GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Ketika 38 Anak Kecil Mengubah Sabtu Pagi di Girirejo Menjadi Lebih dari Sekadar Acara

Penyerahan paket bantuan belajar kepada peserta Program BERGEMA sebagai bentuk dukungan terhadap akses pendidikan anak-anak dari keluarga rentan.

Suara Time, Purworejo, 6 Juni 2026
— Pagi itu, halaman TK Permata Hati di Girirejo bukan sekadar halaman sekolah biasa. Di sana, ada 38 anak kecil yang berlarian, tertawa, dan untuk sesaat melupakan bahwa sebagian besar dari mereka tumbuh tanpa kedua orang tua di sisi.

Mereka adalah anak-anak dari keluarga petani, buruh tani, buruh pabrik, dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang kini diasuh oleh kakek dan nenek mereka. Anak-anak yang terlalu dini belajar bahwa mencari nafkah tidak selalu membiarkan orang tua ada di dekat mereka.

Tapi pada Sabtu pagi ini, yang datang bukan hanya semangat bermain. Yang datang adalah harapan dalam bentuk program BERGEMA: Berbagi, Bergerak, Bersama.

Lebih dari Sekadar Acara

Program Bergema digagas oleh Ibu Profesional, sebuah komunitas perempuan yang bergerak di bidang pemberdayaan keluarga, dengan dukungan penuh dari The Human Safety Net (THSN), Hearthfull Connection dan Moorra Goat Milk. Untuk edisi Purworejo, TK Permata Hati Girirejo terpilih sebagai tuan rumah sebuah kehormatan yang dirasakan langsung oleh Kepala Sekolah, Ibu Situ Wahyu Nuryani, S.H., S.Psi.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas terpilihnya TK Permata Hati sebagai sasaran pelaksanaan Bergema Purworejo," ujar Ibu Situ dalam sambutannya. Kalimatnya sederhana, tapi matanya bercerita lebih.

Hari itu, 27 murid dari TK Permata Hati bergabung bersama 11 murid dari PAUD Kentengharjo. Bersama-sama, mereka menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar acara seremonial.

Ketika Tawa Anak dan Langkah Orang Tua Menjadi Satu

Acara dibuka bukan dengan pidato panjang, melainkan dengan sesuatu yang lebih jujur: permainan.

Anak-anak dan orang tua berbaur dalam permainan gerak ringan yang membahagiakan — sebuah cara halus untuk meruntuhkan sekat, mencairkan kekakuan, dan mengingatkan semua orang bahwa ada kalanya yang dibutuhkan bukan ceramah, melainkan tawa bersama.

Kemeriahan semakin menggelora saat dance Beebo dan Homi dimulai. Kaki-kaki kecil bergerak lincah, dan yang paling mengharukan orang tua pun ikut bergerak. Sebuah pemandangan yang jarang terjadi: ketika dunia orang dewasa yang berat sesaat runtuh, digantikan oleh kegembiraan murni seorang anak.

"Pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita ajarkan kepada anak, tapi tentang apa yang kita tunjukkan kepada mereka setiap hari."

Donasi yang Lebih dari Materi

Salah satu momen paling bermakna datang ketika Sekretaris Jendral Ibu Profesional, Hamidah Rina Mantiri, secara simbolis menyerahkan donasi dan learning kids paket bantuan belajar kepada anak-anak, yang diterima oleh Ibu Sri, salah satu guru TK Permata Hati.

Sebuah prosesi simbolis, ya. Tapi di balik simbolisme itu ada kenyataan yang tidak bisa diabaikan.

Mengapa bantuan pendidikan untuk keluarga rentan itu penting?

Data dari UNESCO menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah memiliki kemungkinan 40% lebih kecil untuk menyelesaikan pendidikan dasar dibandingkan anak dari keluarga mampu. Sementara penelitian dari Bank Dunia menegaskan bahwa setiap satu tahun tambahan pendidikan berkualitas dapat meningkatkan penghasilan seseorang di masa depan hingga 10%.

Bagi anak-anak yang ayah atau ibunya bekerja jauh sebagai TKI di luar negeri, sebagai buruh pabrik dengan shift panjang, atau sebagai petani yang bergulat dengan musim akses terhadap stimulasi belajar yang menyenangkan bukan kemewahan. Itu adalah jembatan menuju masa depan yang lebih adil.

Dua Sesi, Satu Tujuan

Acara kemudian terbagi menjadi dua sesi yang berjalan bersamaan membuktikan bahwa Bergema dirancang bukan hanya untuk anak, tapi untuk seluruh ekosistem keluarga.

