| Mahasiswa Universitas Muria Kudus memperkenalkan dan mengembangkan produk minuman herbal berbahan cascara dari kopi lokal.(Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
Suaratime, Kudus – Kulit ceri kopi yang selama ini kerap
dianggap sebagai limbah diolah menjadi produk teh kekinian oleh lima mahasiswa
Universitas Muria Kudus (UMK). Melalui Dream Cherry, mereka mengembangkan
artisan tea berbahan cascara yang dipadukan dengan bunga chamomile dan
lemongrass.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Muhammad
Najib, Ma’rifatul Munawaroh, Achmad Duwi Wijarnoko, Ella Nailul Fitria, dan
Lintang Ayu Gayatri, serta Annisya Lutfi Septanti S.E., M.Sc. sebagai dosen
pendamping. Mereka melihat adanya peluang dari kulit kopi yang belum
dimanfaatkan secara optimal untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai
tambah.
Ketua tim Dream Cherry, Muhammad Najib,
mengatakan ide tersebut berangkat dari keinginan untuk mengolah sesuatu yang
sebelumnya kurang dimanfaatkan menjadi produk yang lebih bernilai. Cascara
kemudian dipilih karena dapat diolah menjadi teh dengan karakter rasa yang
berbeda.
“Daripada hanya menjadi limbah, kami mencoba
memberikan fungsi baru pada cascara. Kami mengemasnya menjadi teh yang lebih
dekat dengan selera konsumen muda,” ujar Najib.
Cascara yang digunakan Dream Cherry berasal dari
petani kopi lokal di lereng Gunung Muria, Kudus. Pemanfaatan bahan tersebut
membuat produk tidak hanya menawarkan inovasi dari sisi minuman, tetapi juga
membawa unsur lokal dalam konsepnya.
Dream Cherry dibuat sebagai artisan tea atau teh
racikan dengan cascara sebagai bahan utama. Untuk menghasilkan karakter rasa
yang lebih beragam, cascara dipadukan dengan bunga chamomile dan lemongrass.
Produk tersebut memiliki cita rasa fruity,
segar, dan manis alami. Karakter tersebut menjadi salah satu daya tarik yang
ingin ditawarkan kepada konsumen yang mencari pengalaman berbeda dari teh
maupun kopi konvensional.
Pengolahan Dream Cherry dilakukan secara
handmade. Proses tersebut menjadi bagian dari konsep produk untuk menjaga
kualitas sekaligus mempertahankan karakter rasa dari racikan yang dibuat.
Selain mengembangkan rasa, tim juga
memperhatikan bentuk penyajian produk. Dream Cherry dikemas dalam bentuk seduh
sehingga dapat disiapkan dengan cara yang praktis oleh konsumen.
Pemanfaatan cascara juga membuat Dream Cherry
membawa konsep penggunaan kembali limbah kopi. Kulit ceri yang sebelumnya
kurang dimanfaatkan diberikan fungsi baru melalui proses pengolahan menjadi
produk teh.
Menurut Najib, pendekatan tersebut menjadi salah
satu cara untuk mempertemukan kreativitas mahasiswa dengan potensi bahan baku
yang tersedia di sekitar mereka. Dengan begitu, inovasi tidak hanya berbicara
mengenai produk baru, tetapi juga mengenai bagaimana bahan yang ada dapat
dimanfaatkan secara lebih optimal.
Dream Cherry menyasar pelajar, mahasiswa, dan
pekerja muda sebagai konsumen utama. Kelompok tersebut dipilih karena memiliki
aktivitas tinggi dan menjadi salah satu pasar yang potensial untuk produk
minuman praktis dengan konsep kekinian.
Pengembangan produk dilakukan dengan pembagian
peran di antara kelima anggota tim. Muhammad Najib, Ma’rifatul Munawaroh,
Achmad Duwi Wijarnoko, Ella Nailul Fitria, dan Lintang Ayu Gayatri bekerja
bersama dalam mengembangkan Dream Cherry dari sisi produk hingga pemasarannya.
Melalui Dream Cherry, kelima mahasiswa tersebut
ingin membuktikan bahwa inovasi dapat berangkat dari hal sederhana yang berada
di sekitar. Kulit kopi yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini diolah menjadi
teh cascara dengan konsep modern dan tetap membawa cerita dari daerah asalnya,
Kudus.
Pengembangan Dream Cherry juga mendapat dukungan melalui Pendanaan Nasional Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026. Dukungan pendanaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan usaha mahasiswa, sekaligus memberikan ruang bagi tim untuk mengembangkan inovasi produk berbahan baku lokal menjadi usaha yang lebih terarah dan berkelanjutan.