![]() |
| Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kudus. (Foto: Dok/Ist). |
Suara Time, Opini - Selama ini berkembang anggapan bahwa siswa yang memiliki cita-cita tinggi akan secara otomatis menunjukkan etos belajar yang kuat. Namun, temuan empiris di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kudus menunjukkan kenyataan yang berlawanan. Penelitian ini mengungkap adanya kesenjangan signifikan antara aspirasi akademik siswa dan perilaku belajar mereka di ruang kelas.
Studi yang melibatkan 718 responden ini menggunakan metode campuran (mixed methods), dengan mengombinasikan data kuesioner siswa dan wawancara mendalam bersama guru. Secara kuantitatif, mayoritas siswa menyatakan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Mereka bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, meraih karier yang mapan, serta membanggakan orang tua. Namun, data kualitatif dari observasi dan wawancara guru menunjukkan realitas yang berbeda dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
Para pendidik mengidentifikasi fenomena yang dapat disebut sebagai motivasi pasif. Siswa tampak memiliki keinginan untuk sukses, tetapi tidak diikuti dengan keterlibatan aktif dalam proses belajar. Di dalam kelas, banyak siswa terlihat melamun, kurang berpartisipasi dalam diskusi, serta menunda penyelesaian tugas akademik. Kondisi ini mengindikasikan bahwa motivasi yang dimiliki siswa lebih bersifat deklaratif daripada operasional.
Analisis data kuesioner menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik seperti dorongan untuk meraih masa depan yang lebih baik relatif tinggi. Sebaliknya, motivasi intrinsik, yakni dorongan belajar yang berasal dari minat dan kesadaran diri, cenderung lemah. Masalah utama yang dihadapi siswa bukanlah keterbatasan kemampuan akademik, melainkan gangguan konsentrasi dan faktor lingkungan yang menghambat proses belajar.
Setidaknya terdapat tiga faktor dominan yang menyebabkan motivasi belajar siswa tidak terwujud dalam tindakan nyata. Pertama, distraksi penggunaan handphone (gadget). Banyak siswa mengakui kesulitan melepaskan diri dari game online dan media sosial, sehingga aktivitas belajar dipersepsikan sebagai beban yang membosankan dan kerap ditunda. Kedua, lingkungan belajar yang kurang kondusif. Tingkat konsentrasi siswa relatif rendah, bahkan gangguan kecil seperti kebisingan di kelas sudah cukup untuk mengalihkan fokus belajar mereka. Ketiga, kelelahan fisik. Tidak sedikit siswa yang mengaku sering mengantuk dan kelelahan, kondisi yang secara langsung menurunkan kemampuan fokus meskipun secara psikologis mereka memiliki keinginan untuk berhasil.
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi guru dan orang tua. Upaya memotivasi siswa tidak cukup hanya dengan menekankan iming-iming masa depan atau pemberian penghargaan semata. Penguatan motivasi intrinsik perlu menjadi perhatian utama agar siswa memiliki daya tahan dan kemandirian dalam belajar. Guru dituntut untuk menyesuaikan strategi pembelajaran agar lebih kontekstual, sederhana, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, bukan sekadar berorientasi pada pencapaian target materi kurikulum.
Di sisi lain, peran orang tua juga sangat krusial, khususnya dalam membantu anak mengelola penggunaan teknologi serta memastikan kesiapan fisik dan mental sebelum mengikuti kegiatan belajar. Lingkungan rumah yang mendukung akan memperkuat fondasi kebiasaan belajar yang positif.
Pada akhirnya, kesuksesan akademik tidak cukup hanya tercantum dalam lembar kuesioner atau sebatas cita-cita yang diucapkan. Tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan mengubah niat besar tersebut menjadi disiplin kecil yang dijalankan secara konsisten setiap hari.
*) Penulis adalah Maulia Nurul Rahmawati, Mahasiswa Psikologi Universitas Muria Kudus.

Komentar0