![]() |
| Mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan). (Foto: Dok/Ist). |
Suara Time, Pontianak – Upaya pemulihan tanah yang terdampak aktivitas pertambangan emas terus dikembangkan melalui berbagai pendekatan. Salah satunya dilakukan oleh tim mahasiswa Universitas Tanjungpura(Untan) melalui pengembangan sistem Natural Deep Eutectic Solvent (NADES) berbasis kolin klorida dan asam askorbat untuk membantu mengurangi kontaminasi merkuri pada tanah.
Penelitian tersebut merupakan bagian
dari Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas
Tanjungpura tahun 2026. Tim yang mengembangkan penelitian ini menggunakan nama RESchorbic,
dengan fokus pada pemanfaatan sistem NADES sebagai pendekatan alternatif dalam
remediasi tanah bekas pertambangan emas.
Merkuri menjadi perhatian dalam
penelitian tersebut karena logam berat ini dapat ditemukan pada tanah di
kawasan yang terdampak aktivitas pertambangan emas. Kondisi tersebut mendorong
perlunya pendekatan yang dapat membantu mengurangi keberadaan merkuri sekaligus
mempertimbangkan kondisi tanah setelah proses remediasi.
Dalam pengembangannya, tim memadukan
kolin klorida (Choline Chloride/ChCl) dengan asam askorbat (Ascorbic
Acid/AA) untuk membentuk sistem NADES. Beberapa komposisi kemudian diuji
untuk mendapatkan formulasi yang sesuai digunakan dalam proses remediasi.
Salah satu formulasi yang diperoleh
adalah perbandingan ChCl dan AA sebesar 2:1. Formulasi tersebut menunjukkan
karakteristik yang lebih stabil dan homogen dibandingkan formulasi lainnya
sehingga dipilih untuk pengujian berikutnya.
Efisiensi Penghilangan Merkuri Mencapai 99,31 Persen
Pengujian dilakukan dengan
menggunakan tanah bekas pertambangan emas dari Kabupaten Landak, Kalimantan
Barat. Sistem NADES kemudian diuji untuk melihat kemampuannya dalam membantu
memindahkan merkuri dari tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
sistem yang dikembangkan mampu mencapai efisiensi penghilangan merkuri
sebesar 99,31 persen pada kondisi pengujian laboratorium. Hasil tersebut
menjadi salah satu capaian utama dalam penelitian yang dilakukan tim
RESchorbic.
Merkuri yang telah berhasil
dipisahkan dari tanah kemudian diproses lebih lanjut melalui pengendapan dan
menghasilkan merkuri sulfida (HgS). Selain itu, tim turut mengamati kemungkinan
penggunaan kembali NADES setelah proses pemisahan merkuri.
Pengujian penggunaan kembali
menunjukkan bahwa sistem NADES masih dapat dimanfaatkan dalam beberapa siklus.
Namun, efektivitasnya mengalami penurunan pada penggunaan berikutnya sehingga
aspek tersebut masih menjadi bagian yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Penelitian RESchorbic juga tidak
hanya berfokus pada jumlah merkuri yang berhasil dikurangi. Tim melakukan
pengamatan terhadap kondisi tanah setelah perlakuan melalui karakterisasi
material. Hasilnya menunjukkan tidak adanya perubahan besar pada struktur
mineral utama tanah setelah proses remediasi.
Dampak perlakuan turut diamati
melalui pertumbuhan kecambah kacang hijau. Dibandingkan tanah yang telah
dikondisikan tercemar merkuri sebelum remediasi, kecambah pada tanah setelah
perlakuan menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik.
Penelitian ini dilakukan selama
empat bulan di Laboratorium Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Tanjungpura. Hasil yang diperoleh masih merupakan hasil pengujian
pada skala laboratorium sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat
kinerja sistem NADES tersebut pada kondisi yang lebih beragam.
Tim RESchorbic terdiri atas Jason
Robiansa Agustian, Citra Widiasari, Muhammad Fiqri Aulia Rahman, Siti Hutsiyah,
dan Vika, dengan bimbingan Bapak Ferdinand Hidayat dari Jurusan Kimia,
Universitas Tanjungpura.
Melalui penelitian tersebut, tim
membawa semangat “Green Solution for Soil Restoration” untuk
mengembangkan pendekatan berbasis kimia yang dapat mendukung upaya pemulihan
tanah dari dampak aktivitas pertambangan.
