![]() |
| Ketua Umum PII, Abdul Qohar Ruslan, menegaskan bahwa para pelajar mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto: Dok/Ist). |
Ketua Umum PII, Abdul Qohar Ruslan, menegaskan bahwa
para pelajar mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang
telah berjalan selama enam bulan. Namun, ia menekankan pentingnya evaluasi,
khususnya agar program ini tidak hanya bermanfaat bagi siswa, tetapi juga mendorong
produksi dalam negeri.
“Kita ingin mengevaluasi walaupun di satu sisi kita
juga mendukung agar program MBG terus dilanjutkan. Harapannya, evaluasi ini
bisa menjadi masukan untuk mendukung produksi dalam negeri,” ungkap Qohar.
Direktur Program, Agus Suherman Tanjung, menambahkan
bahwa dialog ini dilakukan sebagai bentuk kritik konstruktif terhadap program
prioritas pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, setelah berjalan satu semester, ada sejumlah catatan penting,
termasuk kasus keracunan MBG yang sempat mencoreng niat baik pemerintah.
“Kasus seperti itu bisa menimbulkan trauma bagi
siswa lain. Karena itu, semua pihak yang terlibat harus benar-benar serius
menjalankan kebijakan ini,” tegas Agus.
Ia juga menyoroti kebijakan impor wadah makanan
pasca terbitnya Permendag Nomor 22 Tahun 2025, yang membuat food tray tidak
lagi masuk kategori larangan dan pembatasan impor.
“Masak ompreng kita harus impor? Kalau aturan ini
tidak ditinjau ulang, maka kebijakan pro-produksi dalam negeri yang menjadi
garis besar presiden tidak diterjemahkan dengan baik oleh para pembantunya,”
ujarnya.
Dalam dialog ini, para pelajar menyampaikan tiga
poin utama:
1. Mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam
mendukung produksi dalam negeri.
2. Mendukung program MBG dengan berbagai perbaikan
ke depan.
3. Mendesak agar program MBG segera merata demi
keadilan bagi seluruh siswa di Indonesia.
Hadir pula sejumlah narasumber dari berbagai
kalangan, di antaranya: H. Hasan Basri, S.SI., APT Sekjen DPP ADAMBI (Dewan
Pimpinan Pusat Asosiasi Dapur Makan Bergizi Indonesia), Ardy Susanto, S.H.,
M.H,. M. Ikom Sekjen APMAKI ( Asosiasi Produsen Wadah Makanan Indonesia), Amsar
A. Dulmanan (Akademisi UNUSIA / Sosiolog).
Ardy Susanto menyoroti permasalahan pada peralatan
makan yang digunakan dalam program MBG. Menurutnya, ada kasus penggunaan bahan
yang tidak sesuai standar.
“Bukan stainless 304 seperti yang tertera, melainkan
stainless 201. Padahal 201 berbahaya karena dalam jangka panjang bisa berdampak
pada saraf, hati, dan ginjal,” jelas Ardy.
Sementara itu, Hasan Basri menekankan pentingnya
aspek gizi dan daya tarik menu untuk anak-anak.
“Secara gizi sebenarnya sudah sesuai dengan lima
unsur utama—karbohidrat, protein nabati, protein hewani, mineral, dan vitamin.
Namun, masalahnya ada pada penyajian. Menu yang disajikan sering tidak menarik
secara visual bagi anak-anak,” ujar Hasan.
Melalui forum ini, Poros Pelajar berharap evaluasi yang dilakukan bisa menjadi masukan berharga bagi pemerintah agar program MBG tidak hanya meningkatkan kesehatan dan kecerdasan pelajar, tetapi juga menggerakkan industri dalam negeri dan benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi bangsa.
