| Gugus Joko Waskito |
Suaratime, Opini - Lima nama mengerucut. Empat menawarkan rekam kontribusi dalam Muktamar, satu nama muncul sebagai kemungkinan jalan tengah.
Muktamar NU ke-35 telah melahirkan kepemimpinan baru. KH
Miftahul Achyar dipercaya kembali sebagai Rais Aam, sementara KH Abdul Hakim
Mahfudz atau Gus Kikin mendapat mandat sebagai Ketua Umum PBNU periode
2026–2031.
Namun, pertarungan belum sepenuhnya selesai. Kini perhatian
bergeser pada penyusunan kepengurusan, terutama posisi Sekretaris Jenderal PBNU
yang sangat strategis.
Dalam dinamika yang berkembang, lima nama disebut-sebut
mengerucut: Saifullah Yusuf, Nusron Wahid, Lukman Edy, Juri Ardiantoro, dan
Lukman Hakim Saifuddin.
Menariknya, kelima nama ini memiliki modal yang berbeda.
Empat nama pertama kuat karena kontribusi dalam dinamika Muktamar dan proses
terpilihnya kepemimpinan baru PBNU. Sementara satu nama lainnya justru muncul
karena dianggap dapat menjadi solusi dan titik temu.
Maka pertanyaan besarnya: Sekjen PBNU akan dipilih karena
kontribusi atau karena kebutuhan akan solusi?
Gus Ipul: Modal Kontribusi dan Kontinuitas
Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memiliki modal yang sangat
kuat. Selain pernah menjadi Sekjen PBNU dan kini menjabat Menteri Sosial RI, ia
merupakan Ketua Panitia Muktamar NU ke-35.
Perannya dalam kesuksesan Muktamar dan dukungannya terhadap
terpilihnya KH Miftahul Achyar sebagai Rais Aam menjadi modal penting.
Namun, perjalanan Gus Ipul di penghujung kepengurusan
sebelumnya juga diwarnai konflik keras dengan KH Yahya Cholil Staquf.
Resistensinya terhadap Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar juga beberapa kali
terlihat secara terbuka.
Pertanyaannya, apakah catatan tersebut menjadi beban atau
justru pengalaman yang membuatnya semakin matang?
Gus Ipul menawarkan pengalaman, kontinuitas dan kontribusi.
Nusron Wahid: Pemain Muktamar dan Jaringan Kekuasaan
Nusron Wahid memiliki karakter berbeda.
Menteri ATR/BPN RI, mantan Ketua Umum PP GP Ansor dan mantan
Ketua Umum PB PMII ini dikenal memiliki jaringan luas. Dalam Muktamar NU ke-35,
ia disebut berperan penting dalam menjahit dukungan berbagai wilayah dan cabang
hingga mengantarkan Gus Kikin menjadi Ketua Umum PBNU.
Nusron juga dikenal piawai memainkan peran dalam momentum
Muktamar NU. Meski demikian, sejumlah pernyataannya kerap menimbulkan
kontroversi. Menjelang Muktamar, ia juga sempat berbeda pandangan dengan Gus
Ipul.
Di sisi lain, kedekatannya dengan Presiden Prabowo
membuatnya memiliki akses kuat ke pemerintahan.
Nusron menawarkan jaringan, kemampuan konsolidasi dan akses
kekuasaan.
Lukman Edy: Jembatan dengan Jejaring Gus Dur
Lukman Edy juga masuk dalam radar.
Tokoh asal Riau ini disebut memiliki kontribusi dalam
mengawal Gus Kikin sejak awal pencalonan. Kedekatannya dengan keluarga Gus Dur
menjadi modal tersendiri.
Sebagai kader PKB yang tidak berada dalam lingkaran Ketua
Umum PKB Muhaimin Iskandar, Lukman Edy juga memiliki ruang politik yang relatif
independen.
Ia menawarkan jejaring, pengalaman politik dan kemampuan
menjembatani berbagai kelompok.
Juri Ardiantoro: Antara PBNU dan Pemerintah
Juri Ardiantoro, Wakil Mensesneg RI dan mantan Ketua KPU RI,
juga memiliki peluang.
