GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Diare pada Anak Masih Tinggi: Saatnya Pencegahan Menjadi Gerakan Bersama

Ilustrasi - (Foto: AI). 

Suara Time, Kolom - Di tengah pesatnya pembangunan sektor kesehatan, diare akut masih menjadi persoalan yang sering dianggap sepele. Padahal, penyakit ini tetap menjadi salah satu penyebab utama gangguan kesehatan pada anak-anak di Indonesia. Kasus diare bukan sekadar persoalan medis, melainkan cerminan kondisi sanitasi, perilaku hidup bersih, dan kualitas lingkungan tempat masyarakat tinggal.

Data surveilans di wilayah kerja Puskesmas Satu Ulu, Kota Palembang, menunjukkan terdapat 117 kasus diare akut selama periode Juli hingga September 2025. Angka tersebut memang tidak menunjukkan kondisi luar biasa, tetapi cukup menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit yang disebabkan oleh lingkungan masih ada di sekitar kita. Yang lebih memprihatinkan, kelompok usia 1–5 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terdampak.

Hal ini seharusnya mendorong kita untuk melihat diare dari perspektif yang lebih luas. Selama ini, perhatian sering kali diberikan ketika seseorang sudah sakit. Padahal, akar persoalan justru berada pada aspek pencegahan. Diare muncul akibat kombinasi berbagai faktor, mulai dari kualitas air bersih yang belum optimal, sanitasi yang kurang memadai, pengelolaan sampah yang belum baik, hingga kebiasaan hidup yang belum sepenuhnya sehat.

Anak usia balita merupakan kelompok yang paling rentan. Pada usia tersebut, rasa ingin tahu yang tinggi sering kali tidak diimbangi dengan kemampuan menjaga kebersihan diri. Mereka mudah memasukkan tangan atau benda ke dalam mulut, sementara daya tahan tubuhnya masih dalam tahap perkembangan. Karena itu, peran keluarga menjadi sangat penting dalam membangun kebiasaan hidup bersih sejak dini.

Sayangnya, masih banyak keluarga yang menganggap kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun sebagai hal yang tidak terlalu penting. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik mencuci tangan dengan benar merupakan salah satu intervensi paling efektif dalam mencegah penyakit diare. Kebiasaan sederhana ini bahkan mampu menyelamatkan lebih banyak anak dibandingkan berbagai upaya pengobatan yang dilakukan setelah penyakit muncul.

Perbedaan jumlah kasus yang ditemukan antara Kelurahan 1 Ulu dan Kelurahan 2 Ulu juga memberikan pelajaran penting. Penyakit tidak muncul dalam ruang hampa. Lingkungan tempat masyarakat tinggal sangat memengaruhi risiko kesehatan. Kepadatan permukiman, akses terhadap air bersih, kondisi saluran pembuangan, hingga budaya hidup masyarakat menjadi faktor yang saling berkaitan. Karena itu, pendekatan penanganan diare tidak bisa disamaratakan. Setiap wilayah memerlukan strategi yang sesuai dengan karakteristik lingkungannya.

Dalam konteks ini, pencegahan diare tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Puskesmas memang memiliki peran sentral dalam edukasi dan pemantauan kesehatan masyarakat. Namun, keberhasilan pencegahan sangat ditentukan oleh keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga keluarga. Upaya promotif dan preventif harus menjadi gerakan kolektif, bukan sekadar program rutin yang berlangsung sesaat.

Indonesia sebenarnya memiliki banyak program kesehatan masyarakat yang cukup baik. Tantangannya terletak pada konsistensi pelaksanaan dan perubahan perilaku. Masyarakat sering kali baru menyadari pentingnya sanitasi ketika penyakit sudah menyerang. Padahal, investasi terbesar dalam kesehatan justru terletak pada upaya mencegah penyakit sebelum terjadi.

Kasus diare yang masih ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Satu Ulu menjadi pengingat bahwa pekerjaan rumah di bidang kesehatan lingkungan belum selesai. Di tengah berbagai tantangan kesehatan yang semakin kompleks, kita tidak boleh melupakan penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui langkah sederhana. Menjaga kebersihan tangan, memastikan keamanan makanan dan air minum, serta menciptakan lingkungan yang sehat bukanlah tanggung jawab individu semata, melainkan tanggung jawab bersama.

Pada akhirnya, keberhasilan menekan angka diare bukan hanya diukur dari berkurangnya jumlah pasien di fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika perilaku hidup bersih dan sehat menjadi budaya yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sebab, kesehatan yang berkelanjutan selalu dimulai dari pencegahan yang dilakukan bersama.


*) Penulis adalah Esti Sri Ananingsih, Ayu Febri Wulanda, Marshella Rui Utami, Dea Silvia, Caroline Dwi Nanda Putri, dan Anisa Pratiwi, Mahasiswi Program Studi D-III Pengawasan Epidemiologi, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Palembang. 

Type above and press Enter to search.