Untuk Para Ibu: "Semua Anak Adalah Bintang"

Dipandu oleh Retno Dwi dari Ibu Profesional Yogyakarta, sesi orang tua membawa pesan yang sederhana namun mengguncang: setiap anak adalah bintang dengan cahayanya sendiri.

Para ibu (dan ayah) diajak untuk berhenti sejenak dari kebiasaan membandingkan. Berhenti berkata, "Lihat, anak Bu A sudah bisa ini." Berhenti mengecilkan, berhenti menghakimi. Dan mulai menggali kelebihan anak mereka sendiri.

Ini bukan sekadar seminar parenting biasa. Bagi orang tua yang sudah lelah dengan beban ekonomi dan jarak yang memisahkan, pengingat seperti ini bisa menjadi titik balik.

Untuk Anak-Anak: Tiga Pos Kegembiraan

Sementara orang tua merenung, anak-anak justru bergerak. Mereka menjelajahi tiga pos yang masing-masing menyimpan kejutan:

Pos 1 — Mewarnai Tas: Bukan sekadar mewarnai. Di sini, tidak ada jawaban yang salah. Setiap goresan krayon adalah ekspresi imajinasi anak yang terlalu sering dikekang oleh keterbatasan dibebaskan lewat warna.

Pos 2 — Read Aloud: Anak-anak dibacakan buku dengan suara nyaring dan penuh ekspresi. Read aloud bukan sekadar hiburan. Riset menunjukkan bahwa anak yang sering diajak mendengarkan cerita sejak dini memiliki kemampuan bahasa, empati, dan imajinasi yang jauh lebih kaya bekal tak ternilai untuk tumbuh di dunia yang semakin kompleks.

Pos 3 — Permainan Tradisional (Engklek): Di era layar sentuh dan konten digital, anak-anak ini diajak bermain engklek. Sebuah langkah kecil untuk merawat warisan budaya yang perlahan terkikis sekaligus melatih koordinasi, konsentrasi, dan kemampuan bermain bersama.

Ketika Ekspektasi Terlampaui

Usai kedua sesi, semua berkumpul kembali di aula. Dan di sinilah momen paling jujur terjadi: testimoni.

Satu per satu, peserta berbagi. Dan yang muncul bukan sekadar ucapan terima kasih formal melainkan kejutan.

"Awalnya ekspektasinya hanya ikut kegiatan saja. Ternyata yang didapatkan itu lebih," begitu yang terungkap dari para peserta. Sebuah kalimat kecil yang menyimpan makna besar bahwa seringkali, yang kita butuhkan sudah lebih dari yang kita bayangkan kita butuhkan.

Kiki, murid TK B dari TK Permata Hati, tak punya kata-kata yang rumit. Matanya berbinar saat bercerita: "Senang sekali. Banyak bermain dan dapat hadiah."

Sesederhana itu. Dan sesederhana itu pula cara anak-anak mengukur kebahagiaan bukan dengan besarnya bantuan, tapi dengan hangatnya perhatian.

Bapak Yadi Basuki, ayah dari salah satu siswa, menyampaikan harapannya dengan tulus: "Acara ini sangat bermanfaat dan membuat senang. Saya harap kegiatan seperti ini sering diadakan."

Bergerak Bersama, Karena Sendiri Tidak Cukup

"Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama." Pepatah Afrika

Bergema Berbagi, Bergerak, Bersama bukan sekadar nama program. Ia adalah filosofi. Bahwa perubahan tidak datang dari satu tangan yang memberi, melainkan dari banyak tangan yang bergerak searah.

The Human Safety Net percaya bahwa setiap manusia berhak atas kehidupan yang bermartabat. Dan Ibu Profesional percaya bahwa perubahan dimulai dari keluarga dari ibu yang sadar, dari anak yang merasa dilihat, dari komunitas yang tidak membiarkan siapa pun tertinggal sendirian.

Di Girirejo, pada Sabtu pagi yang cerah itu, 38 anak kecil dan puluhan orang tua membuktikan bahwa kepercayaan itu bukan hanya teori.

Itu adalah kenyataan yang berlangsung selama beberapa jam, tapi bekasnya mungkin bertahan jauh lebih lama.

Program Bergema (Berbagi, Bergerak, Bersama) merupakan inisiatif Ibu Profesional yang didukung penuh oleh The Human Safety Net (THSN), bertujuan memberikan bantuan pendidikan dan pemberdayaan keluarga bagi komunitas rentan di Indonesia.

Ibu Profesional Yogyakarta
@ibuprofesionalyogyakarta

Type above and press Enter to search.