![]() |
| Jerrica Idelia, mahasiswa Universitas Ciputra (UC). (Foto: Dok/Ist). |
Karya Jerrica terinspirasi dari
dreamy pink cave, visual yang mempertemukan kegelapan dan cahaya. Dari
inspirasi tersebut, ia membangun cerita mengenai perjalanan seseorang melewati
keadaan sulit hingga menemukan kembali harapan dan pertumbuhan.
Tak hanya kain, Jerrica
memanfaatkan tutup botol bekas yang diolah menjadi embellishment. Material yang
sebelumnya dianggap tidak bernilai tersebut digunakan untuk merepresentasikan
proses transformasi dari sesuatu yang terbuang menjadi bagian yang justru
memperkuat estetika busana.
Kain korden juga mendapat
perlakuan eksperimental melalui teknik slashing, patchwork, dan fabric origami.
Slashing menggambarkan cahaya yang menembus kegelapan, sementara patchwork
menjadi simbol menyatukan kembali bagian-bagian yang sebelumnya terasa tidak
utuh. Bentuk bunga dari fabric origami melambangkan proses blooming atau
pertumbuhan.
“Saya ingin menyampaikan bahwa
meskipun seseorang sedang berada dalam keadaan sulit atau gelap, tetap ada
kesempatan untuk tumbuh, berubah, dan menemukan keindahan dalam dirinya sendiri,”
ujar Jerrica.
Menurut Christina Tanujaya, dosen
Universitas Ciputra, penggunaan material sisa memberi tantangan tersendiri bagi
mahasiswa karena kreativitas tidak dimulai dari bahan yang serba ideal.
“Ketika mahasiswa bekerja dengan
material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, mereka belajar melihat
potensi, bukan keterbatasannya. Di situlah kreativitas dan kemampuan problem
solving dalam desain benar-benar terasah,” ungkap Christina.
Fabio Ricardo Toreh, dosen
Universitas Ciputra, menilai kekuatan karya Jerrica terletak pada keberaniannya
mengeksplorasi material yang tidak lazim sekaligus tetap mempertahankan
keterkaitan antara teknik dan konsep.
“Yang menarik dari karya Jerrica
adalah bagaimana material yang sederhana, bahkan dianggap limbah, tidak hanya
dijadikan ornamen. Tutup botol dan kain sisa justru diolah menjadi bagian dari
bahasa visual karya. Eksplorasi tekniknya membuat material tersebut memiliki
karakter dan nilai yang sama sekali baru,” jelas Fabio.
Dengan demikian, Fractured Elegance tidak hanya berbicara mengenai daur ulang material, tetapi juga memperlihatkan bagaimana proses desain mampu mengubah persepsi terhadap benda yang semula dianggap tidak bernilai.
