GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Antara Ketegasan dan Kedekatan: Bagaimana Gen Z Kudus Menilai Gaya Kepemimpinan Prabowo-Gibran?

Ilustrasi AI Bagaimana Gen Z Kudus Menilai Gaya Kepemimpinan Prabowo-Gibran

Suara Time, Kudus -
Survei terhadap 100 responden Generasi Z di Kabupaten Kudus mengungkap gambaran menarik: kepercayaan terhadap Prabowo-Gibran masih terbelah, namun mayoritas sepakat ketegasan tetap dibutuhkan dan 64% sadar citra keduanya sengaja dibangun tim politik.

Bagaimana Generasi Z memandang dua pemimpin negara dengan karakter yang bertolak belakang?

Itulah pertanyaan yang coba dijawab oleh survei psikologi politik yang dilakukan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK), dengan melibatkan 100 responden berusia 14–24 tahun yang berdomisili di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Hasilnya mencerminkan gambaran yang kompleks: kepercayaan Gen Z terhadap kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka memang terbelah, namun condong ke arah moderat dan positif dengan catatan kritis yang tidak bisa diabaikan.

Sebagian besar responden (54%) aktif hingga sangat aktif mengikuti perkembangan politik nasional, menunjukkan bahwa Gen Z Kudus bukan generasi yang apatis terhadap urusan negara.

Kepercayaan terhadap Prabowo: Polarisasi yang Nyata

Tingkat kepercayaan responden terhadap Prabowo hampir merata di seluruh skala 1–5. Sebanyak 24% sangat percaya (skala 5), sementara 21% sangat tidak percaya (skala 1), dan 23% bersikap netral. Polarisasi ini sejalan dengan dinamika pasca-Pemilu 2024 yang membelah kepercayaan publik secara signifikan di kalangan pemilih muda.

Dari sisi aspek positif, pengalaman militer paling banyak disebut oleh 49 responden, diikuti nasionalisme tinggi (42 responden), ketegasan sikap (35), visi pembangunan (31), dan kedekatan dengan rakyat (28). Sementara itu, 25 responden menyatakan tidak ada aspek yang terasa menonjol.

Mengenai latar belakang militer Prabowo sebagai presiden sipil, mayoritas responden (54%) menilainya sebagai “keduanya, tergantung konteks” — bisa menjadi keunggulan sekaligus hambatan. Sebanyak 22% menganggapnya sebagai hambatan, 17% sebagai keunggulan, dan 7% merasa tidak berpengaruh sama sekali.

Meski kepercayaan personal masih terbagi, 60% responden — terdiri dari 38% sangat setuju dan 22% setuju — sepakat bahwa ketegasan Prabowo sangat dibutuhkan untuk menangani masalah nasional seperti korupsi dan ketidakpastian ekonomi. Ini menjadi pernyataan dengan dukungan tertinggi di seluruh item survei terkait Prabowo.

Gibran: Dekat di Media, “Simbolis” dalam Substansi

Gambaran Gibran di mata Gen Z lebih bernuansa. Sebanyak 46% responden menunjukkan keyakinan positif terhadap kemampuannya sebagai wakil presiden (19% skala 5 dan 27% skala 4), sementara 33% menyatakan tidak yakin (20% skala 1 dan 13% skala 2), serta 21% bersikap netral.

Saat diminta memilih satu kata untuk menggambarkan gaya kepemimpinan Gibran, 30 responden memilih “simbolis (figur muda, kurang substansi)” sebagai pilihan terbanyak. Disusul adaptif (20 responden), belum bisa menilai (18), populis (17), dan inovatif (15).

Temuan ini mengisyaratkan bahwa kehadiran digital Gibran belum cukup untuk meyakinkan banyak Gen Z akan kapasitas substantifnya.

Soal representasi generasi, 44% menilai dampak Gibran bagi Gen Z baru “sebagian, tapi belum cukup”, 26% menganggapnya tidak lebih dari simbolisme, dan hanya 25% yang melihatnya sebagai hal yang sangat positif.

Di sisi lain, 49% responden setuju bahwa Gibran memahami aspirasi anak muda, dan 48% mengakui informasi tentang Gibran lebih mudah diakses berkat keaktifannya di media sosial.

