
Prof. Muslim Akmal
Suara Time, Banda Aceh – Kehidupan manusia sering dipandang dari
titik-titik besar yang terlihat oleh mata: kelahiran, pendidikan, karier,
hingga berbagai pencapaian yang diraih sepanjang perjalanan hidup. Namun,
menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr.
drh. Muslim Akmal, M.P., seluruh perjalanan panjang tersebut sesungguhnya
berawal dari sebuah peristiwa yang berlangsung dalam keheningan dan nyaris tak
terlihat: pertemuan antara sperma dan sel telur.
Bagi Prof. Muslim Akmal yang selama bertahun-tahun
menekuni bidang biologi reproduksi molekuler, fertilisasi bukan sekadar proses
biologis yang menjelaskan awal terbentuknya kehidupan. Di balik proses ilmiah
yang kompleks itu tersimpan pelajaran mendalam tentang perjuangan, kolaborasi,
ketepatan, dan kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta.
“Semakin lama saya mempelajari fertilisasi, semakin
saya menyadari bahwa proses ini bukan hanya fenomena biologis. Ia juga
menyimpan banyak pelajaran kehidupan yang sangat bermakna,” ujar Prof. Muslim
Akmal.
Pelajaran tentang Perjuangan
Dalam dunia reproduksi, ratusan juta spermatozoa
dilepaskan dalam satu kali ejakulasi. Namun, hanya satu yang berhasil mencapai
dan membuahi sel telur.
Menurut Prof. Muslim, fakta biologis tersebut
memberikan gambaran tentang realitas kehidupan manusia. Banyak yang memulai
perjalanan dengan harapan dan impian yang sama, tetapi hanya mereka yang mampu
bertahan menghadapi tantangan yang akhirnya mencapai tujuan.
“Perjalanan spermatozoa mengajarkan bahwa
keberhasilan bukan semata-mata soal jumlah atau kekuatan awal, tetapi tentang
kemampuan bertahan, beradaptasi, dan terus bergerak maju,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kehidupan tidak selalu
dimenangkan oleh mereka yang memiliki sumber daya paling besar, melainkan oleh
mereka yang mampu menjalani proses dengan tekun dan konsisten. Perjalanan
panjang spermatozoa menuju sel telur menjadi metafora tentang pentingnya
ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Kehidupan Tumbuh dari Perbedaan
Spermatozoa dan sel telur memiliki bentuk, ukuran,
struktur, serta fungsi yang berbeda. Namun justru karena perbedaan itulah
kehidupan menjadi mungkin.
Masing-masing membawa setengah informasi genetik
yang diperlukan untuk membentuk individu baru. Dari perspektif ilmiah, keduanya
tidak dapat bekerja sendiri.
“Alam seolah mengajarkan bahwa kehidupan lahir dari
kemampuan untuk saling melengkapi, bukan saling mendominasi,” jelas Prof.
Muslim.
Dalam kehidupan sosial yang sering diwarnai
perbedaan pandangan, latar belakang, maupun kepentingan, proses fertilisasi
menjadi simbol bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan apabila dikelola secara
harmonis. Sesuatu yang besar sering kali lahir dari kemampuan berbagai pihak
untuk bekerja bersama dan saling melengkapi.
Presisi yang Mengagumkan
Fertilisasi juga menunjukkan tingkat ketepatan
biologis yang luar biasa. Ovulasi harus terjadi pada waktu yang tepat,
spermatozoa harus mengalami kapasitasi pada saat yang sesuai, reaksi akrosom
berlangsung pada lokasi yang benar, hingga aktivasi oosit dipicu oleh sinyal
molekuler yang spesifik.
Sedikit saja terjadi kesalahan, maka proses
fertilisasi dapat mengalami kegagalan.
“Semakin dalam kita mempelajari mekanisme
fertilisasi, semakin tampak betapa luar biasanya koordinasi yang terjadi pada
tingkat seluler dan molekuler,” ungkapnya.
Bagi Prof. Muslim, keteraturan tersebut menjadi
pengingat akan firman Allah SWT dalam Surah Al-Qamar ayat 49:
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukuran."
Menurutnya, ayat tersebut mengandung makna bahwa
seluruh ciptaan berlangsung berdasarkan ketetapan, ukuran, dan keteraturan yang
telah ditentukan. Dalam perspektif biologi reproduksi, keteraturan itu terlihat
melalui koordinasi berbagai proses biologis dan molekuler yang bekerja secara
harmonis sehingga memungkinkan terbentuknya kehidupan baru.
“Semakin kita memahami mekanisme kehidupan, semakin
tampak bahwa tidak ada proses yang berlangsung secara acak. Ada sistem yang
bekerja dengan tingkat presisi yang sangat mengagumkan,” katanya.
