![]() |
| Tim Penelitian dan Pengabdian UPN Veteran Jawa Timur bersama mitra Kopi Sumber Wandhe di depan cabinet dryer (kiri), peninjauan rak pengering berisi biji kopi (kanan atas), dan alat pemantau suhu serta kelembapan di dalam ruang pengering (kanan bawah). |
Suaratime, Jombang, 27 Oktober 2026 – Tim Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur (UPN Veteran Jatim) menyerahkan alat Cabinet Dryer Silinder Hibrid untuk pengeringan biji kopi spesialti kepada mitra Kopi Sumber Wandhe (Wandhe Family Estate), Wonosalam, Kabupaten Jombang, pada Selasa (27/10/2026).
Tim yang hadir
dalam penyerahan alat terdiri atas Dr. M. Danny Pratama Lamura, S.Pd., M.T.,
Dr. Musyaroh, S.T.P., M.T., dan Rizqa Ruviana, S.T., M.T. dari Program Studi
Teknik Mesin; Muhammad Bhirawa Dwi Atma Citalada, S.E., M.M. dari Program Studi
Manajemen; serta Dr. Zainal Abidin Achmad, S.Sos., M.Si., M.Ed. dari Program
Studi Ilmu Komunikasi. Kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi lintas bidang
antara perguruan tinggi dan pelaku usaha kopi rakyat untuk meningkatkan mutu
pascapanen kopi.
Cabinet dryer
yang diserahkan berupa bangunan pengering berukuran 3 × 5 meter. Di dalamnya
terdapat rak-rak bertingkat berisi tray pengering yang mampu menampung sekitar 1600 kg biji kopi basah dalam
satu siklus pengeringan. Ruang pengering juga dilengkapi alat pemantau suhu dan
kelembapan, sehingga kondisi pengeringan dapat diamati langsung oleh mitra.
Jika dikeringkan
dengan cara dijemur di bawah sinar matahari, jumlah kopi yang sama membutuhkan
lahan jemur terbuka seluas 15–20 m². Cabinet dryer cukup memanfaatkan bangunan
seluas 15 m² karena tray disusun secara vertikal. Dari sisi waktu, penjemuran konvensional
di dataran tinggi seperti Wonosalam umumnya memakan waktu 2–4 minggu, terutama
untuk proses natural, dan sangat bergantung pada cuaca. Saat mendung atau musim
hujan, kopi harus berulang kali diangkat dan ditutup, sementara risiko
tumbuhnya jamur dan fermentasi berlebih meningkat. Dengan cabinet dryer, suhu
dan kelembapan ruang dapat dijaga lebih stabil, sehingga waktu pengeringan
diperkirakan dapat dipersingkat hingga sekitar separuhnya. Proses pengeringan
juga tetap berjalan pada malam hari maupun saat hujan.
Selain lebih
cepat, pengeringan di ruang tertutup melindungi biji kopi dari debu, serangga,
dan hewan. Kadar air akhir pun menjadi lebih seragam, yang penting untuk
menjaga konsistensi cita rasa kopi spesialti.
Dari sisi energi,
cabinet dryer ini bekerja secara hibrid. Pada siang hari, alat memanfaatkan
panas matahari yang terperangkap di dalam ruang berdinding polikarbonat.
Sepanjang siang dan malam, dehumidifier dan kipas sirkulasi menjaga
udara di dalam ruang tetap kering, sehingga pengeringan terus berlangsung
meskipun cuaca mendung atau hujan. Konsumsi listriknya diperkirakan hanya
sekitar 739,2 kWh per siklus, atau setara dengan 0,25–0,32 kWh per kilogram
kopi basah. Dengan asumsi target pengolahan 16 ton kopi basah per bulan yang
terbagi dalam 10 siklus, masing-masing berkapasitas 1,6 ton, kebutuhan listrik
diperkirakan mencapai sekitar 131–171
kWh per hari. Berdasarkan tarif listrik Rp1.444,70/kWh,
biaya operasional listrik diperkirakan sekitar Rp190.000–248.000 per hari, atau setara dengan
Rp356–464 per kilogram kopi basah. Efisiensi ini menjadi salah satu keunggulan
penerapan teknologi pengering mekanis dibandingkan metode pengeringan
konvensional.
Kolaborasi ini
tidak berhenti pada penyerahan alat. Pada tahap selanjutnya, tim UPN Veteran
Jatim akan mengembangkan sistem Internet of Things (IoT) agar suhu dan
kelembapan ruang pengering dapat dipantau dan dikendalikan dari jarak jauh
melalui perangkat seluler. Tim juga akan melakukan penelitian pengembangan
tabung fermentasi untuk menghasilkan beragam varian kopi spesialti, seperti
fermentasi dengan buah (fruit infused) dan varian proses lainnya.
Melalui sinergi ini, UPN Veteran Jatim berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat, khususnya dalam penguatan rantai nilai kopi lokal Wonosalam agar semakin berdaya saing.
