![]() |
| Rapat Koordinasi Karhutla di Palembang (Sumber: Thread @arfzulfikar). |
Kondisi tersebut kemudian memicu perhatian luas masyarakat melalui berbagai platform media sosial dengan munculnya tagar #AllEyesOnKalimantan. Tagar tersebut menjadi simbol kepedulian publik terhadap kondisi hutan Kalimantan sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahan mengenai dampak karhutla yang semakin luas.
Pada hari Senin, 24 Agustus 2026, saat rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Sumatra Selatan, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan gagasan penggunaan tepung ubi atau singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ide ini bermula dari laporan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenai temuan inovasi zat pemadam dari tepung ubi oleh anggota Babinsa di Lubuklinggau. (Sekretariat Presiden Republik Indonesia, 2026).
Dengan istilah “Ubi Bombing”, gagasan tersebut kemudian mendapatkan perhatian sebagai alternatif dari water bombing (penyiraman air dari udara). Dalam sekejap, istilah Ubi Bombing menyebar luas dan menjadi sorotan publik. Namun alih-alih melihatnya sebagai formula pemadam kebakaran, istilah tersebut justru lebih mengundang berbagai reaksi dari masyarakat.
Pada hari Senin, 24 Agustus 2026, saat rapat koordinasi penanganan karhutla di Palembang, Sumatra Selatan, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan gagasan penggunaan tepung ubi atau singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ide ini bermula dari laporan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengenai temuan inovasi zat pemadam dari tepung ubi oleh anggota Babinsa di Lubuklinggau. (Sekretariat Presiden Republik Indonesia, 2026).
Dengan istilah “Ubi Bombing”, gagasan tersebut kemudian mendapatkan perhatian sebagai alternatif dari water bombing (penyiraman air dari udara). Dalam sekejap, istilah Ubi Bombing menyebar luas dan menjadi sorotan publik. Namun alih-alih melihatnya sebagai formula pemadam kebakaran, istilah tersebut justru lebih mengundang berbagai reaksi dari masyarakat.
Permainan kata antara hutan, ubi, tepung, dan panasnya kebakaran membuat fenomena karhutla seolah berubah menjadi resep masakan raksasa. Hutan Kalimantan yang terbakar dibayangkan seperti adonan yang tinggal diberi tepung ubi, lalu “dimasak” ditengah panasnya api. Tak heran jika muncul berbagai candaan, seperti, “Hutan Kalimantan dikasih tepung ubi, kena panas, jadinya Bakwan Borneo atau Cireng Raksasa”. Bahkan, ada pula yang bergurau bahwa pemadam kebakaran tak perlu lagi membawa selang, melainkan cukup membawa “bawang putih, garam sama cabe rawit biar gurih”.
Lucu, memang. Namun, di balik candaan tersebut, terselip pertanyaan yang jauh lebih serius: benarkah pati singkong dapat membantu memadamkan kebakaran hutan?
Istilah “Ubi Bombing” bukan berarti tepung pati singkong biasa dijatuhkan ke kobaran api, tetapi merujuk pada bahan pemadam berbasis pati singkong yang telah di formulasikan secara khusus.
Berdasarkan laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), formulasi CASSA-P dikembangkan dengan memanfaatkan pati singkong sebagai bahan dasar pemadaman berbasis biomaterial yang dikombinasikan dengan air, wetting agent, dan senyawa fosfat seperti ammonium polyphosphate (APP).
Prinsip kerjanya sebenarnya cukup sederhana. Air tetap menjadi komponen utama untuk menyerap panas dan menurunkan suhu, sementara pati singkong membantu cairan lebih mudah menempel dan bertahan lebih lama pada permukaan vegetasi. Wetting Agent membantu cairan menyebar dan menembus permukaan vegetasi dengan lebih baik. Ketika terkena panas tinggi, senyawa fosfat kemudian membantu lapisan karbon (char) yang dapat menjadi penghalang terhadap panas dan kontak antara bahan bakar dengan oksigen. Dengan begitu, api tidak hanya didinginkan, tetapi penyebaran juga dapat diperlambat.
