| apt. Farizah Izazi, S.Farm., M.Farm. menyampaikan materi mengenai standardisasi simplisia dan scale up produksi ekstrak kulit ari siwalan kepada Gapoktan dalam rangkaian Program Bestari Saintek Universitas Hang Tuah di Kabupaten Gresik. |
Suaratime, Gresik, September 2026 — Tim Program Bestari Saintek Universitas Hang Tuah (UHT) yang diketuai oleh apt. Ersanda Nurma Praditapuspa, S.Farm., M.Farm. kembali melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Kabupaten Gresik. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan sains dan teknologi dalam pengembangan potensi lokal agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.
Pelatihan kali ini
mengangkat materi mengenai standardisasi simplisia kulit ari siwalan dan
scale up produksi ekstrak. Materi disampaikan oleh apt. Farizah Izazi,
S.Farm., M.Farm., dengan fokus pada pentingnya pengendalian mutu bahan baku
serta tahapan pengembangan proses produksi dari skala laboratorium menuju skala
yang lebih besar.
Ketua Tim Program Bestari
Saintek Universitas Hang Tuah, apt. Ersanda Nurma Praditapuspa, S.Farm.,
M.Farm., menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas Gapoktan merupakan bagian
penting dalam membangun keberlanjutan inovasi berbasis potensi lokal. “Kami
berharap masyarakat tidak hanya mampu memanfaatkan kulit siwalan sebagai
potensi lokal, tetapi juga memahami bagaimana bahan tersebut dikelola secara
terstandar sehingga dapat dikembangkan menjadi bahan baku yang konsisten,
berkualitas, dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.
Dalam sesi pelatihan,
peserta diperkenalkan pada konsep simplisia terstandardisasi, yaitu
bahan baku yang diproses dengan memperhatikan parameter mutu tertentu agar
kualitas yang dihasilkan tetap konsisten. Pembahasan mencakup pentingnya
pengendalian kualitas bahan baku, proses pengolahan, serta berbagai aspek yang
perlu diperhatikan dalam menjaga mutu simplisia kulit ari siwalan.
Dari Bahan
Lokal Menuju Produk Bernilai Tambah
Selain standardisasi
simplisia, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai scale up
produksi ekstrak. Peningkatan skala produksi bukan sekadar memperbesar
jumlah bahan yang digunakan, tetapi juga harus mempertahankan kualitas,
konsistensi, dan efisiensi proses. Pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal
bagi Gapoktan dalam mengembangkan kulit ari siwalan dari bahan lokal menjadi
bahan baku yang memiliki nilai tambah dan peluang pengembangan lebih lanjut. Pelatihan
berlangsung secara interaktif. Peserta tidak hanya menerima materi secara
teoritis, tetapi juga berdiskusi mengenai penerapan standardisasi bahan baku
dan pengembangan proses produksi di tingkat kelompok tani. Pendekatan ini
menjadi penting agar teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan sesuai
dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan tersebut,
pengetahuan yang sebelumnya berkembang di lingkungan akademik dan laboratorium
dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang lebih aplikatif dan mudah diterapkan
oleh masyarakat.
Membangun
Ekosistem Inovasi Berbasis Potensi Daerah
Program Bestari Saintek
Universitas Hang Tuah mendorong pemanfaatan sains dan teknologi untuk
mengembangkan potensi lokal secara lebih terarah dan berkelanjutan. Melalui
standardisasi bahan baku serta peningkatan kapasitas produksi, kulit ari
siwalan diharapkan dapat berkembang menjadi bahan baku yang berkualitas,
bernilai ekonomi, dan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai
produk inovatif. Hal ini sejalan dengan upaya tim dalam memperkuat kapasitas Gapoktan
dan mendorong pemanfaatan potensi lokal secara lebih optimal.
Tim Bestari Saintek Universitas Hang Tuah juga menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kemdiktisaintek, selaku penginisiasi Program Bestari Saintek, serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas dukungan pendanaan yang diberikan dalam pelaksanaan program ini.