Evi juga mengajak peserta untuk memvisualisasikan
tujuan hidup lima tahun ke depan, sebagai latihan refleksi diri yang menjadi
salah satu metode OJN dalam membangun motivasi internal anggota komunitas.
Konsistensi partisipasi anggota, diakuinya, tetap menjadi tantangan terbesar
yang dihadapi OJN hingga saat ini.
Narasumber
kedua, Achmad Danial Abidin, yang sejak 2016 mendirikan Alas Institute dan juga
menjabat Sekretaris Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bojonegoro, membagikan
pengalamannya menangani konflik antara perusahaan minyak dan gas (migas) dengan
petani di Bojonegoro. Ia menjelaskan, lahan pertanian warga yang berdekatan
dengan area operasional perusahaan migas berisiko tinggi akibat kebiasaan
petani membakar lahan untuk membuka ladang baru — sebuah praktik yang sudah
berlangsung turun-temurun.
Berbagai
upaya penyuluhan mengenai bahaya kebakaran di kawasan tersebut sebelumnya telah
dilakukan oleh pihak perusahaan, namun menurut Danial, pendekatan itu tidak
banyak mengubah kebiasaan petani. Akar persoalannya, menurutnya, terletak pada
sudut pandang yang digunakan: penyuluhan selama ini menempatkan kepentingan
keselamatan perusahaan sebagai inti pesan, sehingga tidak terasa relevan bagi
petani.
Solusi
yang diterapkan Alas Institute pun berbeda. Danial memposisikan diri sebagai
petani dan menyampaikan penyuluhan dari sudut pandang kepentingan petani itu
sendiri — bahwa praktik membakar lahan justru merugikan mereka secara langsung,
karena dapat membuat tanah menjadi keras dan menurunkan kesuburan lahan
pertanian. Pendekatan ini, menurutnya, jauh lebih efektif diterima karena
menyentuh kepentingan ekonomi petani secara langsung, bukan sekadar aturan
keselamatan dari pihak eksternal.
Danial
juga menyebut bahwa pengalaman tersebut mengajarkan satu pelajaran penting
dalam komunikasi pemberdayaan: perubahan perilaku masyarakat baru bisa terjadi
ketika pesan disampaikan dari sudut pandang kepentingan mereka sendiri, bukan
dari sudut pandang pihak yang ingin mengubah perilaku tersebut.
Pemaparan
kedua narasumber tersebut selanjutnya akan dianalisis oleh mahasiswa peserta
sebagai bagian dari tugas praktikum mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan
Pemberdayaan Masyarakat, mencakup identifikasi strategi komunikasi, bentuk
partisipasi masyarakat, hingga perumusan rekomendasi pengembangan program
pemberdayaan berbasis komunikasi. Melalui program Praktisi Mengajar ini,
mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan dari pengalaman nyata di lapangan,
tetapi juga didorong untuk berpikir kritis dalam menghubungkan konsep-konsep
akademik yang telah mereka pelajari di kelas dengan realitas praktik
pemberdayaan yang sesungguhnya dihadapi oleh masyarakat.