GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Faisal Tahadju BPBD Morowali Utara Raih Predikat Lulus Baik Sekali dalam Pelatihan BNPB 2026

Faisal Tahadju dari BPBD Morowali Utara meraih predikat Lulus Baik Sekali dalam Pelatihan Perencanaan Kontingensi BNPB 2026 selama 50 jam pelajaran. (Foto: Dok/Ist).

Suara Time, Morowali Utara – Upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas penanggulangan bencana di daerah terus diperkuat melalui pengembangan kompetensi sumber daya manusia. Salah satunya ditunjukkan oleh Faisal Tahadju, ST., M.Si., C.CTr, CPSE, CSDP, CPS, CNeg, C.MTr, CIB, CPMC, staf pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Morowali Utara, yang berhasil menyelesaikan Pelatihan Perencanaan Kontingensi Bidang Penanggulangan Bencana Angkatan III Tahun 2026 dengan predikat Lulus, Baik Sekali.

Faisal yang berpangkat Pembina, IV/a dan bertugas sebagai Penelaah Teknis Kebijakan pada BPBD Kabupaten Morowali Utara tersebut mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdiklat PB BNPB).

Pelatihan berlangsung secara daring pada 21–25 September 2026 dengan total pembelajaran mencapai 50 jam pelajaran (JP).

Capaian kelulusan tersebut tercantum dalam Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) Nomor 00003274/DIKLAT TEKNIS/KONTIN_03/PUSDIKLAT-BNPB/2026. Sertifikat tersebut ditandatangani oleh Kepala Pusdiklat PB BNPB, Dr. Kheriawan, S.H., M.M.

Kuasai 17 Materi Perencanaan Kontingensi Bencana

Selama lima hari pelatihan intensif, peserta mendapatkan pembekalan mengenai berbagai aspek penting dalam penyusunan perencanaan kontingensi atau Renkon kebencanaan.

Kurikulum pelatihan mencakup 17 materi struktural yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan teknis peserta dalam memahami potensi ancaman dan mempersiapkan langkah penanganan darurat.

Materi yang diberikan meliputi analisis karakteristik bahaya, penyusunan skenario kejadian bencana, identifikasi asumsi dampak, hingga keterampilan teknis dalam menyusun dokumen rencana kontingensi.

Kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan daerah menghadapi berbagai kemungkinan bencana. Dengan perencanaan yang terstruktur, pemerintah daerah diharapkan dapat menentukan kebutuhan sumber daya, pembagian peran, serta langkah koordinasi ketika situasi darurat terjadi.

Faisal Tahadju: Rencana Kontingensi Bukan Sekadar Dokumen

Setelah menerima dokumen kelulusan resminya pada 30 Oktober 2026, Faisal Tahadju menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Pusdiklat BNPB tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa pelatihan selama 50 jam pelajaran memberikan pengalaman dan pengetahuan baru, terutama dalam memahami penyusunan strategi penanganan bencana yang terukur dan berbasis data.

"Mengikuti pelatihan intensif selama 50 jam pelajaran ini memberikan pengalaman luar biasa. Meskipun dilaksanakan secara daring, metode pembelajaran dari instruktur BNPB sangat interaktif dan aplikatif. Struktur kurikulumnya benar-benar membuka cakrawala baru, terutama dalam merumuskan skenario taktis penanganan darurat yang rigid dan berbasis data lapangan," ungkap Faisal.

Menurutnya, kemampuan menyusun perencanaan kontingensi memiliki peran strategis dalam mendukung kesiapan pemerintah daerah menghadapi situasi darurat.

Ia juga menekankan bahwa dokumen Renkon tidak boleh hanya menjadi persyaratan administratif, tetapi harus menjadi pedoman operasional yang dapat digunakan ketika bencana terjadi.

"Perencanaan kontingensi bukan sekadar dokumen di atas kertas, melainkan instrumen vital penyelamat nyawa dan penentu kecepatan respons saat krisis terjadi," tegasnya.

Dorong Sinergi Lintas Sektor di Morowali Utara

Lebih lanjut, Faisal berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat segera diterapkan secara konkret dalam penguatan tata kelola penanggulangan bencana di Kabupaten Morowali Utara.

Ia juga berharap koordinasi dan sinergi lintas sektor di daerah semakin kuat, khususnya dalam penyusunan strategi mitigasi, perencanaan kebutuhan, serta penganggaran kebencanaan.

"Semoga ke depan, sinergi lintas sektor di Kabupaten Morowali Utara semakin kuat dalam menyusun mitigasi dan tata anggaran kebencanaan yang tangguh dan siap pakai," tambahnya.

Sinergi antarlembaga menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan bencana. Pemerintah daerah, instansi teknis, aparat, dunia usaha, relawan, dan masyarakat perlu memiliki pemahaman serta pembagian peran yang jelas dalam menghadapi potensi keadaan darurat.

Melalui perencanaan kontingensi yang matang, berbagai pihak dapat mempersiapkan langkah antisipasi sebelum bencana terjadi, termasuk kebutuhan personel, peralatan, logistik, jalur koordinasi, dan mekanisme respons.

Perkuat Kapasitas BPBD Morowali Utara dalam Menghadapi Bencana

Kelulusan Faisal Tahadju dengan predikat Baik Sekali diharapkan menjadi tambahan kapasitas sumber daya manusia teknis bagi BPBD Kabupaten Morowali Utara.

Pengetahuan mengenai perencanaan kontingensi dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyusunan strategi penanggulangan bencana yang lebih responsif, adaptif, dan tepat sasaran.

Di sisi lain, kesiapsiagaan bencana tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga membutuhkan dukungan kelembagaan, koordinasi antarsektor, ketersediaan sumber daya, serta keterlibatan masyarakat.

Karena itu, hasil pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk memperkuat perencanaan dan koordinasi penanggulangan bencana di Kabupaten Morowali Utara.

Dengan peningkatan kompetensi aparatur dan perencanaan yang lebih terarah, upaya perlindungan masyarakat dari risiko bencana diharapkan semakin optimal.

Capaian ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi berbagai potensi ancaman bencana melalui pengembangan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional.

Type above and press Enter to search.