Dualitas yang Saling Melengkapi?

Salah satu temuan paling menonjol adalah bahwa 64% responden merasa gaya Prabowo yang tegas dan gaya Gibran yang santai serta dekat saling melengkapi. Sebanyak 44% menilai cukup melengkapi dan 20% menilai sangat melengkapi.

Hanya 13% yang merasa keduanya justru saling bertentangan, sementara 23% menganggap tidak begitu melengkapi.

“Generasi Z di Kabupaten Kudus tidak langsung menerima narasi politik begitu saja. Mereka mampu mengevaluasi secara kritis bagaimana gambaran politik dibangun — dan 64% dari mereka percaya citra ‘tegas’ Prabowo dan ‘dekat’ Gibran dibentuk secara sengaja oleh tim komunikasi.” - Citra Naysela & Silvia Widya W.S., Peneliti, UMK 2026

Angka 64% yang menyadari rekayasa citra ini mencerminkan meningkatnya literasi media digital di kalangan Gen Z. Mereka tumbuh di era di mana narasi politik dikemas ulang setiap hari di TikTok dan Instagram, dan tampaknya mereka tidak mudah tertipu.

Nilai Kepemimpinan yang Paling Diharapkan Gen Z

Survei juga mengungkap prioritas nilai kepemimpinan yang diinginkan Gen Z. Responden diminta memilih maksimal dua nilai, dan hasilnya konsisten dengan karakter generasi digital native yang pragmatis dan berorientasi keadilan.

Keadilan sosial memuncaki daftar dengan 52 suara, diikuti transparansi (39 suara), inovasi dan teknologi (35), komunikasi yang baik (33), ketegasan dan stabilitas (31), serta inklusivitas (11).

Data ini menegaskan bahwa Gen Z tidak semata-mata menginginkan pemimpin yang “viral” di media sosial. Mereka mendambakan pemimpin yang adil, jujur, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Kepuasan Keseluruhan: Hampir Berimbang

Secara keseluruhan, tingkat kepuasan Gen Z terhadap kepemimpinan Prabowo-Gibran hampir imbang. Sebanyak 40% menyatakan puas (14% sangat puas dan 26% puas), sementara 39% tidak puas (22% sangat tidak puas dan 17% kurang puas), serta 21% bersikap netral.

Gambaran ini menunjukkan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran belum berhasil memenangkan hati mayoritas Gen Z secara definitif.

Penutup: Antara Harapan dan Skeptisisme

Survei ini menggambarkan Gen Z Kudus sebagai generasi yang tidak mudah dipukul rata. Mereka bukan sekadar pendukung buta maupun penolak keras, melainkan pengamat kritis yang menimbang setiap aspek kepemimpinan dengan standar yang jelas: keadilan, transparansi, dan keberpihakan nyata kepada rakyat.

Prabowo dan Gibran sama-sama diakui memiliki kelebihan yang saling melengkapi. Namun, pengakuan itu belum sepenuhnya berubah menjadi kepercayaan yang solid.

Selama ketegasan Prabowo belum terbukti dalam kebijakan konkret, dan kedekatan Gibran masih sebatas citra digital, Gen Z akan terus bersikap “menunggu dan melihat”.

Yang jelas, pesan dari survei ini cukup keras: Generasi Z tidak butuh pemimpin yang sekadar populer di media sosial. Mereka butuh pemimpin yang benar-benar hadir dalam kebijakan, dalam keadilan, dan dalam tindakan nyata yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah standar yang harus dipenuhi Prabowo-Gibran jika ingin benar-benar memenangkan hati generasi penerus bangsa ini.

Tentang Penelitian Ini

Laporan survei ini merupakan bagian dari tugas mata kuliah Psikologi Politik Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus Tahun Ajaran 2026/2027, di bawah bimbingan Dr. Mochamad Widjanarko, S.Psi., M.Si.

Survei melibatkan 100 responden Generasi Z (usia 14–24 tahun) yang berdomisili di Kabupaten Kudus, menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan kuesioner terbuka yang disebarkan secara daring.

Peneliti/Penulis:
Citra Naysela (202460007)
Silvia Widya Wulan Sari (202460050)

Kelas 4A

Type above and press Enter to search.