| Praktik pembuatan racun tikus oleh petani Desa Bejaten (Sumber: Dokumentasi Pribadi) |
KABUPATEN SEMARANG – Tim PPK Ormawa BEM FEB Undip
berkolaborasi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pabelan dalam
memberikan edukasi dan praktik pengendalian hama tikus kepada petani Desa
Bejaten, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Kegiatan tersebut diwujudkan
melalui Pojok Literasi Siaga Tani sebagai bagian dari Pilar Nawasena Tani
dengan tema “Gerakan Pengendalian Hama Tikus”.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (30/7) di Gedung PKK
Desa Bejaten tersebut diikuti oleh 28 peserta yang terdiri dari perwakilan
Kelompok Tani Husodo Mulyo 1, Husodo Mulyo 2, Husodo Mulyo 3, Husodo Mulyo 4,
serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari Desa Bejaten. Melalui kegiatan ini,
peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengendalian hama secara
terpadu serta praktik yang dapat diterapkan untuk mengurangi risiko kerusakan
tanaman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program MENITI (Mentari
Cendekia, Nawasena Tani, Titian Wirausaha) yang dikembangkan Tim PPK Ormawa BEM
FEB Undip bersama masyarakat Desa Bejaten. Pilar Nawasena Tani berfokus pada
penguatan pengetahuan dan kapasitas petani melalui pembelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan pertanian di desa.
Dalam kegiatan tersebut, Tim PPK Ormawa BEM FEB Undip
menghadirkan Arif Zaky Alwi, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dari BPP
Kecamatan Pabelan, sebagai narasumber. BPP Kecamatan Pabelan turut mendukung
kegiatan melalui penyediaan sarana praktik dan berbagi pengetahuan terkait
pengendalian hama tikus. Pemerintah Desa Bejaten juga memberikan dukungan
berupa tempat, sarana prasarana, serta sumber daya pendukung kegiatan.
Kegiatan diawali dengan diskusi dan pemetaan permasalahan
pertanian yang dihadapi para petani. Peserta dibagi ke dalam kelompok kecil
untuk mengidentifikasi berbagai risiko yang dapat memengaruhi hasil pertanian,
seperti serangan hama, kekeringan, banjir, hingga fluktuasi harga hasil panen.
Setelah sesi diskusi, peserta mengikuti praktik pengendalian
hama tikus secara langsung. Dalam praktik tersebut, beras dicampurkan dengan
racun tikus Racumin dan direkatkan menggunakan minyak jelantah untuk membentuk
umpan. Peserta kemudian mendapatkan penjelasan mengenai cara menempatkan umpan
pada area lahan yang memiliki indikasi sering dilalui tikus.
Umpan ditempatkan dengan menggunakan sekam sebagai alas,
kemudian ditutup kembali dengan sekam setelah umpan diletakkan. Praktik
tersebut dilakukan agar peserta dapat memahami penerapan pengendalian hama
secara langsung dan mengetahui lokasi penempatan umpan yang sesuai dengan
kondisi lahan.
“Kami sengaja mengangkat tema pengendalian hama tikus karena
ini adalah masalah yang paling sering dikeluhkan oleh petani di Desa Bejaten.
Dengan adanya praktik langsung, petani tidak hanya mendengar teori, tetapi juga
bisa mempraktikkan cara pembuatan umpan dan penempatannya yang tepat dan aman,”
ujar Muflih Nabiha Adriano, selaku penanggung jawab kegiatan dari Tim Pelaksana
PPK Ormawa.
Antusiasme peserta terlihat selama proses diskusi dan
praktik berlangsung. Para petani aktif mengikuti tahapan kegiatan serta berbagi
pengalaman mengenai kondisi serangan hama tikus yang mereka temui di lahan
masing-masing. Tim pelaksana juga memberikan pendampingan selama praktik untuk
membantu peserta memahami setiap tahapan kegiatan.
Melalui kegiatan tersebut, Tim PPK Ormawa BEM FEB Undip
mendorong adanya pengendalian hama tikus secara lebih terkoordinasi
antarpetani. Gerakan bersama diharapkan dapat membantu mengurangi risiko
kerusakan tanaman sekaligus mendukung produktivitas pertanian di Desa Bejaten.
Tim PPK Ormawa BEM FEB Undip berharap kegiatan Pojok
Literasi Siaga Tani dapat menjadi ruang belajar yang mendorong petani untuk
saling berbagi pengetahuan dan menerapkan praktik pertanian secara lebih
terarah. Pengendalian hama secara kolaboratif diharapkan dapat menjadi salah
satu langkah dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian di
Desa Bejaten.
Penulis: Grace Alice Tiantya Putri