GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Dua Praktisi Berbagi Strategi Komunikasi Pemberdayaan di UNTAG Surabaya

WhatsApp Image 2026-06-19 at 17.30.00
Foto bersama usai kagiatan program praktisi mengajar, Dok. Panitia

SURABAYA — Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menggelar program Praktisi Mengajar bertema "Dari Teori ke Praktik: Strategi Komunikasi Pemberdayaan Berbasis Komunitas dalam Menggerakkan Perempuan, UMKM, dan Pemuda" pada Rabu, 17 Juni 2026, pukul 13.00 WIB, di Gedung R. Ing. Soekanjono lantai 6, UNTAG Surabaya. Acara ini menghadirkan dua praktisi pemberdayaan masyarakat sebagai narasumber, yaitu Evi Ratnasari, S.IP., pendiri komunitas Omah Jaman Now (OJN), dan Achmad Danial Abidin, pendiri Alas Institute.

Kegiatan ini diinisiasi oleh dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Dia Puspitasari, S.Sosio., M.Si., M.I.Kom., dan khusus diikuti oleh mahasiswa Kelas B dan E. Program ini merupakan bagian dari upaya menghubungkan teori komunikasi pembangunan dengan praktik di lapangan, dengan menghadirkan langsung pelaku pemberdayaan masyarakat yang bergerak di bidang berbeda — dari pemberdayaan pemuda perkotaan hingga penyelesaian konflik sosial dan lingkungan di wilayah perdesaan.

Evi Ratnasari, yang juga berprofesi sebagai communication strategist dan menjabat Direktur Komunikasi di Politea Consulting, memaparkan perjalanan OJN sebagai ruang kreatif yang awalnya difokuskan pada penyediaan tempat berkumpul gratis bagi anak muda. OJN berdiri dengan empat pilar utama, yaitu community building, leadership, networking, dan pengembangan soft skill, dengan tagline "Ruang aman. Komunitas suportif. Bersama bertumbuh, bersama berdampak."

Namun memasuki masa pandemi, OJN mengalami pergeseran besar. Evi menyebut perubahan ini sebagai "evolusi dari ruang menjadi peluang", yakni transformasi dari model yang bergantung pada ruang fisik menuju model yang lebih fleksibel dan berbasis pemanfaatan media digital. Dari proses evolusi itulah lahir program turunan BantuFinansialku x YoungVision, yang berfokus pada literasi keuangan, pengembangan diri, dan penciptaan pendapatan bagi mahasiswa, fresh graduate, profesional muda, hingga ibu rumah tangga. OJN juga menjalin kemitraan dengan PlasticPay, platform yang mengonversi sampah menjadi nilai tunai.

Evi menjelaskan bahwa seluruh ekspansi program tersebut tidak lahir dari kampanye komunikasi yang terstruktur, melainkan dari percakapan personal dengan individu-individu dalam jaringannya. Ia juga menegaskan bahwa OJN sengaja tidak menerapkan pendekatan instruksi searah dalam mendorong partisipasi anggota, karena menurutnya kesadaran untuk berkontribusi harus tumbuh dari masing-masing individu. Dalam pemaparannya, Evi juga mengajak peserta untuk memvisualisasikan tujuan hidup lima tahun ke depan, sebagai latihan refleksi diri yang menjadi salah satu metode OJN dalam membangun motivasi internal anggota komunitas. Konsistensi partisipasi anggota, diakuinya, tetap menjadi tantangan terbesar yang dihadapi OJN hingga saat ini.

Narasumber kedua, Achmad Danial Abidin, yang sejak 2016 mendirikan Alas Institute dan juga menjabat Sekretaris Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Bojonegoro, membagikan pengalamannya menangani konflik antara perusahaan minyak dan gas (migas) dengan petani di Bojonegoro. Ia menjelaskan, lahan pertanian warga yang berdekatan dengan area operasional perusahaan migas berisiko tinggi akibat kebiasaan petani membakar lahan untuk membuka ladang baru — sebuah praktik yang sudah berlangsung turun-temurun.

Berbagai upaya penyuluhan mengenai bahaya kebakaran di kawasan tersebut sebelumnya telah dilakukan oleh pihak perusahaan, namun menurut Danial, pendekatan itu tidak banyak mengubah kebiasaan petani. Akar persoalannya, menurutnya, terletak pada sudut pandang yang digunakan: penyuluhan selama ini menempatkan kepentingan keselamatan perusahaan sebagai inti pesan, sehingga tidak terasa relevan bagi petani.

Solusi yang diterapkan Alas Institute pun berbeda. Danial memposisikan diri sebagai petani dan menyampaikan penyuluhan dari sudut pandang kepentingan petani itu sendiri — bahwa praktik membakar lahan justru merugikan mereka secara langsung, karena dapat membuat tanah menjadi keras dan menurunkan kesuburan lahan pertanian. Pendekatan ini, menurutnya, jauh lebih efektif diterima karena menyentuh kepentingan ekonomi petani secara langsung, bukan sekadar aturan keselamatan dari pihak eksternal.

Danial juga menyebut bahwa pengalaman tersebut mengajarkan satu pelajaran penting dalam komunikasi pemberdayaan: perubahan perilaku masyarakat baru bisa terjadi ketika pesan disampaikan dari sudut pandang kepentingan mereka sendiri, bukan dari sudut pandang pihak yang ingin mengubah perilaku tersebut.

Pemaparan kedua narasumber tersebut selanjutnya akan dianalisis oleh mahasiswa peserta sebagai bagian dari tugas praktikum mata kuliah Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, mencakup identifikasi strategi komunikasi, bentuk partisipasi masyarakat, hingga perumusan rekomendasi pengembangan program pemberdayaan berbasis komunikasi. Melalui program Praktisi Mengajar ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan dari pengalaman nyata di lapangan, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis dalam menghubungkan konsep-konsep akademik yang telah mereka pelajari di kelas dengan realitas praktik pemberdayaan yang sesungguhnya dihadapi oleh masyarakat.

 

Type above and press Enter to search.