GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

CKG Jadi Pintu Masuk, Puskesmas Lebak Wangi Bidik TBC hingga Kontak Serumah

Kepala UPT Puskesmas Lebakwangi bersama tim tracing TB/CKG saat melakukan kegiatan tracing di Desa Purwadadi, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Serang.

SERANG, BANTEN — Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang merupakan program nasional pemerintah dimanfaatkan UPT Puskesmas Lebak Wangi, Kabupaten Serang, untuk memperkuat upaya deteksi dini berbagai masalah kesehatan, termasuk tuberkulosis (TBC). Tidak sekadar melakukan pemeriksaan kesehatan, Puskesmas Lebak Wangi mengintegrasikan kegiatan CKG dengan tracing atau penelusuran kasus TBC secara lebih terarah, termasuk menggali kemungkinan adanya kontak serumah dari peserta yang diperiksa.

Program CKG merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (Quick Win) pemerintah di bidang kesehatan. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa program ini ditujukan untuk mendeteksi faktor risiko, kondisi pra-penyakit, dan penyakit secara lebih dini. Pada 2026, pelaksanaan CKG juga semakin diarahkan agar tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi dilanjutkan dengan penanganan dan tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan.

JDIH Kementerian Kesehatan +1

Besarnya cakupan program tersebut terlihat dari capaian CKG di Provinsi Banten. Berdasarkan data per 9 September 2026, Kabupaten Serang telah mencatat 735.867 penduduk yang mendapatkan pelayanan CKG Umum dan 263.785 siswa melalui CKG Sekolah. Jika digabungkan, jumlah masyarakat yang telah mendapatkan pelayanan mencapai 999.652 orang. Angka tersebut setara dengan 56,16 persen dari total penduduk Kabupaten Serang sebanyak 1.779.858 jiwa.

Capaian tersebut bahkan telah melampaui target 46 persen yang digunakan sebagai target capaian CKG tahun 2026. Dengan jumlah sasaran 818.735 orang, capaian Kabupaten Serang tercatat sebesar 122,10 persen terhadap target tersebut. Data tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan CKG di Kabupaten Serang telah menjangkau masyarakat dalam jumlah besar dan menjadi momentum penting untuk memperkuat deteksi dini di tingkat masyarakat.

Di bawah kepemimpinan drg. Chris, Puskesmas Lebak Wangi melihat besarnya cakupan CKG sebagai peluang untuk mengembangkan pendekatan penemuan penyakit yang lebih terarah. Setiap peserta CKG tidak hanya dipandang sebagai angka dalam laporan cakupan, tetapi sebagai pintu masuk untuk mengetahui kondisi kesehatan individu sekaligus kemungkinan risiko yang terdapat di lingkungan keluarganya.

“Kami tidak ingin sekadar mengejar jumlah orang yang diperiksa. Yang lebih penting adalah bagaimana dari pemeriksaan itu kita bisa menemukan siapa yang memang memiliki risiko dan kemudian menindaklanjutinya. Kalau ada indikasi TBC, kita bisa melihat kontak serumahnya,” ujar drg. Chris.

Pendekatan tersebut diterapkan dalam kegiatan Tracing/Penemuan Kasus TBC Terintegrasi dalam Cek Kesehatan Gratis yang dilaksanakan di Desa Purwadadi, Kecamatan Lebak Wangi. Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Jumlah peserta yang ditetapkan secara terarah memungkinkan petugas tidak hanya melakukan pemeriksaan terhadap individu, tetapi juga menggali informasi mengenai kemungkinan adanya anggota keluarga yang tinggal serumah dan memiliki risiko paparan.

Menurut Chris, pendekatan ini membuat penemuan kasus TBC menjadi lebih fokus. Ketika ditemukan seseorang dengan gejala atau faktor risiko yang mengarah pada TBC, petugas dapat melanjutkan penelusuran kepada orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan peserta tersebut, khususnya kontak serumah.

“Ibaratnya kita jangan hanya memancing di lautan yang luas. Kalau kita sudah menemukan satu titik yang potensial, kita bisa memancing lebih terarah di sana. Dalam konteks TBC, ketika kita menemukan seseorang yang berisiko, kita bisa menelusuri kontak serumahnya. Jadi penemuan kasusnya lebih terarah,” kata Chris.

Menurutnya, pendekatan berbasis kontak serumah menjadi penting karena TBC tidak hanya berkaitan dengan kondisi satu individu. Ketika seseorang terdiagnosis atau dicurigai mengalami TBC, lingkungan terdekatnya juga perlu mendapatkan perhatian. Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah memiliki kedekatan dan riwayat paparan yang perlu diperhatikan sesuai hasil penilaian dan pemeriksaan.

