GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Di Tengah Gelombang PHK, Milenial dan Gen Z Dipaksa Bertahan di Dunia Kerja yang Tak Pasti

Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Kolom - Bayangkan kamu sudah bekerja bertahun-tahun, memiliki cicilan, kebutuhan keluarga, dan berbagai rencana masa depan. Tiba-tiba perusahaan mengumumkan efisiensi. Dunia kerja Indonesia memang sedang menghadapi tekanan. Istilah efisiensi, pemangkasan anggaran, hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sering terdengar. Topik ini sudah menjadi obrolan di grup WhatsApp, media sosial, bahkan percakapan sehari-hari. Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat puluhan ribu pekerja terkena PHK di berbagai sektor menunjukkan bahwa persoalan ini bukan hanya wacana tapi hal yang sedang dihadapi banyak pekerja.

Generasi Milenial dan Gen Z menjadi dua kelompok yang menarik untuk diperhatikan. Keduanya dikenal sebagai generasi yang dekat dengan teknologi, adaptif, dan kreatif. Mereka menghadapi tantangan yang berbeda ketika dunia kerja tidak pasti. Lantas seberapa kuat mereka bertahan?

Bagi Milenial, ancaman PHK datang pada fase kehidupan yang kompleks ada yang membangun keluarga, membayar cicilan rumah, membiayai pendidikan anak atau membantu orang tua. Kondisi ini sering dikaitkan dengan istilah sandwich generation, yaitu generasi yang harus memenuhi kebutuhan dirinya sendiri sekaligus membantu generasi di atas dan di bawahnya. Karena itu kehilangan pekerjaan bagi seorang Milenial bukan hanya berarti kehilangan penghasilan pribadi. Dampaknya dapat ikut dirasakan oleh seluruh anggota keluarga. Ketika pendapatan utama hilang, kebutuhan sehari-hari, cicilan, biaya pendidikan, hingga kebutuhan orang tua tetap harus berjalan. Sementara itu, Gen Z menghadapi tantangan yang berbeda. Generasi yang mulai memasuki dunia kerja, mereka harus menjadi first jobber di tengah kerja yang penuh ketidakpastian dan belum tentu pekerjaan tersebut memberikan kepastian jangka panjang. Pekerjaan kontrak, magang, dan freelance semakin banyak ditemui. Bagi perusahaan, model kerja seperti ini dapat memberikan keuntungan. Namun bagi pekerja muda, kondisi membuat pendapatan dan masa depan pekerjaan bisa terasa kurang pasti.

Ketika perusahaan melakukan efisiensi, pekerja kontrak dan pekerja yang masih berada di tahap awal karier dan cukup rentan. Apalagi jika mereka belum memiliki tabungan darurat atau sumber pendapatan lain. Dari sinilah muncul kebiasaan baru di kalangan pekerja muda, yaitu mencari side hustle atau pekerjaan sampingan. Dulu, side hustle hanya dianggap sebagai cara untuk mendapatkan uang tambahan. Seseorang bisa berjualan makanan pada akhir pekan, menjadi fotografer, atau menerima pekerjaan desain setelah jam kantor. Namun sekarang mulai berubah. Sebagian pekerja beranggapan pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar cara mendapatkan uang lebih tetapi sudah menjadi strategi untuk bertahan secara finansial. Ada yang membuka toko online, mengambil proyek desain, menjadi freelancer, membuat konten juga melakukan pekerjaan lain setelah jam kerja. Dalam kondisi tertentu, satu pekerjaan saja dianggap belum cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada kondisi keuangan. Ketidakpastian pekerjaan juga dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari dan kondisi psikologis. Bayangkan kita harus terus bekerja dengan baik sambil memikirkan apakah bulan depan masih memiliki pekerjaan. Jika ditambah pekerjaan sampingan dan jam kerja yang panjang, waktu untuk beristirahat pun dapat berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko burnout, yaitu kelelahan fisik dan mental akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.

Di tengah tekanan tersebut, Gen Z dan Milenial memang menunjukkan kemampuan beradaptasi yang patut diapresiasi. Mereka belajar keterampilan baru, mencari pekerjaan sampingan, memanfaatkan teknologi, dan mencoba berbagai cara untuk tetap memiliki penghasilan. Disamping itu ketahanan pekerja tidak seharusnya hanya dibebankan kepada individu. Meminta pekerja untuk terus beradaptasi tanpa memperbaiki sistem yang melindungi mereka justru dapat menciptakan masalah baru. Pemerintah dan perusahaan perlu ikut membangun sistem kerja yang lebih aman dan adil. Perlindungan sosial perlu diperluas agar pekerja informal, freelancer, dan pekerja berbasis platform tetap memiliki pengaman ketika menghadapi krisis.

Pada akhirnya PHK dan efisiensi memang menjadi ujian berat bagi generasi Indonesia. Gen Z dan Milenial mungkin dikenal sebagai generasi yang kreatif, fleksibel, dan cepat beradaptasi. Namun bertahan tidak semata-mata sebagai kemampuan untuk menanggung semuanya sendirian. Karena generasi muda seharusnya tidak hanya diberi kesempatan untuk bertahan hidup di dunia kerja. Mereka juga berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan membangun masa depan yang lebih baik.


Penulis: Sevanya Azalia Deitra - Mahasiswa Universitas Airlangga.

Type above and press Enter to search.