| Dokumentasi bersama siswa kelas 2 SDN 1 Badran dan tim pelaksana |
Suaratime, Temanggung – Kuning untuk kebutuhan, merah untuk keinginan.
Dengan dua kartu sederhana itu, 21 siswa kelas 2 SDN 1 Badran, Kecamatan
Kranggan, Kabupaten Temanggung, belajar menentukan pilihan sebelum membeli
sesuatu. Kegiatan sosialisasi perbedaan kebutuhan dan keinginan tersebut
digelar oleh tim mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Selasa
(11/8/2026) sebagai upaya menanamkan dasar literasi keuangan sejak bangku
sekolah dasar.
| Siswa mengangkat kartu kuning atau merah pada sesi pre-test |
Literasi keuangan termasuk kecakapan hidup yang penting
ditanamkan sejak dini. Anak yang belum memahami konsep keuangan dasar
berpotensi berperilaku konsumtif di kemudian hari, sehingga pengenalannya perlu
dimulai dari hal yang paling mendasar, yaitu membedakan apa yang dibutuhkan dan
apa yang sekadar diinginkan. Karena siswa sekolah dasar lebih mudah memahami
sesuatu lewat contoh nyata dan gambar, kegiatan ini dirancang secara interaktif
dengan permainan, diskusi, dan aktivitas langsung, tidak hanya ceramah.
Kegiatan diawali dengan persiapan teknis, pembukaan, dan
perkenalan agar suasana antara tim pelaksana dan siswa menjadi akrab. Setelah
itu, siswa memainkan permainan tebak kartu. Setiap anak memegang satu kartu
kuning yang mewakili “kebutuhan” dan satu kartu merah yang mewakili
“keinginan”. Tim menampilkan gambar atau situasi di layar, siswa diberi waktu
sekitar tiga detik untuk berpikir, lalu setelah hitungan ketiga mereka
mengangkat kartu pilihannya sambil menyampaikan alasan. Ada 12 situasi yang
dimainkan, mulai dari membeli buku tulis baru karena buku lama sudah penuh
hingga membeli mainan karena melihat iklan.
Usai permainan, materi disampaikan melalui PowerPoint yang
ditayangkan dengan proyektor. Siswa diajak memahami bahwa kebutuhan adalah
sesuatu yang harus dipenuhi agar dapat hidup dan sehat, sedangkan keinginan
adalah sesuatu yang disukai tetapi tidak wajib dipenuhi. Materi juga menekankan
pentingnya menentukan prioritas sebelum membeli sesuatu, dengan contoh yang
dekat dengan keseharian mereka, seperti perlengkapan sekolah, makanan, pakaian,
jas hujan, mainan, dan barang bermerek. Beberapa siswa kemudian maju untuk
mengulas kembali materi, disusul ice breaking untuk menyegarkan fokus sebelum
evaluasi akhir.
Untuk evaluasi akhir, setiap siswa mengerjakan lembar kerja
“Kebutuhan vs Keinginan” secara individu. Mereka menggunting 12 gambar, di
antaranya rumah, makanan, air minum, tas sekolah, mainan, dan payung, lalu
meletakkannya di kolom yang sesuai. Kegiatan ditutup dengan pemberian hadiah
sebagai motivasi dan penguatan positif, pembagian poster atau brosur yang bisa
dibawa pulang untuk mengulang materi, serta dokumentasi bersama.
Siswa mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias,
aktif menjawab pertanyaan, dan bersemangat dalam permainan kartu. Guru juga
memberikan respons positif dan apresiasi terhadap kegiatan ini, yang
menunjukkan bahwa kegiatan dinilai bermanfaat dan sesuai dengan kebutuhan
siswa.
Hasil evaluasi memperkuat kesan tersebut. Pada permainan
kartu, dari 252 kesempatan menjawab (21 siswa dikalikan 12 soal), 221 jawaban
benar atau 87,7 persen. Soal tentang membeli buku tulis baru karena buku lama
sudah penuh dan membeli makanan karena belum makan dijawab benar oleh seluruh
siswa. Situasi yang paling menantang justru yang berkaitan dengan keinginan,
misalnya membeli tempat pensil baru yang modelnya lebih lucu padahal yang lama
masih bagus, yang dijawab benar oleh 15 siswa (71,4 persen). Pada lembar kerja
akhir, rata-rata nilai siswa mencapai 94,0. Sebanyak 8 siswa meraih nilai 100,
11 siswa meraih 91,7, dan 2 siswa meraih 83,3, sehingga tidak ada siswa yang
salah mengklasifikasikan lebih dari dua gambar. Terdapat selisih 6,3 poin
persentase dari hasil awal ke hasil akhir. Karena bentuk kedua tes berbeda,
angka ini lebih tepat dibaca sebagai gambaran perkembangan pemahaman siswa,
bukan pengukuran eksperimental yang ketat.
Bagi siswa, kegiatan ini memberi tiga bekal sekaligus.
Pertama, pemahaman yang lebih jelas tentang perbedaan kebutuhan dan keinginan,
karena konsep yang abstrak dibuat konkret lewat kartu, gambar, dan contoh dari
kehidupan mereka sendiri. Kedua, latihan menentukan prioritas, sebab dalam
permainan siswa harus memutuskan dengan cepat sambil tetap memikirkan alasan di
balik pilihannya. Ketiga, awal kebiasaan berpikir sebelum membeli. Hasil awal
menunjukkan bahwa godaan terbesar datang dari barang yang tampak menarik,
iklan, dan pengaruh teman, dan materi yang membahas prioritas serta barang
bermerek menyentuh langsung situasi seperti itu.
Kegiatan ini sejalan dengan SDGs 4 tentang Pendidikan
Berkualitas. Pendidikan yang baik tidak berhenti pada pelajaran akademik,
tetapi juga membekali anak dengan kecakapan hidup untuk mengambil keputusan
sehari-hari. Di SDN 1 Badran, literasi keuangan dasar disampaikan dengan cara
yang sesuai dengan cara belajar siswa kelas 2, yakni visual, menyenangkan, dan
melibatkan praktik langsung. Keterlibatan aktif siswa serta rata-rata nilai
94,0 pada evaluasi akhir menunjukkan bahwa pendekatan ini membantu siswa memahami
materi.
Kegiatan ini juga berkaitan dengan SDGs 12 tentang Konsumsi
dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Pola konsumsi yang bijak berawal dari
kebiasaan kecil, yaitu menimbang sebelum membeli. Siswa dilatih membedakan
barang yang benar-benar dibutuhkan dari barang yang hanya menarik karena iklan,
model, atau karena teman memilikinya. Bekal ini membantu mereka lebih siap
menghindari perilaku konsumtif di kemudian hari. Satu kali kegiatan memang
belum cukup untuk membentuk kebiasaan jangka panjang, tetapi ia menanamkan
fondasi awal bagi perilaku konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Sosialisasi di SDN 1 Badran menunjukkan bahwa pendidikan
tentang konsumsi bijak bisa dimulai dari hal sederhana: dua kartu berwarna,
beberapa gambar, dan suasana belajar yang menyenangkan. Antusiasme siswa,
respons positif guru, dan hasil evaluasi menjadi bukti bahwa pendekatan
edukatif dan interaktif cocok untuk anak sekolah dasar. Kegiatan ini relevan
dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, utamanya SDGs 4 dan SDGs 12.
Penulis
Desvania Nayunda Indrastika