.jpeg)
Reddy Pramandhika, S.Pd., M.Pd.
Penulis: Reddy Pramandhika, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SD Negeri Wringinjajar 3)
Kasus perundungan atau bullying di sekolah sepertinya masih sering kita dengar beritanya. Mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi ada saja kasus yang terjadi bahkan pelakunya terkadang berasal dari orang yang seharusnya menjadi pengayom atau pelindung. Menurut data pusiknas.polri.go.id selama awal bulan Februari saja ada 267 laporan baik kekerasan fisik, kekerasan seksual, tindak pidana perlindungan anak, kasus pornografi anak dan lain sebagainya di mana yang menjadi korbannya sebagian besar adalah anak perempuan. Mirisnya lagi hampir 30% pelaku masih berstatus pelajar atau mahasiswa.
Jika kita telisik lebih jauh, rata-rata anak yang sering berbuat onar/masalah di sekolah adalah mereka yang kurang mendapat perhatian atau kasih sayang di rumah sehingga di sekolah sering cari perhatian namun cara yang dilakukan malah membuat orang lain terancam.
Untuk lebih jelasnya berikut ini ada beberapa faktor penyebab bullying yang dirangkum dari laman halodoc.com yaitu : 1) Faktor lingkungan keluarga seperti adanya kekerasan di dalam rumah, pola asuh yang tidak sehat, rasa emosional yang tidak mendapat respon maksimal, sehingga anak cenderung mencari pelampiasannya di luar rumah; 2) Faktor lingkungan sekolah yang melakukan pembiaran dengan minimnya pengawasan terhadap anak bahkan menormalisasi perilaku bullying adalah sesuatu yang wajar dilakukan oleh anak-anak; 3) Pengaruh teman sebaya yang cenderung negatif sehingga pelaku pembulian merasa ada sosok pelindung dan merasa aman ketika melakukan tindakan yang melanggar norma; 4) Faktor psikologis anak yang merasa iri dengan pencapaian orang lain, rasa ingin menguasai atau haus validasi orang lain bisa jadi faktor penyimpangan norma penyebab perundungan; 5) Pengaruh sosial media atau game online yang massiv menunjukkan perilaku-perilaku kekerasan yang dianggap wajar oleh anak.
Perundungan ini jika dilihat sepertinya sepele seperti ejekan atau ucapan kotor yang tidak menimbulkan luka fisik. Tapi dari dua hal tadi bisa saja membuat luka hati berujung pada pembunuhan atau balas dendam korban yang membahayakan orang lain. Karena itulah sekolah sebagai lembaga pendidikan sudah seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang.
Sekolah harus intensif melakukan pencegahan dan penanganan yang serius terkait perundungan salah satunya adalah dengan menyisipkan materi pendidikan karakter. Setiap anak dibekali bagaimana cara berpikir dan bersikap sesuai norma yang ada agar tidak menjadi korban atau pelaku kekerasan. Selain itu sekolah harus memiliki kebijakan yang tegas agar tidak terjadi bullying di sekolah.
Tak hanya itu, sekolah seharusnya menyediakan pendamping psikologis untuk anak-anak yang membutuhan pendampingan serta memberikan tips apa yang seharusnya dilakukan ketika mereka menjadi korban atau melihat ada tindakan kekerasan yang terjadi di depan mata mereka. Dengan berbagai langkah tadi diharapkan akan tercipta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman serta ramah anak untuk belajar. Tak ada rasa takut karena sekolah bisa menjadi tempat perlindungan bagi anak.