GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Wisata Pendakian Gunung untuk Keberlangsungan Ekosistem Ekonomi Warga Sekitar

Warung Mbok Yem yang merupakan warung legendaris di Gunung Lawu. (Foto: Dok/Ist).
Suara Time, Pariwisata - Gunung adalah suatu bentang alam yang menjulang tinggi di atas permukaan bumi. Gunung menjadi rumah besar bagi banyak makhluk hidup mulai dari pohon, hewan, sampai sumber air yang mengalir ke desa ataupun kota di sekitarnya.

Gunung menyimpan keindahan alam yang luar biasa, misalnya saja proses matahari terbit dan terbenam yang spektakuler. Beberapa gunung juga memiliki karakteristik unik seperti kawah yang indah, lautan awan, sampai padang rumput atau savana yang begitu luas, dan salju abadi.

Sekarang ini gunung seperti sudah menjadi destinasi wisata yang wajib kita kunjungi saat musim liburan tiba. Banyak orang berbondong-bondong pergi mendaki gunung entah untuk sekedar menikmati keindahan alamnya, mencari ketenangan, sembuh dari tekanan hidup, mencoba aktivitas menantang, mencari spot foto yang menarik, merasa dekat dengan alam atau bahkan fomo saja.

Di sisi lain, gunung juga menjadi sumber rezeki bagi masyarakat di sekitarnya. Setiap aktivitas pendakian yang berlangsung secara berkelanjutan ternyata dapat memberikan dampak langsung pada kesejahteraan warga yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan.

1. Sumber Penghasilan Baru bagi Masyarakat

Kedatangan pendaki membuka berbagai peluang usaha lokal, antara lain:

  • Penjualan makanan dan minuman

Salah satu yang populer di dunia pendakian adalah Warung Mbok Yem yang merupakan warung legendaris di Gunung Lawu. Warung ini didirikan oleh Wakiyem pada tahun 1980-an. Saya sendiri sudah pernah mengunjungi Warung Mbok Yem di atas Gunung Lawu. Tapi ternyata sekarang bukan hanya Warung Mbok Yem yang ada di sana, banyak warung lainnya yang buka untuk menjadi tempat singgah bagi para pendaki sekaligus menjadi tempat mencari penghasilan bagi pemilik-pemilik warung.

Warung Mbok Yem juga bisa membuat ekosistem ekonomi bagi orang-orang sekitarnya. Mulai dari UMKM yang menjual bahan pangan, minum-minuman instan, makanan instan, hingga porter yang membawakan bahan-bahan ke atas gunung juga ikut berdampak.

  • Penyediaan homestay dan basecamp

Basecamp menjadi tempat istirahat bagi pendaki yang ingin memulai pendakian dan selesai pendakian. Biasanya basecamp terletak di bawah kaki gunung, yang dikelola oleh perseorangan atau kelompok warga sekitar. Salah satu yang pernah saya singgahi adalah Warung Abah Anwar yang terletak di kaki Gunung Gede via Putri.

Warung Abah Anwar tidak hanya menyediakan penginapan, tapi juga ada penyewaan alat-alat menjadi, kebutuhan logistic pendakian, bahkan makanan siap saji juga ada di sana.

  • Penyewaan alat camping

Dengan adanya jasa penyewaan, pelaku usaha baik individu maupun UMKM dapat memperoleh pendapatan dari penyediaan tenda, sleeping bag, kompor portable, jaket gunung, hingga perlengkapan masak.

Bagi pendaki pemula atau pelajar, membeli perlengkapan camping bisa sangat mahal. Sewa alat membuat aktivitas outdoor lebih terjangkau → jumlah wisatawan meningkat → konsumsi masyarakat lokal ikut meningkat.

  • Jasa pemandu atau porter

Jasa pemandu dan porter menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian masyarakat di kawasan wisata alam. Banyak warga lokal yang memiliki pengetahuan medan gunung, kemampuan navigasi, atau fisik kuat dapat bekerja sebagai porter pembawa logistik dan perlengkapan, pemandu pendakian, serta instruktur survival/outdoor yang dapat memberikan sumber pendapatan tetap tanpa harus merantau ke kota.

  • Penjualan kebutuhan logistik mendaki

Pendapatan ini dapat menjadi tambahan atau bahkan sumber penghasilan utama bagi warga di daerah yang sebelumnya sulit dijangkau ekonomi formal.

2. Pelestarian Alam sebagai Investasi Ekonomi

Menariknya, semakin baik kondisi lingkungan gunung, semakin tinggi pula minat wisatawan. Hal ini menciptakan kesadaran kolektif bahwa menjaga hutan, jalur pendakian, dan kebersihan gunung merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekonomi warga.

Upaya seperti pengelolaan sampah, pembatasan kuota pendaki, dan edukasi “leave no trace” bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga berdampak positif pada pengalaman wisata.

3. Mendorong Kebangkitan Produk UMKM Lokal

Pendakian sering kali menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal dan membeli produk unggulan lokal, misalnya:

  • Madu hutan
  • Kopi arabika pegunungan
  • Kerajinan tangan
  • Souvenir khas daerah
  • Makanan tradisional

Pemasaran ini meningkatkan eksposur UMKM lokal ke pasar yang lebih luas, bahkan hingga platform digital.

4. Membuka Kesempatan Kerja Generasi Muda

Anak muda di desa yang dulu banyak pergi merantau kini memiliki lebih banyak peluang di kampung halaman, seperti menjadi guide wisata, konten kreator daerah, ataupun operator basecamp. Hal ini menjaga keberlangsungan sosial dan menekan angka urbanisasi.

5. Ekonomi Tumbuh, Budaya Tetap Terjaga

Dengan keterlibatan masyarakat dalam ekowisata pendakian, budaya lokal semakin diangkat melalui:

  • Ritual atau tradisi penyambutan pendaki
  • Cerita rakyat dan sejarah gunung
  • Kuliner khas
  • Produk budaya sebagai identitas wisata

Pendakian bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga pengalaman budaya.


*) Penulis adalah Mutiarani Eka Pratiwi, Mahasiswa Akuntasi Universitas Pamulang.

Komentar0

Type above and press Enter to search.