Keajaiban yang Berawal dari Sesuatu yang Sangat Kecil
Manusia sering terpesona oleh gunung yang
menjulang, lautan yang luas, atau hamparan langit yang tak bertepi. Namun
kehidupan justru dimulai dari sesuatu yang sangat kecil dan hanya dapat diamati
melalui mikroskop.
Dari satu zigot yang terbentuk hasil pertemuan
sperma dan sel telur, berkembang triliunan sel yang membentuk organ, jaringan,
dan sistem tubuh manusia.
“Dari satu sel akan lahir otak yang mampu berpikir,
hati yang mampu mencintai, mata yang mampu melihat keindahan, dan tangan yang
mampu berkarya. Ini adalah perjalanan yang luar biasa,” katanya.
Bagi Prof. Muslim, fakta ini mengingatkan bahwa sesuatu yang tampak kecil bukan berarti tidak memiliki arti besar. Justru keajaiban kehidupan berawal dari sesuatu yang nyaris tidak terlihat oleh mata manusia.
Semakin Banyak Tahu, Semakin Banyak Kagum
Kemajuan ilmu pengetahuan telah mengungkap berbagai
molekul penting yang berperan dalam fertilisasi, seperti IZUMO1, JUNO, CD9,
PLCζ, CatSper, dan ZP3.
Namun menurut Prof. Muslim, setiap penemuan baru
justru membuka lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
“Semakin banyak yang kita ketahui, semakin kita
menyadari betapa luasnya hal-hal yang belum kita pahami,” ujarnya.
Kesadaran tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu
pengetahuan seharusnya melahirkan kerendahan hati. Penelitian dan penemuan
ilmiah bukanlah akhir dari pencarian, melainkan bagian dari perjalanan panjang
untuk memahami sebagian kecil rahasia kehidupan.
Ia kemudian mengutip Surah An-Naml ayat 65 yang
menyatakan:
"Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit
dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah."
Menurutnya, ayat tersebut mengingatkan bahwa
manusia hanya mampu memahami sebagian kecil dari realitas kehidupan, sedangkan
hakikat pengetahuan yang sempurna tetap berada dalam kekuasaan Allah SWT.
Karena itu, setiap kemajuan ilmu pengetahuan
seharusnya tidak melahirkan kesombongan intelektual, melainkan rasa syukur dan
kerendahan hati. Semakin banyak yang diketahui, semakin besar pula kesadaran
bahwa masih banyak misteri kehidupan yang belum terungkap.
Menemukan Tanda-Tanda Kebesaran Allah dalam Sebuah Sel
Bagi sebagian orang, tanda-tanda kebesaran Allah
ditemukan pada luasnya galaksi, tingginya gunung, atau luasnya samudra. Namun
bagi seorang peneliti biologi reproduksi, tanda-tanda itu juga dapat ditemukan
dalam sebuah spermatozoa dan sel telur.
Menurut Prof. Muslim Akmal, semakin dalam ilmu
pengetahuan menyingkap rahasia fertilisasi, semakin tampak bahwa kehidupan
merupakan harmoni yang luar biasa kompleks dan menakjubkan.
“Bagi saya, mempelajari biologi reproduksi bukan
hanya perjalanan ilmiah, tetapi juga perjalanan spiritual. Setiap pengetahuan
baru yang terungkap menghadirkan kekaguman yang lebih besar terhadap ciptaan
Allah SWT,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa ilmu pengetahuan dan
nilai-nilai spiritual bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya,
keduanya dapat berjalan beriringan dalam membantu manusia memahami kehidupan
dan mengambil hikmah dari setiap proses yang terjadi di alam.
Pada akhirnya, fertilisasi bukan hanya tentang awal
terbentuknya kehidupan. Ia adalah kisah tentang perjuangan, kolaborasi,
ketepatan, harapan, dan kerendahan hati. Sebuah keajaiban yang berlangsung
dalam keheningan, tetapi menjadi titik awal dari seluruh perjalanan manusia di
muka bumi.
Melalui pemahaman yang lebih mendalam terhadap proses reproduksi, Prof. Muslim berharap masyarakat tidak hanya melihat fertilisasi sebagai fenomena biologis semata, tetapi juga sebagai pengingat bahwa kehidupan adalah anugerah yang luar biasa. Semakin jauh manusia menjelajahi dunia ilmu pengetahuan, semakin banyak alasan untuk bersyukur, merenung, dan mengagumi kebesaran Sang Pencipta yang menghadirkan kehidupan melalui proses yang begitu indah dan menakjubkan.