GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Berawal dari Hobi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Ini Asah Skill Desain Lewat Ponsel

Reza Novaldi, mahasiswa asal Muaro Jambi yang kini menempuh pendidikan di  Mojokerto Jawa Timur. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Mojokerto - Setelah beraktivitas seharian, riuhnya suasana asrama pada malam tak menyurutkan aktivitas salah seorang mahasiswa yang masih sibuk menyusun elemen demi elemen desain melalui ponselnya. Meski suara percakapan dan aktivitas penghuni asrama masih terdengar, fokusnya tetap tertuju pada desain yang sedang dikerjakannya.

Sosok itu adalah Reza Novaldi (23), mahasiswa asal Muaro Jambi yang kini menempuh pendidikan di  Mojokerto Jawa Timur. Selama merantau, ia tinggal di asrama dan memanfaatkan waktu pada malam hari untuk belajar sekaligus mengerjakan berbagai desain grafis hanya dengan bermodalkan sebuah ponsel.

Bagi sebagian orang, ponsel lebih sering digunakan untuk berkomunikasi atau hiburan. Namun, bagi Reza, perangkat tersebut menjadi alat utama untuk belajar, berkarya, sekaligus menyelesaikan berbagai pekerjaan desain.

Uniknya, perjalanan Reza di dunia desain grafis berbeda dengan bidang studi yang sedang ditempuhnya. Sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, ia menyadari sejak awal bahwa dunia akademiknya tidak berkaitan langsung dengan desain grafis.

Tetapi, perbedaan itu tidak membuatnya ragu. Sebaliknya, Reza melihatnya sebagai kesempatan untuk memiliki keterampilan tambahan yang dapat mendukung pengembangan diri sekaligus membuka peluang karier di masa depan.

Selain kuliah, Reza turut aktif di Himpunan Mahasiswa (HIMA PBA) sebagai bagian dari Divisi KOMINFO, serta terlibat dalam media kampus. 

Beragam aktivitas tersebut menuntut Reza untuk piawai membagi waktu. Ia menempatkan kuliah dan organisasi sebagai prioritas utama. Begitu kewajiban tersebut rampung, sisa waktunya dicurahkan untuk merancang desain agar seluruh porsinya berjalan seimbang.

Pola kerjanya pun mengalir tanpa sekat waktu yang kaku. Selagi siang hari menyisakan ruang luang, ia menyempatkan diri membuka aplikasi desain. Namun, ketika sedang banyak kesibukan dan tenggat kian dekat, ia sering menyelesaikannya malam hari.

Jika ditarik ke belakang, perjalanan Reza di dunia desain grafis bermula saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu, ia melihat wallpaper bergaya racing di ponsel milik seorang temannya yang membuatnya penasaran.

 "Ketertarikan saya pada desain grafis berawal saat masih SMP. Waktu itu saya melihat wallpaper HP milik teman dengan desain bergaya racing yang menurut saya sangat menarik. Karena penasaran bagaimana proses pembuatannya, saya mulai mencari berbagai tutorial di internet dan mencoba belajar secara otodidak," kenang Reza.

Rasa penasaran tersebut perlahan berkembang menjadi hobi yang semakin serius. Kesempatan untuk mendalaminya datang pada awal 2021 ketika pandemi COVID-19 membatasi berbagai aktivitas di luar rumah.

 "Mulai serius menekuni desain grafis pada awal tahun 2021, tepat saat pandemi COVID-19. Saat itu aktivitas di luar rumah dan bersosialisasi cukup terbatas, sehingga saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan mendalami dunia desain grafis. Hingga sekarang, proses belajar tersebut sudah berjalan sekitar lima tahun," ujarnya 

Mengikuti tren yang sedang berkembang saat itu, Reza mencoba membuat karya pertamanya berupa desain stiker motor. Meski hasilnya masih sederhana, momen tersebut menjadi pengalaman yang paling ia ingat karena untuk pertama kalinya ia berhasil menyelesaikan desain buatannya sendiri.

