![]() |
| Potret Rakkison JeVe (Sumber: Instagram Rakkison JeVe) |
Suaratime, Bangka Belitung - Tidak semua perjalanan dimulai dari dukungan. Bagi Jason Valeryan, yang kini dikenal sebagai Rakkison JeVe, semuanya justru berangkat dari keterbatasan, keraguan, dan penilaian orang lain yang meremehkan.
Lahir di Pangkal Pinang pada 3 April 1999, ketertarikannya pada game sudah muncul sejak kecil. Namun di rumah, bermain game bukan sesuatu yang didorong. Ia hanya diberi waktu terbatas di akhir pekan, sehingga harus mencari celah sendiri untuk tetap bermain. Bahkan, ia pernah berbohong demi bisa mengakses warnet. Game bagi dirinya bukan sekadar hiburan, tetapi ruang untuk merasa memiliki kendali.
Di sekolah, situasinya tidak lebih baik. Nilainya sering berada di posisi bawah, dan ia sempat mengalami bullying. Lingkungan sekitarnya membentuk narasi bahwa ia tidak memiliki masa depan yang jelas. Alih-alih langsung melawan narasi itu, ia justru menyimpannya dan menjadikannya sebagai dorongan untuk membuktikan sebaliknya.
Tahun 2019 menjadi titik awal yang lebih serius ketika ia mulai membangun channel YouTube Rakkison JeVe. Dengan perangkat sederhana, ia tetap konsisten melakukan live streaming. Pertumbuhannya tidak instan. Subscriber pertamanya baru mencapai 1.000 di akhir tahun, namun itu menjadi validasi awal bahwa jalur yang ia pilih mulai menunjukkan arah.
Seiring waktu, ia mulai mengeksplorasi lebih banyak jenis game dan membentuk gaya yang lebih khas. Ia tidak hanya bermain, tetapi juga membangun interaksi dan identitas sebagai seorang entertainer. Pada tahun 2024, Rakkison JeVe sempat masuk dalam jajaran streamer trending game dan bahkan berhasil mencapai posisi trending ke-6 dalam kategori game, sebuah pencapaian yang memperkuat posisinya di industri kreator.
Perkembangannya terus berlanjut. Hingga Juli 2026, akun TikTok-nya telah mencapai 34,4 ribu pengikut, sementara channel YouTube-nya menembus 220 ribu subscriber dengan total penonton mencapai 25 juta. Angka ini bukan hanya menunjukkan pertumbuhan, tetapi juga konsistensi dalam membangun audiens dari waktu ke waktu.
Perjalanan ini pada dasarnya bukan tentang game semata. Ini adalah proses membalik narasi, dari yang diremehkan menjadi seseorang yang mulai diperhitungkan. Bukan melalui jalan instan, tetapi lewat konsistensi, adaptasi, dan keberanian untuk terus berkembang meskipun titik awalnya tidak menjanjikan.
