GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Anak Krakatau Tidak Pernah Tidur, Seberapa Siap Kita Menghadapi Erupsi?

Ilustrasi- (Foto: Dok/Ist). 

Suara Time, Kolom - Gunung api tidak pernah benar-benar menjanjikan kapan ia akan diam dan kapan kembali menunjukkan kekuatannya. Di Indonesia, salah satu pengingat paling nyata tentang hal itu adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Nama Krakatau telah lama menjadi bagian dari sejarah kebencanaan Indonesia. Letusan dahsyat pada 1883 bukan hanya mengubah bentang alam, tetapi juga meninggalkan catatan panjang tentang besarnya risiko yang dapat ditimbulkan sebuah gunung api. Letusan tersebut disertai tsunami besar yang menelan puluhan ribu korban jiwa dan dampaknya dirasakan hingga wilayah yang sangat jauh.

Setelah sebagian besar tubuh Krakatau runtuh, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut tidak berhenti. Gunung Anak Krakatau kemudian muncul dari kawasan bekas Krakatau pada akhir dekade 1920-an dan hingga kini tetap menjadi salah satu gunung api aktif yang perlu dipantau.

Peristiwa tersebut seharusnya mengajarkan satu hal penting: gunung api boleh terlihat tenang, tetapi kesiapsiagaan manusia tidak boleh ikut tenang.

Pada awal September 2026, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Berdasarkan laporan Badan Geologi, erupsi berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Aktivitas tersebut menghasilkan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah.

BMKG juga melakukan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk sebaran abu, kondisi atmosfer, penerbangan, dan kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Hingga 6 September 2026, pemantauan multi-sensor BMKG tidak menunjukkan adanya anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami akibat rangkaian erupsi tersebut.

Informasi itu tentu memberikan gambaran bahwa aktivitas vulkanik dapat dipantau dengan berbagai instrumen. Namun, persoalan yang lebih besar justru berada di luar alat pemantauan: seberapa siap masyarakat ketika kondisi berubah dengan cepat?

Pertanyaan tersebut penting karena ancaman Anak Krakatau tidak berhenti pada erupsi dan abu vulkanik.

Kita masih mengingat tsunami Selat Sunda pada 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. BMKG menjelaskan bahwa tsunami tersebut diduga dipicu oleh longsoran sebagian badan gunung ke laut setelah erupsi.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa masyarakat di sekitar Selat Sunda menghadapi risiko yang kompleks. Ancaman dapat datang bukan hanya dalam bentuk letusan, tetapi juga potensi longsoran material vulkanik dan tsunami.

Karena itu, kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada pemasangan alat pemantauan.

Teknologi memang penting. Sistem pemantauan dan peringatan dini harus terus diperkuat. Namun, secanggih apa pun sistem yang dimiliki, manfaatnya akan berkurang apabila informasi tidak sampai kepada masyarakat secara cepat, jelas, dan mudah dipahami.

Masyarakat perlu tahu: ketika peringatan dikeluarkan, harus bergerak ke mana? Di mana titik kumpul? Jalur evakuasi mana yang harus digunakan? Berapa lama waktu yang tersedia? Siapa yang bertanggung jawab memberikan informasi? Dan bagaimana memastikan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penyandang disabilitas dapat ikut dievakuasi?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut justru menentukan keselamatan ketika bencana benar-benar terjadi.

Jangan sampai jalur evakuasi hanya menjadi papan petunjuk yang terlihat ketika keadaan normal, tetapi membingungkan ketika kepanikan datang.

Di sinilah pemerintah daerah memiliki pekerjaan besar. Kesiapsiagaan harus diuji secara berkala, bukan hanya dibicarakan dalam rapat atau dituangkan dalam dokumen perencanaan.

