GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Kesehatan Mental Pelajar Terancam di Balik Tuntutan Prestasi Akademik Tinggi

Ilustrasi memperlihatkan seseorang yang kewalahan akibat kesehatan mental pelajar yang terancam di balik tuntutan prestasi akademik (Sumber: Medium)

Suaratime, Opini -
"Bagaimana sekolah hari ini?" Pertanyaan sederhana itu mungkin menjadi kalimat yang paling sering didengar seorang pelajar sepulang sekolah. Namun, tidak semua siswa mampu menjawabnya dengan jujur. Ada yang hanya tersenyum sambil berkata, "Baik," meski di dalam dirinya sedang bergumul dengan kecemasan, kelelahan, dan tekanan yang tak terlihat.

Fenomena inilah yang dialami Aura Salsabilla, seorang siswi kelas XI SMA yang dikenal sebagai pelajar aktif, disiplin, dan berprestasi. Di sekolah, Aura merupakan sosok yang sering dipercaya menjadi pengurus organisasi sekaligus mampu mempertahankan prestasi akademiknya. Bagi banyak orang, ia adalah gambaran pelajar ideal yang memiliki masa depan cerah.

Namun, di balik pencapaian tersebut, terdapat perjuangan yang tidak semua orang lihat.

Prestasi yang Datang Bersama Tuntutan

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, hari-hari Aura dipenuhi berbagai aktivitas. Pagi hingga siang ia mengikuti proses belajar mengajar. Setelah itu, ia harus menghadiri rapat organisasi, mengerjakan tugas, mempersiapkan ujian, lalu kembali belajar pada malam hari.

Rutinitas seperti itu berlangsung hampir setiap hari.

Kesibukan tersebut memang membentuk karakter disiplin. Namun, di sisi lain, tuntutan untuk selalu memberikan hasil terbaik perlahan menjadi beban yang terus menumpuk.

"Saya ingin membanggakan orang tua dan mencapai cita-cita saya. Karena itu saya selalu berusaha mendapatkan hasil yang baik," ungkap Aura.

Keinginan untuk berprestasi sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah. Justru semangat belajar menjadi modal penting bagi setiap pelajar. Akan tetapi, ketika prestasi berubah menjadi standar yang harus selalu dipenuhi tanpa ruang untuk gagal, tekanan mulai muncul secara perlahan.

Ketika Nilai Menjadi Tolok Ukur Harga Diri

Banyak pelajar tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai yang tinggi adalah ukuran keberhasilan. Tidak sedikit pula yang merasa dirinya gagal hanya karena memperoleh hasil yang tidak sesuai harapan.

Aura mengaku pernah berada pada kondisi tersebut.

Ia merasa takut mengecewakan orang tua dan dirinya sendiri apabila nilai yang diperoleh menurun. Perasaan itu membuatnya sering berpikir berlebihan sebelum ujian maupun setelah menerima hasil belajar.

"Saya sering menyalahkan diri sendiri ketika hasilnya tidak sesuai target. Rasanya seperti usaha saya belum cukup," tuturnya.

Tekanan tersebut bukan hanya memengaruhi pikirannya, tetapi juga kondisi fisiknya.

Aura pernah mengalami kesulitan tidur karena terus memikirkan tugas sekolah dan jadwal ujian. Saat berada di kelas, ia merasa sulit berkonsentrasi. Aktivitas yang sebelumnya menyenangkan pun perlahan kehilangan maknanya karena pikirannya terus dipenuhi rasa cemas.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan akademik tidak selalu tampak secara kasatmata. Banyak pelajar tetap datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, bahkan tersenyum di depan teman-temannya, padahal di dalam dirinya sedang terjadi pergulatan yang berat.

Banyak Pelajar Memilih Diam

Hal yang paling menyentuh dari kisah Aura bukan hanya soal tekanan akademik, tetapi bagaimana ia memilih memendam semuanya seorang diri.

Pada awalnya, ia menganggap bahwa semua pelajar pasti mengalami hal yang sama sehingga dirinya tidak berhak mengeluh. Ia takut dianggap terlalu berlebihan jika menceritakan apa yang dirasakannya.

Perasaan seperti ini ternyata dialami banyak remaja.

Di lingkungan sekolah, masih banyak siswa yang merasa harus selalu terlihat kuat. Mereka khawatir akan dianggap lemah apabila mengakui sedang mengalami tekanan mental.

Padahal, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Seseorang yang mengalami kecemasan berkepanjangan dapat kehilangan motivasi belajar, mengalami gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, bahkan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Berani Bercerita Menjadi Titik Balik

Perubahan mulai terjadi ketika Aura memberanikan diri membuka cerita kepada keluarga dan sahabat dekatnya.

Respons yang ia terima ternyata jauh dari apa yang selama ini ia bayangkan.

Alih-alih dihakimi, ia justru mendapatkan dukungan, semangat, dan rasa aman.

"Saya merasa jauh lebih tenang setelah bercerita. Saya sadar bahwa saya tidak harus menghadapi semuanya sendirian," katanya.

Sejak saat itu, Aura mulai belajar mengatur waktu dengan lebih baik. Ia memberi kesempatan pada dirinya untuk beristirahat, mendengarkan musik ketika merasa penat, serta tidak lagi terus-menerus membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.

Perubahan kecil tersebut membantunya memahami bahwa menjaga kesehatan mental bukan berarti mengurangi semangat untuk berprestasi. Justru dengan kondisi mental yang sehat, seseorang mampu belajar lebih optimal.

Sekolah Tidak Hanya Tentang Nilai

Kisah Aura seolah menjadi pengingat bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mengejar angka-angka di atas rapor.

Sekolah memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi siswa untuk berkembang, baik secara akademik maupun emosional.

Menurut Aura, sekolah dapat menyediakan ruang konsultasi yang lebih terbuka, memberikan edukasi mengenai kesehatan mental, serta membangun budaya yang membuat siswa tidak takut meminta bantuan ketika menghadapi tekanan.

Di sisi lain, keluarga juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Dukungan, perhatian, dan komunikasi yang hangat dapat menjadi tempat paling aman bagi seorang anak ketika sedang menghadapi kesulitan.

Harapan tersebut terasa sederhana, tetapi memiliki dampak yang besar.

Menjadi Pelajar yang Bahagia Lebih Penting daripada Menjadi Sempurna

Di akhir wawancara, Aura menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi begitu bermakna.

"Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Tidak apa-apa jika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan. Yang terpenting adalah terus berusaha, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta berani meminta bantuan ketika merasa kesulitan."

Kalimat tersebut mungkin mewakili suara banyak pelajar Indonesia yang selama ini tidak pernah terdengar.

Prestasi memang penting. Nilai yang baik tentu menjadi impian setiap siswa. Namun, keberhasilan tidak seharusnya dibayar dengan hilangnya kebahagiaan, waktu istirahat, maupun kesehatan mental.

Di balik seragam sekolah yang rapi, senyum yang selalu mengembang, dan deretan nilai yang membanggakan, sering kali ada perjuangan yang tidak terlihat oleh siapa pun.

Sudah saatnya masyarakat memandang pendidikan secara lebih utuh. Sekolah bukan hanya tempat mencetak siswa berprestasi, tetapi juga ruang untuk membentuk manusia yang sehat, tangguh, dan bahagia.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan seorang pelajar bukan hanya diukur dari angka yang tercetak di rapor, melainkan juga dari kemampuannya menjalani proses belajar tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Oleh: Patimatul Zahra - Universitas Siber Asia

 

Type above and press Enter to search.