 "Kalau nggak salah, desain pertama saya itu stiker motor. Karena waktu itu memang lagi tren desain stiker motor, jadi saya coba bikin sendiri. Pas selesai, rasanya senang dan cukup bangga karena akhirnya bisa bikin desain sendiri," ujar Reza.

Ketika mengingat kembali hasil karyanya, Reza mengaku sempat tersenyum. Saat itu ia belum memahami berbagai prinsip dasar desain, seperti hierarki visual maupun tata letak. Namun, dari prosesnya ia terus belajar hingga kemampuannya berkembang.

Untuk mendukung proses berkarya melalui ponsel, Reza memanfaatkan beberapa aplikasi yang memiliki tools dan fungsi berbeda sesuai kebutuhan setiap desain yang dikerjakannya.

PixelLab menjadi aplikasi yang paling sering digunakannya untuk membuat logo karena fiturnya dianggap lebih praktis. Sementara Canva dimanfaatkan untuk membuat poster maupun desain antarmuka (UI/UX), sedangkan ibisPaint X digunakan ketika mengerjakan ilustrasi atau gambar digital.

Berbagai aplikasi tersebut tidak langsung dikuasai dalam waktu singkat. Pada awalnya, proses belajar dilakukan secara otodidak dengan mengandalkan berbagai tutorial dan referensi di internet, termasuk melalui Instagram dan TikTok, untuk memahami dasar-dasar desain serta mengikuti perkembangan tren.

Selain itu, ia terbiasa mencari referensi dari lingkungan sekitar dengan memperhatikan desain baliho, spanduk, maupun media promosi lainnya saat bepergian untuk melihat bagaimana sebuah tata letak disusun.

Perjalanan belajarnya kemudian memasuki babak baru setelah seorang relasi mengajaknya bergabung dengan komunitas desain grafis daring bernama Ruang Edit.

 "Dari situ saya jadi sadar kalau ternyata masih banyak ilmu dan teknik desain yang belum saya ketahui," ujarnya.

Kesadaran tersebut memperluas cara pandangnya terhadap desain. Dalam komunitas itu, ia aktif berdiskusi, mengikuti latihan, dan menerima masukan yang memperkaya wawasan serta mengasah keterampilan desainnya.

Berbekal pengetahuan dan wawasan yang terus bertambah, kemampuan desain Reza pun berkembang semakin pesat. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya ia merasa minder ketika melihat banyak desainer lain menggunakan perangkat yang jauh lebih lengkap.

 "Tentu saya ada rasa minder ketika melihat banyak editor lain menggunakan perangkat yang lebih lengkap seperti laptop atau tablet. Namun, seiring berjalannya waktu saya biasa saja dan menyadari bahwa setiap orang memiliki proses yang berbeda," kata Reza.

Meskipun begitu, Reza tetap harus menghadapi berbagai keterbatasan. Saat mengerjakan desain dengan banyak elemen, perangkat yang digunakannya sering mengalami penurunan performa.

 "Tantangan terbesar tentu dengan keterbatasan performa perangkat. Apalagi ketika mengerjakan desain dengan banyak elemen atau dalam waktu yang cukup lama, HP sering mengalami penurunan performa, seperti cepat panas atau menjadi kurang responsif," ujar Reza.

Kondisi tersebut membuatnya beberapa kali menghentikan proses pengerjaan. Setelah ponselnya kembali stabil, ia melanjutkan pekerjaan secara bertahap agar hasil desain tetap maksimal.

Selain itu, tak sedikit yang sempat meragukan kemampuannya lantaran ia hanya mendesain menggunakan ponsel. Kendati demikian, keraguan itu tidak pernah menghentikan langkahnya. Reza memilih membuktikan kapasitasnya secara nyata melalui karyanya, daripada perdebatan.