Simulasi evakuasi perlu dilakukan. Sistem komunikasi darurat harus diuji. Masyarakat harus mendapatkan edukasi yang berkelanjutan. Koordinasi antarlembaga juga harus dipastikan berjalan, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, BMKG, Badan Geologi, aparat keamanan, tenaga kesehatan, hingga unsur masyarakat.

Kesiapsiagaan bukan sekadar persoalan memiliki peralatan. Kesiapsiagaan adalah kemampuan seluruh unsur untuk bekerja bersama ketika waktu yang tersedia untuk mengambil keputusan sangat terbatas.

Namun, tanggung jawab tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah.

Masyarakat juga harus mengambil bagian.

Di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial, kabar mengenai aktivitas gunung api dapat menyebar dalam hitungan menit. Masalahnya, kecepatan informasi tidak selalu diikuti dengan kebenaran informasi.

Informasi yang tidak terverifikasi dapat menimbulkan kepanikan. Sebaliknya, informasi yang meremehkan ancaman juga dapat membuat masyarakat mengabaikan peringatan yang sebenarnya penting.

Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan sederhana: periksa sumber sebelum percaya dan bertindak.

Ketika aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, masyarakat seharusnya mengutamakan informasi dari lembaga resmi dan mengikuti arahan otoritas kebencanaan. Tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi juga merupakan bagian dari kesiapsiagaan.

Sebab, dalam situasi bencana, informasi yang salah bukan sekadar persoalan komunikasi. Informasi yang keliru dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk menyelamatkan diri.

Kita memang tidak dapat menghentikan Gunung Anak Krakatau untuk erupsi. Kita juga tidak dapat menentukan kapan alam akan meningkatkan aktivitas vulkaniknya.

Tetapi manusia memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki alam: kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kita memiliki catatan sejarah 1883. Kita memiliki pengalaman tsunami Selat Sunda 2018. Kita juga memiliki teknologi pemantauan yang terus berkembang.

Pertanyaannya sekarang bukan sekadar apakah kita memiliki pengalaman dan teknologi tersebut.

Pertanyaannya adalah apakah semuanya sudah diterjemahkan menjadi kesiapsiagaan nyata di tengah masyarakat.

Jangan sampai kita baru sibuk mencari jalur evakuasi ketika air laut mulai berubah. Jangan sampai masyarakat baru bertanya mengenai titik aman setelah sirene peringatan berbunyi. Jangan pula sampai pemerintah baru memperkuat koordinasi setelah bencana terjadi.

Kesiapsiagaan justru harus dibangun ketika keadaan masih normal.

Gunung Anak Krakatau tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Tetapi aktivitasnya juga tidak boleh dianggap remeh. Sikap yang diperlukan adalah waspada, tenang, dan siap.

Pada akhirnya, persoalannya bukan kapan Anak Krakatau kembali menunjukkan kekuatannya. Persoalan yang jauh lebih penting adalah apa yang sudah kita persiapkan sebelum momentum itu datang.

Pemerintah perlu terus memperkuat sistem peringatan dini, pemantauan, jalur evakuasi, edukasi, dan koordinasi kebencanaan. Masyarakat perlu meningkatkan literasi bencana, memahami jalur penyelamatan, serta disiplin mengikuti informasi resmi.

Anak Krakatau mungkin tidak pernah benar-benar tidur. Tetapi jangan sampai kesiapsiagaan kita justru tertidur ketika ancaman berada di depan mata.

Bencana tidak selalu memberikan waktu panjang untuk bersiap. Karena itu, persiapan terbaik bukan dilakukan ketika bencana datang, melainkan jauh sebelum tanda-tanda bahaya muncul.

Jangan menunggu Anak Krakatau kembali mengingatkan kita dengan caranya sendiri.

Sebab gunung api tidak pernah lupa cara meletus. Yang kerap lupa adalah manusia ketika merasa keadaan sudah terlalu lama aman.


*) Penulis adalah Syifa Dwi Aulia, Mahasiswi K3 di Universitas Airlangga. 

Type above and press Enter to search.