GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Implementasi Kebijakan Bersosial Media untuk Mengurangi Dampak Negatif pada Siswa SMAN 1 Ciruas

Sejumlah mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang di SMAN 1 Ciruas. (Foto: Dok/Ist).

Suara Time, Kolom - Ada pemandangan menarik di salah satu ruang kelas SMAN 1 Ciruas belakangan ini. Sejumlah mahasiswa Program Studi Administrasi Negara Universitas Pamulang serang yang tergabung dalam Kelompok 17 berkumpul bersama para siswa untuk membedah realita dunia digital. Didampingi oleh dosen pembimbing, Nindi Riyan Gustin, S.A.P., M.A.P., para mahasiswa ini hadir melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) untuk memberikan edukasi praktis mengenai cara berinteraksi di media sosial yang sehat. Penyerahan plakat di akhir acara pun menjadi simbol kuat dimulainya kolaborasi antara akademisi dan sekolah dalam membentengi generasi muda dari risiko siber.

Satu pesan penting yang ditekankan dalam sosialisasi ini adalah bahwa setiap unggahan, komentar, dan interaksi di internet memiliki konsekuensi hukum dan sosial. Tim PKM menjelaskan bahwa memahami aturan main di medsos itu ibarat punya "rem" agar remaja tidak terjerumus ke dalam perilaku negatif seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, hingga kecanduan gadget. Terutama bagi siswa di SMAN 1 Ciruas, kendali diri ini sangat krusial karena di usia remaja, emosi sering kali lebih cepat bertindak daripada logika saat melihat hal-hal yang sedang viral.

Upaya yang dilakukan mahasiswa di bawah arahan Ibu Nindi Riyan Gustin ini merupakan contoh nyata bagaimana kebijakan publik dibawa langsung ke masyarakat. Sebuah aturan negara tidak akan efektif jika hanya tersimpan dalam lembaran dokumen tanpa dijelaskan kepada masyarakat luas. Dengan merangkul siswa SMA, para mahasiswa membantu menerjemahkan regulasi yang sering dianggap kaku seperti UU ITE menjadi panduan perilaku yang gampang dijalankan sehari-hari. Ini membuktikan bahwa perlindungan terbaik di dunia digital harus dimulai dari pencegahan melalui edukasi, bukan sekadar hukuman setelah masalah terjadi.

Jika dilihat lebih luas, fenomena di SMAN 1 Ciruas ini mencerminkan tantangan besar bangsa Indonesia dalam menghadapi era digital yang semakin rumit. Dampak negatif media sosial bukan lagi urusan pribadi, melainkan masalah sosial yang bisa mengancam moral generasi penerus. Tanpa literasi digital yang kuat, potensi besar anak muda kita justru bisa terhambat akibat penurunan etika dan produktivitas di ruang digital.


*) Penulis adalah Rizki Dwi Febriansyah, Mahasiswa Administrasi Negara Universitas Pamulang Serang.

Type above and press Enter to search.