![]() |
| Kegiatan Pengabdian Membangun Resiliensi Masyarakat Desa Sumbermujur, Sumber: Dokumentasi Pribadi |
LUMAJANG — Kepastian mendapatkan layanan kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang penting dalam pengabdian kepada masyarakat Departemen Antropologi, FISIP Universitas Airlangga (UNAIR), di Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Bersama Gerbangmas, tim pengabdian menggali pengalaman warga penyintas erupsi Semeru dalam mencari pengobatan dan mengakses perlindungan kesehatan.
Kegiatan pada 16–17 Oktober 2026 tersebut menggunakan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) dengan teknik photo elicitation. Gambar digunakan sebagai pemantik agar peserta dapat menghubungkan pembahasan dengan pengalaman sehari-hari. Sebanyak 24 peserta, terdiri atas penyintas, warga desa, dan kader, terlibat dalam kegiatan ini.
Pengabdian yang diketuai oleh Rizky Sugianto Putri tersebut melaksanakan flagship mandatori perguruan tinggi melalui program IMPACTA (Integrated Multi-Partner Action, Collaboration, and SDGs Acceleration). Kegiatan ini diselenggarakan melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat Desa Binaan Universitas Airlangga Tahun 2026. Dengan mengangkat SDG ke-9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, kegiatan ini menyoroti pentingnya ketahanan infrastruktur layanan yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan masyarakat pascabencana.
Mendengar Pengalaman Warga dan Kader
Dalam diskusi, peserta menyampaikan ketidakpastian saat menggunakan kepesertaan BPJS untuk berobat. Pengalaman tersebut memperlihatkan kebutuhan akan informasi yang mudah dipahami mengenai status kepesertaan, persyaratan pelayanan, dan langkah penyelesaian ketika warga menghadapi kendala.
![]() |
| Proses FGD dengan Kelompok GERBANGMAS, Sumber: Dokumentasi Pribadi |
Kader juga membagikan pengalaman mendampingi warga penyandang disabilitas. Pendampingan tidak berhenti pada mengantar warga menuju fasilitas kesehatan, tetapi juga mencakup upaya memahami persyaratan dan mencari penjelasan mengenai administrasi pembiayaan.
Sebagian pengalaman yang disampaikan menggambarkan beban keluarga saat harus membayar pengobatan secara mandiri. Kondisi ini membuat kepastian perlindungan kesehatan menjadi persoalan yang berkaitan erat dengan keberlangsungan kehidupan rumah tangga.
Bagi penyintas yang mengalami perpindahan tempat tinggal, kesinambungan data menjadi perhatian tersendiri. Perubahan alamat perlu diikuti dengan pembaruan catatan administrasi agar warga tetap dapat dijangkau oleh layanan dan memperoleh informasi mengenai hak serta kebutuhannya.
Diskusi juga membahas pengelompokan kesejahteraan berdasarkan desil. Peserta mengungkapkan pertanyaan mengenai hubungan antara hasil pendataan, kondisi keluarga, dan akses bantuan. Temuan ini menunjukkan perlunya saluran penjelasan dan perbaikan data yang dapat digunakan warga.
Melalui FGD, tim pengabdian menyusun pemetaan persoalan sebagai dasar pendampingan selanjutnya. Pendekatan antropologi menghubungkan pengalaman mencari pertolongan dengan kondisi tempat tinggal, hubungan sosial, serta proses administrasi yang dihadapi warga.
Memperkuat Jembatan Menuju Pelayanan
Gerbangmas memiliki peran penting karena kader mengenal kehidupan warga dan dapat membantu mengidentifikasi keluarga yang membutuhkan pendampingan. Kedekatan tersebut menjadi modal untuk menjembatani komunikasi antara masyarakat dan penyelenggara layanan.
Hasil diskusi mengarahkan perhatian pada perlunya koordinasi antara pemerintah desa, layanan kesehatan, dinas sosial, dinas kependudukan, dan BPJS Kesehatan. Penelusuran secara individual diperlukan untuk mengetahui kendala setiap keluarga, memeriksa kesesuaian data, serta menentukan tindak lanjut melalui lembaga yang berwenang.
![]() |
| Proses FGD dengan Kelompok GERBANGMAS, Sumber: Dokumentasi Pribadi |
Perpindahan tempat tinggal sendiri tidak serta-merta menjelaskan penyebab kepesertaan nonaktif. Karena itu, pemetaan menjadi pintu masuk untuk menelusuri persoalan secara lebih tepat, berdasarkan status dan pengalaman pelayanan masing-masing warga.
Dukungan terhadap kader juga menjadi bagian dari arah pendampingan. Jalur koordinasi, petugas yang dapat dihubungi, dan informasi perkembangan penanganan akan membantu kader menjalankan perannya secara lebih terarah.
Melalui IMPACTA, pengabdian ini menghasilkan dasar perencanaan yang bertumpu pada pengalaman masyarakat. Pemetaan kebutuhan membuka ruang bagi perguruan tinggi, Gerbangmas, dan pemangku kepentingan untuk merancang dukungan yang relevan bagi penyintas Semeru.
Pemulihan masyarakat membutuhkan layanan yang terus menjangkau warga saat kondisi hidup mereka berubah. Dari Sumbermujur, kolaborasi tersebut dimulai dengan mendengarkan pengalaman warga dan menjadikannya landasan untuk menyusun langkah pendampingan.


