![]() |
| Ilustrasi cermin tak terlihat bagi generasi muda (Sumber: Gambar Generatif) |
Suaratime, Opini - Setiap kali nama grup seperti EXO, Seventeen, atau NCT disebut, respons yang muncul sering kali masih bernada meremehkan: "cuma hobi remaja", "sekadar demam sesaat". Padahal, tanpa banyak disadari, fenomena K-pop di Indonesia sudah melampaui definisi hobi pada umumnya. Ia bekerja diam-diam seperti cermin yang tak terlihat memantulkan sekaligus membentuk cara anak muda hari ini mengonsumsi budaya, membangun identitas, dan berelasi dengan komunitas global, jauh sebelum mereka sendiri menyadarinya.
Cermin yang Bekerja Tanpa Disadari
Berbeda dari tren musik pada umumnya yang cukup dinikmati lewat berbagai platform streaming, K-pop menuntut keterlibatan yang jauh lebih mendalam: mempelajari koreografi, mengikuti perkembangan personal tiap anggota grup, bahkan belajar bahasa Korea secara otodidak. Album fisik, photocard, dan tiket konser menjadi barang koleksi yang wajib diburu.
Pergeseran ini juga bersifat aktif, bukan pasif. Jika dulu budaya asing masuk terutama lewat tontonan yang sekadar dinikmati, K-pop mengubahnya menjadi peniruan langsung: gaya berpakaian, riasan wajah, pola bicara, hingga standar tubuh ideal ikut bergeser mengikuti citra idola. Bagi remaja, K-pop menjadi tolak ukur dalam membentuk citra diri di usia ketika pencarian jati diri memang sedang berlangsung secara intens sebuah proses peniruan yang jarang disadari sebagai pengaruh, karena terasa begitu alami dan personal.
Fenomena ini tidak serta merta terjadi begitu saja, di baliknya ada industri yang dibangun dengan sangat terstruktur mulai dari sistem perekrutan, lalu trainee (pelatihan) yang ketat hingga strategi pemasaran global oleh agensi-agensi yang dijadikan Korea Selatan sebagai salah satu kekuatan diplomasi budaya yang kemudian menjadi kiblat bagi beberapa negara termasuk indonesia.
Dampaknya pada Keseharian Generasi Muda Sulawesi Selatan
Fenomena ini juga menjangkau Sulawesi Selatan, khususnya Makassar. Beberapa Komunitas penggemar sering terlihat melakukan dance cover dan cosplay yang terus tumbuh dan aktif menggelar latihan rutin serta event kumpul bersama baik, menjadikan K-pop sebagai bagian nyata yang ikut membentuk ruang sosial anak muda di kota ini
Namun meskipun berpengaruh cukup besar dalam dalam keseharian anak muda, pengaruh ini tidak serta-merta menggerus identitas lokal: penelitian terhadap Generasi Z di Makassar menunjukkan nilai-nilai budaya seperti siri' na pacce (harga diri dan solidaritas) serta kesopanan terhadap orang tua tetap dijaga berdampingan dengan ketertarikan pada budaya Korea. Yang terjadi bukan penggantian budaya lokal, melainkan proses negosiasi antara pengaruh global dan kesadaran identitas lokal.
Meski begitu, dampak konsumtif tetap nyata: pembelian album, tiket konser, dan photocard menjadi pos pengeluaran baru bagi sebagian remaja, mahasiswa bahkan pekerja, sementara sebagian orang tua mulai mengkhawatirkan pergeseran minat anak-anaknya dari budaya lokal ke budaya asing. Di sisi lain, komunitas K-pop juga membuka ruang pertemanan lintas usia, kota bahkan negara, serta mendorong sebagian penggemar mempelajari bahasa dan budaya Korea secara mandiri.
Dua Sisi Mata Uang
Seperti fenomena budaya pop lainnya, K-pop membawa dua sisi. Di satu sisi, ia mendorong motivasi belajar bahasa asing, motivasi untuk melanjutkan studi di Korea dan rasa memiliki komunitas lewat fandom. Sementara di sisi lain, muncul kritik tentang konsumerisme secara berlebihan, standar kecantikan yang tidak realist's, serta relasi parasosial antara penggemar dan idola yang kerap dipertanyakan batasannya.
Cermin yang Layak Dilihat Lebih Jernih
Pada akhirnya, menyebut K-pop "hanya hobi" justru menyederhanakan sesuatu yang kompleks. K-pop adalah cermin tak terlihat yang memantulkan bagaimana budaya populer, ekonomi kreatif, dan identitas anak muda saling terjalin di era digital—termasuk di Sulawesi Selatan, tempat budaya global dan nilai lokal terus bernegosiasi dalam keseharian generasi muda. Semakin dini generasi muda dan orang-orang di sekitarnya menyadari pantulan itu, semakin bijak pula mereka menyikapinya.
Penulis: Mutmainnah_Kajian Budaya Universitas Hasanuddin 2026
