GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Bencana Di Semenanjung Nusantara, Ada Apa Dengan Indonesia?

Ilustrasi Bencana

Suaratime, Opini - Di balik lanskap megah dan tanah subur yang membentang dari Sumatera hingga Papua, Nusantara berdiri di atas bom waktu geologis. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 120 gunung berapi aktif, menjadikannya zona Ring of Fire paling padat di dunia. Bukan itu saja Indonesia berdiri diatas wilayah tempat bertemu nya tiga lempeng tektonik raksasa yang mana membuat frekuensi gempa yang sangat tinggi.

Ancaman vulkanik bukan lagi sekadar cerita fiksi geologi bagi pusat pemerintahan dan ekonomi Indonesia. Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi bukti nyata betapa Jabodetabek sangat rentan terhadap efek domino vulkanisme. Ketika erupsi hebat terjadi di Selat Sunda, kolom abu vulkanik berukuran mikro merayap hingga menyelimuti langit Jabodetabek dan daerah di sekitarnya

Partikel abu tajam berukuran sangat halus memicu gelombang kasus ISPA, gangguan pernapasan, iritasi mata, dan kulit bagi jutaan warga. Jabodetabek yang sudah berjuang melawan polusi udara mendadak dipaksa menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi sekolah-sekolah dan penghentian aktivitas luar ruangan.

Penutupan sementara bandara internasional utama seperti Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma akibat ancaman abu vulkanik pada mesin jet. Ribuan penerbangan tertunda, hal tersebut membuat roda perekonomian melambat, disaat seperti ini apakah kita bisa menyalahkan seseorang atau bahkan pemerintah? Sebenarnya kita bukan satu satunya korban namun pemerintah juga, tetapi ada hal mendasar yang membedakan kita dengan pemerintah yaitu kuasa untuk mengelola APBN, seperti yang kita ketahui bahwa kita mempunyai anggaran untuk penanggulangan bencana yang dikelola oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan dan laporan APBN 2026, anggaran BNPB saat ini adalah Rp 491 Miliar. Jika dibandingkan dengan anggaran BNPB 2025 yang mencapai Rp 2,01 Triliun, anggaran tahun ini mengalami penurunan yang sangat drastis yaitu sekitar 75,62%.

Hal tersebut membuat pihak BNPB tidak bisa bergerak leluasa karena anggaran yang sangat terbatas, efek nya sudah dirasakan oleh beberapa saudara kita yang terkena dampak dari fenomena seperti gempa bumi, karhutla, dan lain sebagainya. Bantuan yang terlambat, minim, dan tidak efisien adalah dampak dari efisiensi anggaran BNPB. Lantas apa yang kita bisa lakukan? Kita perlu membekali diri kita lebih banyak dengan intelektual agar kita bisa bertahan di tengah kacau nya era saat ini, media sosial dipenuhi tagar #PrayForIndonesia. Alam yang menjadi tempat kita mencari penghidupan sedang tidak baik baik saja. Bukan hanya kita saja, bahkan hewan hewan juga menjadi korban.

Tagar tersebut mempresentasikan doa, dukungan moral dan solidaritas yang terus digaungkan melalui berbagai platform media sosial oleh warganet. Mulai dari aplikasi X, Instagram, Tiktok, hingga Threads dipenuhi oleh tagar tersebut. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia telah menghadapi total 1.774 kejadian bencana sejak awal tahun hingga 10 September 2026, termasuk duka yang belum sepenuhnya pulih di wilayah Sumatera.

Berita terkini dan yang paling ramai dibahas di media sosial adalah kebakaran hebat di Pulau Kalimantan dan bahkan pulau lainnya yang entah apa pemicunya. Ditambah juga erupsi 11 gunung berapi dengan 5 diantara berada pada kondisi siaga (III) dan 6 diantara nya berada pada kondisi waspada (II). Kondisi perekonomian Indonesia yang tidak stabil membuat warganet resah dan pemerintah menuai banyak kritik yang diunggah pada beberapa platform di media sosial.

Pemerintah perlu lebih menaruh fokus lebih banyak pada masalah yang dihadapi pada saat ini, bukan malah berfokus pada program program yang tidak ada urgensi nya. Program yang sudah dijalankan juga harus diperhatikan agar anggaran yang sudah di siapkan tidak masuk ke kantong yang salah.

Penulis : Ahmad Rifky Nur Kamil – Universitas Airlangga

 

 

Type above and press Enter to search.