![]() |
| Nathasia Jeannet Christy |
Penulis : Nathasia Jeannet Christy, Ilmu keperawatan, Universitas Indonesia.
Suara Time, Opini - Keperawatan merupakan sektor kesehatan yang sangat penting dalam sistem kesehatan. Perawat terlibat dalam memberikan layanan keperawatan kepada pasien mereka dan juga berfungsi sebagai pendidik, pendukung, pembicara, dan kolaborator dalam tim medis. Perawat sangat penting dalam memberikan perawatan pasien sepanjang waktu di berbagai institusi kesehatan. Namun demikian, terlepas dari peran pentingnya, sektor keperawatan di Indonesia terus menghadapi beberapa kendala, terutama terkait pengakuan profesional dan kesejahteraan.
Menariknya, profesi ini, yang terkadang dipuji sebagai profesi yang terhormat, belum mencapai pengakuan penuh yang sesuai dengan tugas dan tuntutannya. Banyak perawat mengalami stres kerja yang signifikan, bahaya keselamatan, dan gaji yang dianggap tidak memadai dibandingkan dengan keterampilan dan kontribusi mereka. Skenario ini seringkali memicu pertanyaan tentang pelestarian profesionalisme keperawatan dalam menghadapi kendala-kendala tersebut. Artikel ini akan mengkaji realitas profesi keperawatan di Indonesia, kesenjangan dalam pengakuan dan kesejahteraan, persamaan dengan negara lain, faktor-faktor penyebabnya, dan aspirasi untuk generasi perawat selanjutnya di Indonesia.
Realita Profesi Keperawatan di Indonesia
Jalan untuk menjadi seorang perawat bukanlah jalan yang cepat atau mudah. Pendidikan keperawatan adalah proses yang panjang yang mencakup pengetahuan teoretis, pengalaman praktis, dan pengembangan sikap profesional. Setelah menyelesaikan pendidikan, perawat harus mempertahankan kompetensi medis, kemampuan interaksi terapeutik, kemampuan pengambilan keputusan, dan kapasitas untuk menangani skenario pasien yang rumit.
Profesi keperawatan di Indonesia seringkali ditandai dengan beban kerja yang besar. Beberapa perawat dituntut untuk menangani banyak pasien secara bersamaan, bekerja dalam shift, mengelola krisis, dan memberikan dukungan mental kepada pasien dan keluarga mereka.
Pekerjaan ini tidak hanya menimbulkan kelelahan fisik tetapi juga bahaya psikologis, termasuk stres terkait pekerjaan dan kelelahan emosional (burnout). Studi menunjukkan bahwa beban kerja yang tinggi dapat memperburuk stres kerja di kalangan tenaga keperawatan, yang berdampak buruk pada kualitas perawatan dan kesehatan emosional perawat (Putri dkk., 2022).
Selain itu, perawat menghadapi risiko keselamatan dan kesehatan kerja. Paparan penyakit menular, komplikasi dari intervensi medis, dan risiko agresi verbal oleh pasien dan keluarga mereka adalah tantangan umum yang dihadapi dalam praktik rutin. Namun demikian, kenyataan ini seringkali tidak dipahami oleh masyarakat umum.
Kesenjangan Imbalan dan Kesejahteraan Perawat
Terlepas dari ekspektasi yang tinggi terhadap profesionalisme, beberapa perawat di Indonesia masih merasa bahwa kesejahteraan mereka tidak sebanding dengan tugas pekerjaan mereka. Dalam beberapa kasus, remunerasi perawat dianggap tidak cukup untuk mengimbangi risiko yang terkait, jam kerja yang panjang, dan kompetensi yang dibutuhkan. Skenario ini mengkhawatirkan karena kesejahteraan tenaga kesehatan sangat terkait dengan efektivitas keseluruhan layanan kesehatan.
Selain pertimbangan ekonomi, profesi keperawatan menghadapi hambatan sosial terkait rasa hormat. Beberapa orang masih memandang perawat hanya sebagai "pembantu dokter," meskipun profesi keperawatan memiliki otoritas, keahlian, dan pedoman praktik yang unik, sebagaimana diatur dalam undang-undang profesi medis Indonesia. Persepsi ini secara tidak langsung dapat memengaruhi rasa hormat yang diberikan kepada perawat dan identitas profesional mereka.
