![]() |
| Sofyan, M.Kom., Gr., seorang guru di SMK RAFLESIA Depok. (Foto: Dok/Ist). |
Semangat tersebut menjadi bagian dari perjalanan Sofyan, M.Kom., Gr., seorang guru di SMK RAFLESIA Depok yang mengampu mata pelajaran produktif kejuruan Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG).
Bagi Sofyan (36), menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi sebuah ruang untuk terus belajar, berinovasi, dan memberikan dampak positif kepada peserta didik. Sebagai guru kejuruan di bidang teknologi, ia menyadari bahwa dunia pendidikan harus berjalan beriringan dengan perkembangan teknologi digital yang bergerak begitu cepat.
Di ruang kelas, Sofyan membimbing siswa untuk tidak hanya memahami konsep pemrograman dan teknologi, tetapi juga membangun pola pikir kreatif, problem solving, kolaborasi, serta kesiapan menghadapi dunia kerja dan perkembangan industri digital.
Menggabungkan Dunia Pendidikan dan Kreativitas Digital
Menariknya, aktivitas Sofyan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Di luar tugasnya sebagai pendidik, ia juga aktif sebagai content creator melalui akun media sosial dengan nama @guru_fyp.Kehadiran seorang guru di media sosial menjadi warna tersendiri. Dunia yang selama ini identik dengan ruang kelas, papan tulis, buku, dan perangkat pembelajaran kini dapat dikemas menjadi konten digital yang lebih dekat dengan keseharian generasi muda.
Akun TikTok @guru_fyp tercatat secara publik sebagai akun yang memiliki identitas guru SMK dari Depok. Data analitik publik yang terindeks menunjukkan akun tersebut telah membangun komunitas digital yang cukup besar, dengan sekitar 102 ribu pengikut dan 13 juta likes pada periode data yang tersedia.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa sosok guru dapat hadir di berbagai ruang sekaligus. Tidak hanya di depan kelas, tetapi juga di ruang digital tempat generasi muda menghabiskan sebagian waktunya.
Bagi seorang pendidik, media sosial bukan semata-mata tempat untuk mengejar popularitas. Lebih dari itu, media sosial dapat menjadi sarana untuk menyampaikan pesan positif, berbagi pengalaman, membangun personal branding sebagai pendidik, sekaligus menunjukkan bahwa guru juga mampu beradaptasi dengan budaya digital.
Guru yang Mau Terus Belajar
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), media sosial, dan industri digital memberikan tantangan sekaligus peluang baru bagi dunia pendidikan.Sebagai guru PPLG, Sofyan berada pada bidang yang bersinggungan langsung dengan perkembangan tersebut. Karena itu, semangat belajar dan beradaptasi menjadi bagian penting dalam perjalanan profesionalnya.
Apa yang dipelajari tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Teknologi kemudian menjadi bagian dari upaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kontekstual bagi siswa.
Inilah salah satu karakter yang penting dari seorang guru inspiratif: tidak berhenti belajar setelah menjadi guru.
Guru yang inspiratif justru menyadari bahwa dirinya juga merupakan pembelajar. Ia belajar dari teknologi, dari perubahan zaman, dari lingkungan sekolah, bahkan dari peserta didik yang setiap hari ditemuinya.
Menjadi Guru yang Dekat dengan Generasi Digital
Generasi pelajar saat ini tumbuh bersama internet, smartphone, media sosial, dan berbagai platform digital. Kondisi tersebut membuat pendekatan pendidikan juga perlu berkembang.Sofyan mencoba mengambil posisi sebagai pendidik yang memahami dunia tersebut tanpa kehilangan esensi pendidikan.
Sebagai guru produktif PPLG, ia memiliki kesempatan untuk menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Siswa tidak hanya diajak memahami bagaimana sebuah program dibuat, tetapi juga bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menciptakan sesuatu yang memiliki nilai dan manfaat.
Di sisi lain, aktivitas sebagai content creator memberikan pengalaman tambahan dalam memahami bagaimana sebuah pesan dikemas agar menarik, komunikatif, dan mudah diterima audiens.
Dua dunia tersebut—pendidikan dan kreativitas digital—kemudian dapat saling melengkapi.
Guru mengajarkan teknologi kepada siswa, sementara pengalaman di dunia digital membantu guru memahami cara berkomunikasi dengan generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital.
Dari Kelas ke Dunia Digital
Perjalanan Sofyan menjadi contoh bahwa profesi guru dapat berkembang mengikuti perubahan zaman.Seorang guru tidak harus memilih antara menjadi pendidik atau menjadi kreator. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama tujuan utamanya tetap memberikan manfaat.
Kelas menjadi tempat untuk membentuk pengetahuan dan karakter. Sementara media sosial dapat menjadi ruang yang lebih luas untuk menyebarkan inspirasi.
Melalui aktivitasnya sebagai guru dan content creator, Sofyan menunjukkan bahwa menjadi guru di era digital berarti berani keluar dari batas-batas ruang kelas tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan.
Apa yang dilakukan seorang guru mungkin terlihat sederhana. Mengajar satu kelas, membimbing beberapa siswa, membuat sebuah konten, atau membagikan pengalaman melalui media sosial.
Namun, ketika dilakukan secara konsisten dan positif, hal-hal kecil tersebut dapat menjangkau lebih banyak orang.
Menginspirasi dari Hal yang Dekat
Pada akhirnya, menjadi guru inspiratif tidak selalu harus ditandai dengan penghargaan besar atau pencapaian yang spektakuler.Terkadang, inspirasi justru lahir dari kesediaan untuk terus hadir, terus belajar, dan terus mencoba hal baru.
Sofyan, M.Kom., Gr. adalah salah satu contoh guru yang mencoba menjalankan peran tersebut. Di satu sisi, ia menjalankan tanggung jawabnya sebagai guru produktif Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim di SMK RAFLESIA Depok. Di sisi lain, ia memanfaatkan ruang digital melalui TikTok dan Instagram @guru_fyp untuk mengekspresikan kreativitas dan membangun komunikasi dengan masyarakat digital.
Kisah tersebut memberikan pesan sederhana namun penting: guru tidak harus takut terhadap perubahan teknologi. Justru guru dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Sebab pendidikan yang inspiratif bukan hanya tentang mengajarkan siswa bagaimana menghadapi masa depan, tetapi juga tentang memberikan contoh bahwa seorang pendidik pun harus terus belajar dan berkembang menghadapi masa depan.
Sofyan, M.Kom., Gr. — Guru, pembelajar, dan content creator yang percaya bahwa pendidikan dapat hadir di mana saja, termasuk di ruang digital.
