| Ilustrasi guru mengajar anak usia dini dengan metode belajar dan bermain. (Sumber: Generated AI). |
Suaratime, Opini - Masih ada anggapan bahwa menjadi guru PAUD itu mudah karena kegiatannya hanya bermain bersama anak-anak. Anak datang, bermain, bernyanyi, menggambar, lalu pulang. Menurut saya, anggapan seperti ini perlu diluruskan. Justru di balik kegiatan yang terlihat sederhana tersebut, ada proses pendidikan yang sangat penting. Dari sinilah saya melihat bahwa PGPAUD mempunyai kontribusi yang besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
PGPAUD Bukan Hanya Belajar Tentang Bagaimana Cara Mengajar Anak Usia Dini.
Di dalamnya kita belajar memahami perkembangan anak, mengenali karakter mereka, membuat kegiatan yang sesuai dengan usia, sampai memikirkan bagaimana sebuah permainan bisa memberikan pengalaman belajar. Jadi, ketika seorang guru mengajak anak bermain, sebenarnya guru tersebut sedang mempunyai tujuan tertentu.
Saya sendiri melihat bahwa anak usia dini adalah masa ketika anak sedang banyak-banyaknya ingin tahu. Mereka sering bertanya tentang hal-hal sederhana yang terkadang justru membuat kita sebagai orang dewasa berpikir. Mereka ingin mencoba, menyentuh, bergerak, dan mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Kalau rasa ingin tahu tersebut diarahkan dengan baik, anak akan mempunyai dasar yang kuat untuk terus belajar.
Menurut saya, di sinilah tantangan seorang guru PAUD. Guru tidak bisa hanya berdiri di depan kelas dan menjelaskan materi seperti kepada siswa yang lebih besar. Anak usia dini membutuhkan kegiatan yang membuat mereka terlibat secara langsung. Misalnya, ketika belajar tentang warna, anak bisa diajak mencampurkan warna. Ketika belajar tentang lingkungan, anak bisa diajak melihat tanaman di sekitar sekolah. Ketika belajar tentang bekerja sama, anak bisa melakukan permainan kelompok.
Kegiatan-kegiatan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sana anak belajar banyak hal. Anak belajar berpikir, berkomunikasi, menunggu giliran, bekerja sama, menyelesaikan masalah, bahkan belajar mengendalikan emosinya. Bagi saya, kemampuan seperti ini tidak kalah penting dibandingkan kemampuan membaca dan berhitung.
Hal yang menarik adalah pendidikan anak usia dini sebenarnya tidak hanya terjadi di sekolah. Rumah juga mempunyai pengaruh yang besar. Anak bisa belajar dari cara orang tua berbicara, cara orang tua menyelesaikan masalah, kebiasaan di rumah, dan bagaimana orang tua memberikan perhatian. Karena itu, guru PAUD menurut saya tidak bisa bekerja sendiri. Guru dan orang tua harus saling bekerja sama.
Di sinilah mahasiswa PGPAUD juga mempunyai peran. Selama kuliah, kita tidak seharusnya hanya mengejar nilai atau menyelesaikan tugas. Pengalaman observasi dan praktik di lapangan seharusnya menjadi kesempatan untuk memahami keadaan anak yang sebenarnya. Kita bisa melihat bahwa setiap anak mempunyai karakter yang berbeda. Ada anak yang mudah bergaul, ada yang pemalu, ada yang aktif sekali, dan ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi.
Pengalaman tersebut penting karena teori yang kita pelajari di kampus belum tentu langsung sama ketika diterapkan di lapangan. Menurut saya, calon guru justru perlu belajar dari perbedaan tersebut. Guru yang baik bukan guru yang membuat semua anak harus sama, tetapi guru yang mampu membantu setiap anak berkembang sesuai dengan kemampuannya.
Kontribusi PGPAUD Juga Semakin Penting Jika Melihat Kondisi Pendidikan Anak Usia Dini Di Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Angka Partisipasi Sekolah anak usia 5–6 tahun pada 2024 mencapai 74,15 persen. Artinya, masih ada anak yang belum mendapatkan kesempatan mengikuti pendidikan pada usia tersebut. Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa pendidikan anak usia dini masih membutuhkan perhatian dari berbagai pihak.
Tidak cukup hanya menambah jumlah lembaga PAUD. Kualitas guru juga harus diperhatikan. Percuma jika anak mendapatkan tempat belajar, tetapi pendidiknya belum mempunyai kemampuan yang cukup untuk memahami kebutuhan anak. Karena itu, menurut saya, peningkatan kualitas mahasiswa dan lulusan PGPAUD harus menjadi salah satu perhatian penting.
Salah satu caranya adalah memperbanyak pengalaman praktik bagi mahasiswa. Mahasiswa perlu diberikan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan anak, membuat kegiatan pembelajaran, melakukan observasi, dan mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan. Dengan begitu, ketika lulus nanti, mereka tidak hanya membawa teori dari kampus, tetapi juga mempunyai pengalaman menghadapi kondisi nyata.
Saya juga berpikir bahwa teknologi bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa PGPAUD untuk menjadi lebih kreatif. Banyak media pembelajaran yang bisa dibuat dengan bantuan teknologi. Namun, penggunaan teknologi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Jangan sampai teknologi justru membuat anak hanya duduk diam melihat layar. Anak tetap membutuhkan bermain, bergerak, berbicara, dan berinteraksi secara langsung.
Pada akhirnya, mencerdaskan kehidupan bangsa tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa jadi, proses tersebut dimulai dari seorang guru yang sabar menemani satu anak belajar mengenal warna, membantu anak yang awalnya tidak berani berbicara, atau mengajarkan seorang anak untuk berbagi dengan temannya.
Bagi saya, itulah salah satu bentuk nyata kontribusi PGPAUD. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat dalam waktu singkat. Namun, anak-anak yang hari ini kita dampingi adalah generasi yang nantinya akan tumbuh dan mengambil peran di masyarakat. Jadi, menurut saya, PGPAUD bukanlah jurusan yang sekadar mempersiapkan seseorang untuk “bermain dengan anak-anak”. PGPAUD mempersiapkan calon pendidik untuk membangun dasar perkembangan manusia sejak awal. Jika dasar tersebut diberikan dengan baik, maka kita bukan hanya sedang mendidik anak, tetapi juga sedang ikut mempersiapkan masa depan bangsa.
Penulis: Aurel Bhilqis El Shirazy -
Universitas Negeri Yogyakarta