![]() |
| Dosen Pembimbing Dr. Roosye M. Lolowang, M.Pd. bersama tiga reviewer, Koordinator Posko 5 Sovios Wahani dan Wakil Koordinator Yohanes Rumbay usai mempresentasikan hasil KKN-T UKIT 2026. |
TOMOHON, SUARATIME — Posko 5 Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) Tahun 2026 berhasil meraih hasil terbaik dalam evaluasi akhir KKNT, sekaligus menghimpun lebih dari 400 responden melalui program “HP-Ku Buat Kristus”, yang tidak sekadar menjadi kegiatan pendataan, tetapi menjadi upaya untuk melihat bagaimana handphone sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari dapat diarahkan menjadi sarana pelayanan, pembinaan iman, dan misi Kristus di ruang digital.
Posko 5 dikoordinasikan oleh Sovios Wahani sebagai Koordinator Posko dan Yohanes Rumbay sebagai Wakil Koordinator Posko, dengan pendampingan Dr. Roosye M. Lolowang, M.Pd. selaku Dosen Pembimbing. Di bawah koordinasi tersebut, seluruh anggota Posko 5 menjalankan sejumlah kegiatan yang berfokus pada pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan maupun kehidupan kekristenan.
Program “HP-Ku Buat Kristus” berangkat dari kenyataan bahwa handphone kini tidak lagi hanya digunakan sebagai alat komunikasi. Perangkat tersebut telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi, belajar, menikmati hiburan, membangun relasi, hingga mengakses berbagai konten keagamaan.
Melalui program ini, Posko 5 berupaya melihat lebih jauh pola penggunaan handphone, termasuk pemanfaatannya dalam kehidupan iman. Data yang dihimpun menunjukkan penggunaan handphone berada pada rentang 2 hingga 24 jam per hari, dengan rata-rata sekitar 9 jam per hari berdasarkan data numerik yang dapat dihitung.
Sementara itu, penggunaan handphone untuk aktivitas keagamaan berada di kisaran 1 jam per hari. Aktivitas tersebut meliputi membaca Alkitab secara digital, melakukan renungan, mendengarkan lagu rohani, mengikuti ibadah secara daring, menyaksikan khotbah atau konten Kristen, hingga membagikan ayat Alkitab.
Temuan ini menunjukkan adanya ruang yang masih dapat dikembangkan. Ketika handphone telah mengambil bagian yang cukup besar dalam keseharian, perangkat yang sama juga memiliki potensi untuk diarahkan pada aktivitas yang membangun kehidupan iman.
Karena itu, “HP-Ku Buat Kristus” tidak diarahkan untuk menjauhkan masyarakat dari teknologi, melainkan mendorong pemanfaatannya secara lebih bijaksana, produktif, dan bertanggung jawab.
Handphone dapat digunakan untuk membaca dan membagikan Firman Tuhan, memperkuat pembinaan iman, menyebarkan nilai-nilai Kristiani, sekaligus membuka ruang baru bagi pelayanan dan misi di tengah masyarakat digital.
Gagasan tersebut juga melihat generasi muda bukan hanya sebagai konsumen konten digital. Anak muda dapat didorong menjadi pencipta konten yang membawa pesan positif dan nilai-nilai Kristiani.
Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi tempat menerima informasi, tetapi juga dapat menjadi ruang kesaksian dan pelayanan.
Sovios Wahani mengatakan, pelaksanaan KKN bagi Posko 5 tidak hanya dipandang sebagai kewajiban akademik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk hadir dan membaca kebutuhan masyarakat.
“Bagi kami, KKN bukan hanya tentang kewajiban akademik, tetapi kesempatan untuk hadir, membaca kebutuhan masyarakat, dan menghadirkan pelayanan yang relevan. Kami ingin apa yang kami kerjakan tidak berhenti setelah KKN selesai, tetapi terus dikembangkan dan memberi manfaat,” ujar Sovios Wahani.
Yohanes Rumbay menilai bahwa perkembangan teknologi membuka peluang baru bagi gereja dan masyarakat Kristen untuk mengembangkan bentuk pelayanan yang lebih relevan dengan kehidupan digital.
“Handphone sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, kita tidak bisa hanya melihatnya sebagai alat komunikasi atau hiburan. Teknologi ini juga bisa kita arahkan menjadi media pelayanan, media misi, dan sarana untuk menghadirkan nilai-nilai Kristiani di ruang digital,” ujar Yohanes Rumbay.
Selain “HP-Ku Buat Kristus”, Posko 5 juga menjalankan program Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan pembelajaran berbasis Canva.
Kedua program tersebut memiliki konteks berbeda, tetapi berangkat dari prinsip yang sama, yakni mengarahkan teknologi untuk menghasilkan manfaat yang positif dan bernilai bagi kehidupan masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, Canva dimanfaatkan sebagai alternatif media pembelajaran yang membantu menghadirkan materi secara lebih kreatif dan menarik. Sementara dalam kehidupan kekristenan, handphone dilihat sebagai sarana yang dapat mendukung pelayanan, pembinaan iman, penyebaran nilai-nilai Kristiani, serta misi di ruang digital.
Bagi Posko 5, hasil terbaik dalam evaluasi akhir KKN-T 2026 menjadi bagian penting dari seluruh proses yang telah dilalui. Namun, capaian tersebut tidak dipandang sebagai keberhasilan individu, melainkan hasil kerja bersama seluruh anggota posko.
“Kami bersyukur atas hasil terbaik yang kami peroleh. Tetapi pencapaian ini bukan hasil satu atau dua orang. Ini merupakan kerja bersama seluruh anggota Posko 5, dengan bimbingan dan arahan dosen pembimbing kami,” ujar Sovios Wahani.
Sementara itu, keberhasilan menghimpun lebih dari 400 responden menjadi salah satu bagian penting dari program “HP-Ku Buat Kristus”. Data tersebut memberikan gambaran awal mengenai pola penggunaan handphone dan pemanfaatannya dalam aktivitas keagamaan.
Posko 5 tidak menempatkan data tersebut sebagai kesimpulan mutlak mengenai seluruh masyarakat. Sebaliknya, data tersebut menjadi dasar untuk memahami kebiasaan penggunaan teknologi sekaligus melihat peluang pengembangan pelayanan digital ke depan.
Pada akhirnya, “HP-Ku Buat Kristus” membawa sebuah pertanyaan sederhana: ketika handphone sudah berada di tangan hampir setiap hari, untuk apa teknologi itu digunakan?
Bagi Posko 5 KKN-T UKIT 2026, jawabannya bukan sekadar menggunakan teknologi lebih lama, tetapi menggunakannya dengan lebih bermakna.
Handphone dapat menjadi ruang belajar, ruang berbagi, ruang membangun iman, sekaligus ruang untuk melayani dan menjalankan misi Kristus.
Teknologi berada di tangan manusia. Tantangannya adalah bagaimana tangan tersebut menggunakannya.
