GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Mahasiswa Tampil dengan Busana Ecoprint, Wujud Nyata Fashion Ramah Lingkungan

Mahasiswa Tampil dengan Busana Ecoprint, Wujud Nyata Fashion Ramah Lingkungan

Suara Time, Surabaya – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian bumi. Di tengah meningkatnya isu pencemaran lingkungan dan limbah industri fesyen global, mahasiswa Program Fashion Design menunjukkan aksi nyata melalui penggunaan busana ecoprint sebagai simbol gaya hidup berkelanjutan.

Beragam busana berbahan alami dengan motif daun dan bunga menghiasi suasana kampus. Tidak sekadar menampilkan keindahan visual, karya ecoprint yang dikenakan juga menjadi media edukasi tentang pentingnya memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan mengurangi dampak lingkungan dari proses produksi tekstil konvensional.

Ecoprint merupakan teknik pewarnaan tekstil yang memanfaatkan pigmen alami dari daun, bunga, ranting, maupun bagian tumbuhan lainnya. Berbeda dengan pewarna sintetis yang berpotensi menghasilkan limbah kimia, teknik ini menghasilkan motif unik sekaligus lebih ramah terhadap lingkungan.

Dosen Fashion Design, Christina Tanujaya, AdvDip., B.Des., MBA., menjelaskan bahwa pengenalan ecoprint kepada mahasiswa merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan melalui praktik desain yang berkelanjutan.

“Melalui ecoprint, mahasiswa belajar bahwa proses kreatif tidak hanya menghasilkan produk yang indah, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan. Desainer masa depan perlu memiliki kemampuan untuk menciptakan karya yang inovatif sekaligus bertanggung jawab,” tuturnya.

Menurutnya, isu keberlanjutan kini menjadi salah satu perhatian utama industri fesyen global. Karena itu, mahasiswa perlu memahami berbagai alternatif produksi yang lebih ramah lingkungan sejak berada di bangku perkuliahan.

Mahasiswa Keefen Keegan Wijaya mengaku bahwa materi mengenai ecoprint memberikan pemahaman baru tentang hubungan antara desain dan isu lingkungan.

“Selama ini saya melihat pakaian hanya dari sisi desain dan fungsi. Setelah mempelajari ecoprint, saya menjadi lebih memahami bahwa proses di balik sebuah produk fesyen juga memiliki dampak terhadap lingkungan,” katanya.

Mahasiswa lainnya, Jericca Idelia menilai bahwa pembelajaran tersebut membuka wawasan mengenai peran desainer dalam menghadapi tantangan lingkungan di masa depan.

“Sebagai calon desainer, kami dituntut untuk tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap isu keberlanjutan. Pembelajaran tentang ecoprint membuat kami lebih memahami bagaimana fesyen dapat menjadi bagian dari solusi, bukan hanya bagian dari masalah lingkungan,” ungkapnya.

Melalui pembelajaran yang dikaitkan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, mahasiswa diajak untuk melihat bahwa keberlanjutan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan yang semakin relevan dalam industri kreatif. Dengan memahami berbagai inovasi tekstil ramah lingkungan, generasi muda diharapkan mampu menghadirkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran lingkungan. Melalui ruang kelas, mahasiswa dapat belajar bahwa langkah menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dapat dimulai dari pengetahuan, pemahaman, dan pilihan yang dibuat hari ini.

Type above and press Enter to search.