
Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P.
Oleh: Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P. Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah
Kuala
Suaratime, Opini - Di tengah meningkatnya krisis iklim, kerusakan
lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati, manusia semakin giat
mempelajari alam melalui berbagai kemajuan ilmu pengetahuan. Teleskop mampu
menembus milyaran tahun cahaya, mikroskop mengungkap dunia yang tak kasatmata,
sementara kecerdasan buatan membantu membaca pola-pola kehidupan yang begitu
kompleks. Namun, di balik seluruh pencapaian itu, Al-Qur'an telah lebih dahulu
mengajak manusia memandang alam bukan sekadar sebagai objek penelitian,
melainkan sebagai ciptaan yang senantiasa tunduk dan memuji Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman:
"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada
di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan
bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka. Sungguh,
Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
(QS. Al-Isra': 44)
Ayat ini mengundang sebuah pertanyaan yang sangat
mendalam: benarkah seluruh alam semesta sedang bertasbih kepada Allah SWT?
Ketika angin berembus, ombak bergulung di lautan,
dedaunan bergoyang, burung terbang melintasi langit, atau galaksi beredar pada
lintasannya, mungkinkah semua itu bukan sekadar peristiwa fisika, melainkan
juga bentuk kepatuhan kepada hukum-hukum Allah SWT yang terus berlangsung sejak
alam diciptakan?
Bagi seorang mukmin, tasbih tidak selalu dipahami
sebagai lantunan suara sebagaimana manusia berzikir. Tasbih juga dapat dimaknai
sebagai kepatuhan sempurna seluruh makhluk terhadap sunnatullah, yakni
hukum-hukum yang Allah tetapkan bagi setiap ciptaan-Nya. Alam tidak pernah
melanggar aturan yang telah ditentukan. Matahari tetap terbit pada waktunya,
bumi terus berputar pada porosnya, musim berganti dengan keteraturan, dan
setiap makhluk menjalankan perannya dalam ekosistem kehidupan.
Menariknya, semakin maju ilmu pengetahuan, semakin
nyata pula keteraturan luar biasa yang menopang alam semesta.
Astronomi memperlihatkan planet dan galaksi
bergerak dengan presisi yang menakjubkan. Fisika menjelaskan bagaimana gaya
gravitasi menjaga keseimbangan jagat raya. Kimia mengungkap ikatan antaratom
yang membentuk seluruh materi kehidupan. Biologi menunjukkan bagaimana jutaan
reaksi biokimia berlangsung setiap detik di dalam tubuh makhluk hidup dengan
koordinasi yang hampir sempurna.
DNA menyimpan informasi kehidupan melalui susunan
yang sangat presisi. Sel membelah mengikuti mekanisme yang teratur. Burung
bermigrasi ribuan kilometer tanpa kehilangan arah. Lebah membangun sarang
berbentuk heksagon yang sangat efisien. Semut bekerja dalam koloni dengan
pembagian tugas yang luar biasa. Bahkan paus mampu mengarungi samudra lintas
benua mengikuti jalur migrasi yang telah diwariskan secara biologis.
Semua itu menunjukkan satu kenyataan yang sama:
alam semesta bekerja dalam sebuah tatanan yang sangat teratur.
Sains menjelaskan bagaimana keteraturan itu
berlangsung. Namun Al-Qur'an mengajak manusia merenungkan mengapa keteraturan
itu ada dan kepada siapa seluruh sistem tersebut bermuara.
Di sinilah ayat-ayat kauniyah menghadirkan
perspektif yang memperkaya ilmu pengetahuan. Hukum-hukum alam bukan hanya
kumpulan rumus matematika atau teori ilmiah, tetapi juga merupakan manifestasi
dari sunnatullah yang berjalan dengan penuh hikmah.
Menariknya, Al-Qur'an juga mengingatkan
keterbatasan manusia.
"...tetapi kamu tidak memahami tasbih
mereka."