Penulis, yang pernah belajar keperawatan dan saat ini berpraktik sebagai perawat, mencatat adanya kesenjangan antara besarnya kewajiban profesional dan manfaat yang diperoleh. Perawat seringkali diwajibkan untuk menjaga profesionalisme dalam keadaan sulit, bahkan ketika dihadapkan dengan kelelahan fisik dan mental. Meskipun demikian, banyak perawat tetap menjalankan tanggung jawab mereka dengan penuh komitmen karena merasa memiliki kewajiban etis kepada pasien mereka.
Perbandingan dengan Profesi Keperawatan di Luar Negeri
Berbeda dengan negara-negara makmur seperti AS, Australia, atau Kanada, profesi keperawatan seringkali mendapatkan penghargaan yang lebih besar atas kesejahteraan dan kemandirian profesionalnya. Di negara-negara tersebut, perawat mendapatkan keuntungan dari jalur karier yang jelas, peluang pertumbuhan profesional yang melimpah, dan remunerasi yang relatif tinggi yang sesuai dengan keahlian dan spesialisasi mereka.
Selain itu, gagasan tentang otonomi perawat telah berkembang secara signifikan. Dalam sistem perawatan kesehatan tertentu, perawat memiliki kekuasaan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan medis di dalam bidang praktik profesional mereka. Studi oleh Aiken dkk. (2018) menunjukkan bahwa lingkungan kerja keperawatan yang membantu, yang dicirikan oleh pengakuan profesional dan rasio personel yang optimal, memengaruhi kualitas perawatan pasien dan kepuasan kerja perawat.
Hal ini menunjukkan bahwa menghargai profesi keperawatan tidak hanya mencakup imbalan, tetapi juga pengakuan profesi, keamanan kerja, dan prospek kemajuan.
Faktor-faktor Penyebab Ketidaksetaraan
Berbagai alasan berkontribusi pada masalah yang terus berlanjut dalam kesejahteraan dan pengakuan sektor keperawatan di Indonesia. Sistem kesehatan yang masih berkembang telah mengakibatkan alokasi tenaga kesehatan dan sumber daya keuangan yang tidak memadai. Kedua, proporsi perawat terhadap pasien di beberapa institusi kesehatan seringkali tidak memadai, sehingga meningkatkan beban kerja.
Ketiga, kebijakan terkait kesejahteraan tenaga kesehatan belum diimplementasikan secara komprehensif, terutama untuk perawat di institusi tertentu. Pandangan publik yang keliru terhadap sektor keperawatan juga memengaruhi penghargaan masyarakat terhadap bidang tersebut.
Tidak adanya perwakilan profesional merupakan hambatan yang signifikan. Sejumlah besar perawat terus memprioritaskan pemberian layanan di atas upaya aktif untuk meningkatkan daya tawar profesi selama proses regulasi.
Solusi dan Harapan sebagai Calon Perawat Profesional
Meningkatkan kompetensi perawat memerlukan peningkatan kesejahteraan dan pengakuan profesional secara bersamaan. Pemerintah harus meningkatkan regulasi terkait kesejahteraan pekerja kesehatan, menetapkan rasio kerja-ke-kerja yang optimal, dan memberikan perlindungan kerja yang memadai bagi perawat.
Selain itu, organisasi profesi harus meningkatkan lobi untuk memperkuat peran perawat dalam sistem perawatan kesehatan. Perawat harus terus meningkatkan kompetensi mereka melalui pembelajaran berkelanjutan, sertifikasi, dan peningkatan keterampilan praktis agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Penulis, seorang mahasiswa dan perawat, mengakui pentingnya menjunjung tinggi profesionalisme di tengah berbagai masalah yang melekat dalam bidang ini. Pengalaman profesional saya selama studi telah memberikan pemahaman bahwa profesi ini membutuhkan kesabaran, empati, dan dedikasi yang teguh. Meskipun manfaatnya terkadang mengecewakan, profesi keperawatan tetap sangat penting, menawarkan kesempatan untuk berada di sana dan membantu pasien selama masa-masa sulit dalam hidup mereka.
Penutup
Keperawatan adalah profesi terhormat dengan tanggung jawab yang besar di sektor kesehatan. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penghargaan terhadap profesi ini di Indonesia masih menghadapi beberapa masalah, baik terkait kesejahteraan maupun pengakuan sosial. Dibandingkan dengan negara lain, sektor keperawatan di Indonesia membutuhkan peningkatan dalam sistem, peraturan, dan pengakuan profesional. Oleh karena itu, koordinasi antara pemerintah, organisasi profesi, lembaga pendidikan, dan masyarakat umum sangat penting untuk meningkatkan signifikansi ekonomi dan sosial bidang keperawatan.