Dari sisi teknologi, gagasan ini tentu patut diperhitungkan. Penggunaan pati singkong sebagai bagian dari formulasi pemadaman menawarkan pendekatan yang berbeda bukan menggantikan air, tetapi membuat air lebih efektif dalam membasahi dan bertahan pada vegetasi.
Jika terbukti efektif di lapangan, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam penanganan kebakaran. Namun disinilah persoalan yang lebih besar muncul. Potensi tidak selalu berarti kesiapan, dan sebuah inovasi tidak serta-merta menjadi solusi hanya karena mampu bekerja dalam kondisi tertentu.
Karhutla di Kalimantan memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks daripada sekedar api yang membutuhkan pemadaman. Luas wilayah yang terbakar, kondisi lahan, vegetasi, cuaca, arah angin, hingga sulitnya akses lokasi menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “seberapa efektif Ubi Bombing memadamkan api?” tetapi juga “seberapa siap inovasi ini diterapkan dalam skala karhutla yang sebenarnya?” sebelum digunakan perlu dilakukan pengujian lapangan yang transparan untuk mengetahui seberapa luas area yang dapat ditangani, seberapa lama efeknya bertahan, bagaimana kinerjanya dalam kondisi cuaca dan kebakaran yang berbeda, serta efisiensi biaya produksinya.
Jangan sampai istilah “Ubi Bombing” hanya terdengar besar daripada kemampuan teknologinya sendiri. Inovasi dari sumber daya lokal tentu patut untuk diapresiasi, tetapi apresiasi tidak boleh menggantikan pembuktian dimana pemerintah perlu memastikan bahwa inovasi itu tidak hanya menarik untuk publik tetapi juga benar-benar efektif ketika berhadapan dengan kondisi nyata.
Pada akhirnya, Ubi Bombing bukanlah jawaban satu-satunya untuk karhutla di Kalimantan, tetapi menjadi sebuah inovasi yang layak diuji dan dikembangkan. Pemerintah tidak cukup hanya memperkenalkan efektivitas suatu teknologi, tetapi juga harus memastikan keamanan, efisiensi, serta penerapannya dalam kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, pengujian lapangan secara independen perlu dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak terkait seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai pengembang teknologi, Kementerian Kehutanan dalam aspek pengendalian karhutla, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai lembaga yang berperan dalam penanganan bencana. Melalui uji coba tersebut, efektivitas Ubi Bombing dapat dinilai berdasarkan data nyata sebelum diterapkan secara lebih luas.
“Karhutla tidak membutuhkan gagasan atau kata yang sekedar menarik, tetapi solusi yang benar-benar mampu bekerja.”
Lucu, memang. Namun, di balik candaan tersebut, terselip pertanyaan yang jauh lebih serius: benarkah pati singkong dapat membantu memadamkan kebakaran hutan?
Istilah “Ubi Bombing” bukan berarti tepung pati singkong biasa dijatuhkan ke kobaran api, tetapi merujuk pada bahan pemadam berbasis pati singkong yang telah di formulasikan secara khusus.
Berdasarkan laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), formulasi CASSA-P dikembangkan dengan memanfaatkan pati singkong sebagai bahan dasar pemadaman berbasis biomaterial yang dikombinasikan dengan air, wetting agent, dan senyawa fosfat seperti ammonium polyphosphate (APP).
Prinsip kerjanya sebenarnya cukup sederhana. Air tetap menjadi komponen utama untuk menyerap panas dan menurunkan suhu, sementara pati singkong membantu cairan lebih mudah menempel dan bertahan lebih lama pada permukaan vegetasi. Wetting Agent membantu cairan menyebar dan menembus permukaan vegetasi dengan lebih baik. Ketika terkena panas tinggi, senyawa fosfat kemudian membantu lapisan karbon (char) yang dapat menjadi penghalang terhadap panas dan kontak antara bahan bakar dengan oksigen. Dengan begitu, api tidak hanya didinginkan, tetapi penyebaran juga dapat diperlambat.
Dari sisi teknologi, gagasan ini tentu patut diperhitungkan. Penggunaan pati singkong sebagai bagian dari formulasi pemadaman menawarkan pendekatan yang berbeda bukan menggantikan air, tetapi membuat air lebih efektif dalam membasahi dan bertahan pada vegetasi.