Kalimat singkat ini merupakan pelajaran besar tentang
kerendahan hati dalam ilmu pengetahuan. Betapa pun canggihnya teleskop,
satelit, mikroskop, hingga kecerdasan buatan yang dikembangkan manusia, tetap
ada dimensi ciptaan Allah SWT yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia.
Semakin luas ilmu berkembang, semakin manusia
menyadari bahwa masih begitu banyak misteri yang belum terungkap.
Sebagai seorang dokter hewan, saya memandang setiap
satwa sebagai bukti nyata kebesaran Allah SWT. Setiap spesies memiliki
kecerdasan biologis yang unik. Burung dengan sistem navigasinya, lebah dengan
kemampuan membangun sarang yang presisi, semut dengan kecerdasan kolektifnya,
hingga paus yang bermigrasi ribuan kilometer melintasi samudra, semuanya
menunjukkan kepatuhan terhadap hukum penciptaan yang telah Allah tetapkan.
Semakin dalam dipelajari, semakin tampak bahwa
setiap makhluk sedang menjalankan amanahnya masing-masing dalam menjaga
keseimbangan kehidupan.
Ironisnya, justru manusialah yang sering melupakan
Sang Pencipta.
Alam tidak pernah menolak matahari terbit. Laut
tidak pernah berhenti mengikuti pasang surut. Burung tidak pernah lalai
menjalankan fitrahnya. Namun manusia, yang dianugerahi akal dan kebebasan
memilih, justru sering mengabaikan tujuan penciptaannya.
Karena itu, QS. Al-Isra': 44 bukan hanya mengajak
manusia mengagumi keindahan alam, tetapi juga mengajak melakukan refleksi yang
lebih mendalam: sudahkah hati kita ikut bertasbih sebagaimana seluruh alam
bertasbih?
Pesan ini menjadi semakin relevan pada masa kini
ketika dunia menghadapi perubahan iklim, pencemaran lingkungan, deforestasi,
hilangnya habitat satwa liar, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.
Alam bukan sekadar objek ekonomi yang dapat
dieksploitasi tanpa batas. Alam adalah bagian dari ciptaan Allah SWT yang
sedang menjalankan tasbihnya kepada Sang Khalik.
Dengan demikian, menjaga lingkungan bukan hanya
tanggung jawab ekologis, melainkan juga ibadah dan bentuk ketaatan kepada Allah
SWT sebagai khalifah di muka bumi.
Pada akhirnya, ilmu pengetahuan dan Al-Qur'an tidak
berada pada dua kutub yang saling bertentangan. Justru keduanya saling
melengkapi. Sains membuka tabir mekanisme alam, sedangkan Al-Qur'an memberikan
makna dan arah bagi pengetahuan tersebut.
Semakin berkembang ilmu pengetahuan, semakin luas
kesempatan manusia menyaksikan sebagian kecil dari kebesaran ciptaan Allah SWT.
Namun, seberapa jauh pun pengetahuan itu melangkah, ia akan selalu berakhir
pada satu kesadaran bahwa ilmu manusia hanyalah setetes dibandingkan keluasan
ilmu Allah SWT.
Mungkin inilah makna terdalam dari firman-Nya dalam
QS. Al-Isra': 44. Alam semesta bukan sekadar tempat manusia hidup, melainkan
sebuah majelis tasbih yang tak pernah berhenti sejak awal penciptaan. Setiap
galaksi yang beredar, setiap tetes hujan yang turun, setiap daun yang gugur,
hingga setiap makhluk yang bernapas, seluruhnya sedang memperlihatkan
tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Maka, ketika manusia mempelajari alam dengan hati yang jujur dan pikiran yang terbuka, sesungguhnya ia tidak hanya sedang memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga sedang belajar mendengarkan "bahasa" tasbih yang selama ini tidak mampu ditangkap oleh telinganya. Di sanalah ilmu menerangi akal, menumbuhkan rasa syukur, dan mengantarkan manusia semakin tunduk kepada Allah SWT, Rabb semesta alam.