Di balik konsistensi tersebut, Reza juga tak luput dari fase ketika ide-idenya menemui jalan buntu. Hasil desain yang ia garap kerap terasa monoton, hingga ia menyadari pentingnya mencari cara untuk menyegarkan kembali kreativitasnya.

Ketika menghadapi situasi tersebut, ia biasanya aktif mencari referensi baru, memantau tren yang sedang berkembang, hingga berdiskusi dengan rekan-rekan di komunitas untuk memperluas sudut pandang.

Meski begitu, Reza memandang setiap hambatan sebagai bagian yang lumrah dalam proses belajar. Ia meyakini bahwa keahlian tidak lahir secara instan, melainkan ditempa melalui latihan konsisten serta tekad kuat untuk terus memperbaiki diri.

"Yang membuat saya tetap bertahan adalah karena saya benar-benar menikmati proses mendesain. Bagi saya, setiap kesulitan bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses belajar yang harus dilewati," ujarnya.

Kesadaran untuk menikmati setiap proses inilah yang membuatnya tetap bertahan. Keyakinan itu pula yang membawanya terus konsisten melahirkan karya-karya terbaik hingga saat ini.

Perlahan, usaha yang dilakukannya mulai mendapat respons positif dari lingkungan sekitar. Teman-teman hingga dosen mulai mengenal kemampuan Reza dan mempercayakan berbagai kebutuhan desain kepadanya.

Logo, poster, hingga pamflet menjadi beberapa karya yang mulai ia kerjakan. Kepercayaan tersebut membuat Reza merasa keterampilan yang dimilikinya mulai diapresiasi.

Kepercayaan tersebut kemudian meluas ke dunia digital. Saat Reza mengunggah video proses desain di TikTok, tidak lama setelah itu seseorang menghubunginya lewat pesan langsung untuk memercayakan sebuah proyek desain.

Dari situ, Reza melihat bagaimana respons publik di media sosial perlahan membuka peluang pekerjaan freelance.

Berbagai proyek pun berdatangan, dan dari sekian banyak karya yang pernah ia garap, merancang desain karakter menjadi pengalaman paling berkesan. Menurut Reza, prosesnya menuntut waktu dan tingkat ketelatenan yang jauh melampaui medium visual lain.

Mulai dari merinci bentuk visual hingga mencocokkan warna, setiap tahap dikerjakan dengan penuh presisi. Dari proses tersebut, ia memetik pelajaran bahwa membuat sebuah karakter bukan sekadar soal kreativitas, melainkan juga membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Kemampuan desain grafis juga membawa banyak perubahan dalam kehidupannya. Selain lebih dikenal di lingkungan kampus, Reza memperoleh pengalaman bekerja dengan klien serta memperluas relasi.

Pengalaman tersebut ikut membentuk cara berpikirnya. Ia menjadi lebih percaya diri, lebih teliti dalam bekerja, dan lebih terbuka menerima kritik maupun saran sebagai bahan untuk terus berkembang.

Ke depannya, Reza ingin terus meningkatkan kemampuan yang telah dibangunnya selama ini. Ia berencana memperbanyak referensi, mengikuti perkembangan tren desain, serta memperluas jaringan dengan sesama desainer.

Ia juga ingin menyusun portofolio yang lebih profesional dan menampilkan hasil karyanya melalui media seperti Instagram, LinkedIn, dan Pinterest agar dapat menjangkau peluang kerja yang lebih luas.

Menutup perbincangan, Reza menyampaikan pesan kepada anak muda yang masih merasa terhambat oleh keterbatasan fasilitas. Menurutnya, kondisi tersebut bukan alasan untuk berhenti belajar atau mengubur keinginan untuk berkarya.

"Dilarang menurunkan skill hanya karena sebuah kekurangan yang kita hadapi. Jadikan setiap keterbatasan sebagai alasan untuk terus berkembang, bukan untuk berhenti berkarya," pungkasnya.


Editor: Yasa Sofiulloh, Mahasiswa Komunikasi PJJ, Universitas Siber Asia.

Type above and press Enter to search.