Jika terbukti efektif di lapangan, teknologi ini berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam penanganan kebakaran. Namun disinilah persoalan yang lebih besar muncul. Potensi tidak selalu berarti kesiapan, dan sebuah inovasi tidak serta-merta menjadi solusi hanya karena mampu bekerja dalam kondisi tertentu.
Karhutla di Kalimantan memiliki karakteristik yang jauh lebih kompleks daripada sekedar api yang membutuhkan pemadaman. Luas wilayah yang terbakar, kondisi lahan, vegetasi, cuaca, arah angin, hingga sulitnya akses lokasi menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan. Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “seberapa efektif Ubi Bombing memadamkan api?” tetapi juga “seberapa siap inovasi ini diterapkan dalam skala karhutla yang sebenarnya?” sebelum digunakan perlu dilakukan pengujian lapangan yang transparan untuk mengetahui seberapa luas area yang dapat ditangani, seberapa lama efeknya bertahan, bagaimana kinerjanya dalam kondisi cuaca dan kebakaran yang berbeda, serta efisiensi biaya produksinya.
Jangan sampai istilah “Ubi Bombing” hanya terdengar besar daripada kemampuan teknologinya sendiri. Inovasi dari sumber daya lokal tentu patut untuk diapresiasi, tetapi apresiasi tidak boleh menggantikan pembuktian dimana pemerintah perlu memastikan bahwa inovasi itu tidak hanya menarik untuk publik tetapi juga benar-benar efektif ketika berhadapan dengan kondisi nyata.
Pada akhirnya, Ubi Bombing bukanlah jawaban satu-satunya untuk karhutla di Kalimantan, tetapi menjadi sebuah inovasi yang layak diuji dan dikembangkan. Pemerintah tidak cukup hanya memperkenalkan efektivitas suatu teknologi, tetapi juga harus memastikan keamanan, efisiensi, serta penerapannya dalam kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, pengujian lapangan secara independen perlu dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak terkait seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai pengembang teknologi, Kementerian Kehutanan dalam aspek pengendalian karhutla, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai lembaga yang berperan dalam penanganan bencana. Melalui uji coba tersebut, efektivitas Ubi Bombing dapat dinilai berdasarkan data nyata sebelum diterapkan secara lebih luas.
“Karhutla tidak membutuhkan gagasan atau kata yang sekedar menarik, tetapi solusi yang benar-benar mampu bekerja.”
Daftar pustaka
Badan Riset dan Inovasi Nasional. (2026, 28 Agustus). BRIN: Tepung singkong terbukti efektif memadamkan kebakaran hutan. Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi. Badan Riset dan Inovasi NasionalKementerian Kehutanan Republik Indonesia. (2026). Data rekapitulasi luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) wilayah Kalimantan. Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+). SiPongi Kemenhut
LKBN Antara. (2026, 28 Agustus). Indonesia studies cassava-based technology to fight land fires. Antara News. Antara News
Marlinda, O. (2026, 5 September). Tepung singkong efektif padamkan karhutla? BRIN ungkap hal tak terduga. CNBC Indonesia
Radityo, A. (2026, 31 Agustus). Membongkar cara kerja ubi bombing untuk padamkan karhutla. Tirto.id
Sekretariat Presiden Republik Indonesia. (2026, 24 Agustus). Presiden Prabowo dorong terobosan baru penanganan karhutla, dari waterbombing hingga “ubi bombing”. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden. Situs Resmi Presiden Republik Indonesia
Zuhdi, M. (2026, 25 Agustus). Prabowo dorong penggunaan tepung ubi untuk padamkan karhutla. Tempo.co.
Profil Penulis
Khayla Angel Maulida Erwanti, mahasiswa aktif Jurusan Keperawatan, Program Studi S1 Keperawatan di Universitas Airlangga (UNAIR). Di sela kesibukannya menjadi seorang mahasiswa kesehatan di UNAIR dan Gen Z, ia aktif mengamati fenomena sosial dan kebijakan sosial yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial. Artikel opini ini ditulis sebagai bentuk respons kritik dan kepeduliannya terhadap isu lingkungan hidup serta penanganan bencana karhutla di Indonesia.