Mantan aktivis PMII dan GP Ansor ini disebut memberikan
kontribusi dalam perhelatan Muktamar NU ke-35.
Kekuatan Juri bukan hanya berasal dari jaringan NU, tetapi
juga posisinya di pemerintahan. Jika terpilih sebagai Sekjen, ia berpotensi
menjadi penghubung strategis PBNU dengan pemerintah.
Karena itu, tidak mengherankan jika muncul spekulasi bahwa
Juri bisa menjadi semacam “jembatan istana” di PBNU.
Tentu, keputusan akhirnya tetap berada di tangan formatur.
Lukman Hakim Saifuddin: Nama Kejutan Yang Bisa Menjadi Solusi
Nama terakhir justru paling menarik: Lukman Hakim Saifuddin.
Mantan Menteri Agama RI ini tidak terlalu terlihat dalam
hiruk-pikuk kontestasi Muktamar. Saat Muktamar NU justru menjadi nara sumber
kegiatan Mubes Warga NU di Pesantren Seblak Jombang), sebagai wadah aspirasi
akar rumput NU. Namun justru karena itu, mantan pengurus LAPEKSDAM NU ini mulai
disebut sebagai solusi ketika sejumlah kandidat lain tidak menemukan titik
temu.
Putra KH Saifuddin Zuhri (mantan Sekjen PBNU 1954-1962) ini
memiliki karakter yang relatif teduh dan dapat diterima berbagai kalangan.
Gagasan moderasi beragama yang selama ini konsisten diperjuangkannya juga
membuatnya memiliki jejaring luas, termasuk dengan organisasi keagamaan lain
dan kelompok lintas agama.
Ia juga tidak dikenal sebagai figur yang sepenuhnya berada
di bawah bayang-bayang kekuasaan. Sikap kritisnya terhadap pemerintah tetap
terlihat.
Lukman Hakim menawarkan sesuatu yang berbeda:
keteduhan, keseimbangan dan kemungkinan menjadi titik temu.
Ia mungkin bukan figur yang paling besar kontribusinya dalam
memenangkan Muktamar.
Tetapi justru bisa menjadi figur yang paling dibutuhkan
setelah Muktamar.
Bukan Lagi Soal Siapa Yang Menang
Formatur PBNU masih memiliki waktu untuk menyusun
kepengurusan periode 2026–2031, termasuk jajaran Syuriah, Tanfidziyah dan
Sekjen.
Rais Aam sebagai Ketua Tim Formatur bersama Gus Kikin dan
tujuh anggota formatur lainnya akan menjadi pihak yang menentukan.
Mereka menghadapi pilihan yang tidak sederhana.
Gus Ipul adalah kontribusi.
Nusron adalah jaringan dan konsolidasi.
Lukman Edy adalah jejaring dan jembatan.
Juri adalah koneksi dengan pemerintahan.
Lukman Hakim adalah solusi dan titik temu.
Pada akhirnya, Sekjen PBNU bukan sekadar soal siapa yang
paling berjasa dalam Muktamar.
Sebab Muktamar sudah selesai.
Yang harus dipikirkan sekarang adalah bagaimana PBNU bekerja
lima tahun ke depan.
Jika yang dicari adalah penghargaan atas kontribusi, maka
peta kandidat bisa berbeda.
Tetapi jika yang dicari adalah figur yang mampu meredakan
riak, merajut kembali kelompok-kelompok yang sempat berseberangan, membangun
komunikasi dengan pemerintah, sekaligus mengembalikan citra positif PBNU, maka
nama yang muncul bisa berbeda pula.
Karena setelah pertarungan usai, NU tidak membutuhkan
pemenang baru.
NU membutuhkan pemersatu.
Dan mungkin, inilah pertanyaan paling penting yang sedang
berada di meja formatur:
SEKJEN PBNU 2026–2031: KONTRIBUSI ATAU SOLUSI?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan wajah PBNU lima
tahun ke depan.
Penulis : Gugus Joko Waskito, Direktur Lembaga Kajian dan Survey Nusantara (LAKSNU)/aktifis muda NU.