Integrasi CKG dengan penemuan TBC juga memberikan kesempatan kepada tenaga kesehatan untuk melakukan edukasi secara langsung. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai gejala TBC, pentingnya melakukan pemeriksaan apabila mengalami keluhan yang mengarah pada TBC, serta perlunya penelusuran bagi kontak yang memiliki risiko. Edukasi juga menjadi bagian penting untuk mengurangi stigma terhadap penderita TBC agar masyarakat tidak takut mencari pertolongan.

Bagi Puskesmas Lebak Wangi, CKG merupakan pintu masuk menuju pelayanan kesehatan yang lebih luas. Pemeriksaan kesehatan gratis tidak boleh berhenti pada kegiatan skrining, tetapi harus menghasilkan tindak lanjut yang jelas bagi masyarakat yang ditemukan memiliki masalah kesehatan. Arah tersebut juga sejalan dengan kebijakan nasional CKG pada 2026 yang menekankan pentingnya penanganan terhadap hasil pemeriksaan, bukan sekadar mengejar jumlah peserta. 

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia +1

“Jangan sampai kegiatan selesai setelah pemeriksaan dan datanya masuk. Kalau ada temuan, harus kita tindak lanjuti. Kalau ada dugaan, kita periksa lebih lanjut. Kalau ditemukan kasus, harus dipastikan mendapatkan pelayanan dan pengobatan. Kalau ada kontak serumah yang perlu ditelusuri, kita telusuri,” ujar Chris.

Dalam pelaksanaannya, Puskesmas Lebak Wangi juga melibatkan kader dan jejaring kesehatan di masyarakat. Kader memiliki peran dalam menyampaikan informasi, mengajak masyarakat memanfaatkan CKG, serta membantu menghubungkan warga dengan tenaga kesehatan ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Pendekatan berbasis masyarakat tersebut dinilai penting karena keberhasilan program kesehatan tidak hanya bergantung pada pelayanan di dalam gedung Puskesmas. Petugas kesehatan perlu hadir lebih dekat dengan masyarakat dan memahami kondisi kesehatan warga di lingkungan tempat mereka tinggal.

Bagi Chris, capaian CKG yang tinggi harus diikuti dengan kualitas tindak lanjut. Semakin banyak masyarakat yang diperiksa, semakin besar pula peluang untuk menemukan faktor risiko dan penyakit sejak dini. Namun, manfaat pemeriksaan baru benar-benar dirasakan apabila hasil tersebut kemudian digunakan untuk menentukan langkah pelayanan berikutnya.

“Yang kita kejar bukan hanya angka cakupan. Kita ingin setiap orang yang datang mendapatkan manfaat dari pemeriksaan. Kalau sehat, kita dorong untuk mempertahankan kesehatannya. Kalau ada faktor risiko, kita berikan edukasi dan tindak lanjut. Kalau ada dugaan TBC, kita pastikan proses pemeriksaannya berjalan,” kata Chris.

Program CKG sendiri ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia dalam berbagai kelompok usia. Pemerintah menempatkan program tersebut sebagai salah satu strategi promotif dan preventif untuk mendeteksi masalah kesehatan lebih awal. CKG telah dilaksanakan sejak Februari 2025 dan pada 2026 diperkuat dengan penekanan pada tindak lanjut hasil pemeriksaan. 

JDIH Kementerian Kesehatan +1

Dengan capaian CKG Kabupaten Serang yang telah mencapai hampir satu juta peserta dari kelompok umum dan sekolah, momentum tersebut menjadi peluang besar untuk memperkuat upaya penemuan berbagai masalah kesehatan di masyarakat. Bagi Puskesmas Lebak Wangi, salah satunya adalah memastikan program CKG dapat berjalan beriringan dengan upaya penemuan dan pengendalian TBC.

“Harapan kami, masyarakat semakin sadar untuk memeriksakan kesehatan sejak dini. Jangan menunggu sakit berat. Datang untuk CKG, ketahui kondisi kesehatan kita, dan kalau ada sesuatu yang perlu ditindaklanjuti, mari kita lakukan bersama. Untuk TBC, menemukan satu kasus bukan berarti selesai. Justru dari satu kasus itu kita harus melihat siapa saja yang mungkin memiliki risiko,” tutur Chris.

Melalui integrasi CKG dengan tracing dan penemuan kasus TBC, Puskesmas Lebak Wangi berupaya membangun pola pelayanan yang lebih aktif, terarah, berbasis keluarga, dan berorientasi pada tindak lanjut. CKG tidak lagi dipandang hanya sebagai kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis, tetapi sebagai salah satu pintu masuk untuk menemukan masalah kesehatan lebih awal dan memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan yang sesuai.

Pada akhirnya, keberhasilan CKG bukan hanya tentang berapa banyak orang yang telah diperiksa. Lebih dari itu, keberhasilannya terletak pada apa yang dilakukan setelah hasil pemeriksaan ditemukan. Semakin cepat risiko diketahui, semakin cepat pula langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan.

Type above and press Enter to search.