![]() |
| Ilustrasi Konten |
Penulis : Nelsa Amalia, Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang
Suaratime, Opini - Dua tahun bukan
waktu yang lama untuk sebuah smartphone, tetapi cukup lama bagi baterainya
untuk mulai ‘ngambek’. Itulah yang dialami Raka, seorang mahasiswa yang
sebetulnya baik-baik saja dengan ponsel lamanya. Ia masih bisa kuliah daring,
mengetik tugas, dan chatting dengan lancar. Tidak ada rencana ganti HP. Tidak
ada anggaran yang disiapkan. Sampai suatu sore, scroll di TikTok berubah
menjadi awal dari sebuah keputusan besar.
Kisah ini
sebenarnya sangat akrab bagi kita semua. Bukan cerita tentang kebutuhan
mendesak, melainkan tentang bagaimana sebuah kebutuhan bisa ‘diciptakan’ hanya
dari satu video berdurasi lima belas detik.
Ketika Algoritma Lebih Tahu Apa yang Kita Mau
Video yang
dilihat mahasiswa tersebut menampilkan hasil jepretan kamera sebuah smartphone
terbaru: tajam, cerah, sinematik. Ia tidak sedang mencari HP baru saat itu,
tetapi konten tersebut berhasil menanamkan satu pertanyaan kecil di kepalanya:
“kalau HP-ku bisa motret seperti itu, keren juga ya?”
Inilah yang oleh
para ahli pemasaran disebut sebagai tahap pengenalan kebutuhan (need
recognition) momen ketika seseorang mulai menyadari adanya jarak antara kondisi
yang ia miliki sekarang dan kondisi yang ia inginkan. Yang menarik, jarak itu
bukan muncul dari dalam diri konsumen, melainkan disuntikkan dari luar, lewat
sebuah konten yang bahkan tidak ia cari.
Marketplace, Review, dan Satu Chat ke Teman
Begitu rasa
penasaran itu muncul, mahasiswa tersebut tidak langsung membeli. Ia membuka
marketplace, membandingkan tiga merek, dan membaca satu per satu ulasan dari
pembeli lain. Proses ini adalah bentuk pencarian informasi yang sangat khas
anak muda zaman sekarang: bukan lagi bertanya ke sales di toko, melainkan ke
ribuan orang asing yang pernah membeli produk yang sama.
Tidak berhenti
di situ, Mahasiswa tersebut juga mengirim beberapa tautan produk ke temannya.
“menurut lo bagusan yang mana?” pertanyaan sederhana yang ternyata punya bobot
besar. Sang teman menjawab satu produk unggul di kamera dan sedang ada
cashback. Dua informasi kecil ini pada akhirnya menjadi penentu arah keputusan
konsumen tersebut.
Godaan Cashback dan Kemenangan Kamera
Setelah
membandingkan harga, spesifikasi, ulasan, dan promo selama beberapa hari,
mahasiswa tersebut akhirnya menjatuhkan pilihan. Ini bukan keputusan impulsif —
butuh waktu, pertimbangan, bahkan diskusi. Tetapi karena ketiga merek yang
dibandingkan sebenarnya tidak jauh berbeda, keputusan konsumen tersebut lebih
banyak ditentukan oleh detail-detail kecil: kamera yang sedikit lebih bagus,
dan promo yang membuat harga terasa lebih masuk akal.
Puas... tapi Kok Ada yang Mengganjal?
Sebulan berlalu.
mahasiswa tersebut senang dengan hasil jepretan kameranya — ekspektasinya soal
foto dan video terpenuhi. Namun rasa puas itu retak sedikit ketika ia tak
sengaja menemukan produk kompetitor dengan spesifikasi mirip, tapi harganya
lebih murah.
Muncul rasa
tidak nyaman: apakah keputusannya sudah benar? Perasaan inilah yang dalam ilmu
perilaku konsumen disebut disonansi kognitif — keraguan yang muncul setelah
pembelian, biasanya dipicu oleh informasi baru yang seolah membantah pilihan
yang sudah dibuat. Ironisnya, disonansi ini justru sering muncul pada pembelian
yang sudah dipikirkan matang-matang, bukan pada pembelian yang asal-asalan.
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Kasus Ini?
Kasus ini
menunjukkan tiga hal penting. Pertama, kebutuhan di era digital bisa lahir dari
layar kecil di genggaman, bukan hanya dari kerusakan atau keusangan barang
lama. Kedua, keputusan pembelian yang tampak individual sebenarnya melibatkan
banyak pihak — kreator konten, ulasan orang asing, hingga opini teman dekat.
Ketiga, rasa puas setelah membeli bukan akhir dari cerita; ia bisa goyah kapan
saja begitu ada perbandingan baru yang muncul.
Bagi kita yang
hampir setiap hari menggulir TikTok atau Instagram, kisah ini barangkali adalah
cermin. Pertanyaannya bukan lagi “apakah kita butuh barang ini?”, melainkan
“apakah rasa butuh ini benar-benar milik kita, atau sekadar titipan dari video
yang lewat tiga detik yang lalu?”
.jpeg)