![]() |
| Ketua Bhavani Indonesia Iik Nurul Fatimah menyampaikan materi sejarah gerakan perempuan dalam Latihan Kader Sensitif Gender di Kota Serang. |
Suaratime, Kota Serang, 9 Agustus 2026 — Bhavani Indonesia turut hadir dalam kegiatan Latihan Kader Sensitif Gender yang diselenggarakan di Kota Serang, Minggu (9/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, Ketua Bhavani Indonesia, Iik Nurul Fatimah, menyampaikan materi mengenai sejarah dan perkembangan gerakan perempuan.
Materi tersebut mengajak peserta menelusuri jejak suara perempuan sejak puisi-puisi Sappho yang merekam keindahan dan pengalaman perempuan, hingga lahirnya berbagai gerakan yang memperjuangkan pendidikan, martabat, hak asasi, serta kebebasan perempuan dalam menentukan hidupnya sendiri.
Menurut Iik, perjalanan gerakan perempuan tidak dapat disebut nihil hasil. Seperti gelombang, gerakan tersebut mengalami fase pasang dan surut serta berkembang ke dalam berbagai perspektif dan bentuk perjuangan.
“Jangan jadikan perempuan sekadar objek perjuangan. Dengarkan pengalaman mereka dan jadikan itu sebagai peta jalan kita bergerak,” ujar Iik.
Prinsip tersebut juga menjadi salah satu landasan perjuangan Bhavani Indonesia. Setiap gerakan dan program yang dilakukan diarahkan untuk mewujudkan perempuan yang merdeka serta menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi perempuan.
Dalam penyampaiannya, Iik turut menegaskan bahwa menjadi aktivis perempuan bukan hanya tentang kemampuan berbicara dan menyuarakan isu perempuan, tetapi juga tentang keberanian menghadirkan empati dalam setiap tindakan.
“Jika seseorang mengaku memperjuangkan perempuan, tetapi justru menjatuhkan, merugikan, bahkan merusak martabat dan kehidupan perempuan lain, jangan terus kita biarkan apalagi kita beri panggung,” tegasnya.
Bhavani Indonesia juga menolak segala bentuk normalisasi kekerasan dan kejahatan terhadap perempuan. Siapa pun pelakunya dan apa pun latar belakangnya, setiap tindakan yang merusak kehidupan serta martabat perempuan harus diproses dan dimintai pertanggungjawaban.
Melalui kegiatan ini, Bhavani Indonesia mengajak generasi muda untuk memahami bahwa perjuangan perempuan tidak boleh berhenti sebagai slogan atau identitas. Gerakan perempuan harus tumbuh dari empati, berpihak pada hak asasi manusia, serta berangkat dari pengalaman nyata perempuan.
Sebab ketika kekerasan dan tindakan yang merendahkan perempuan masih dinormalisasi, perjuangan panjang yang telah berlangsung selama berabad-abad berisiko kehilangan makna dan berjalan di tempat.
