
Dari Jejak Pendaki ke Jejak Keanekaragaman Hayati
Suaratime, Jakarta - Gunung Sibayak dikenal sebagai salah
satu destinasi pendakian favorit di Sumatera Utara. Di balik jalur pendakiannya
yang ramai dilalui wisatawan, kawasan ini juga menyimpan beragam jenis flora
dan fungi yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Sayangnya, informasi awal mengenai spesies yang tumbuh di sepanjang jalur pendakian masih relatif terbatas bagi sebagian orang. Lalu pertanyaan muncul, “kalau begitu apa saja nama flora dan fungi yang dapat dijumpa di jalur pendakian Gunung Sibayak?”.
Berangkat dari rasa penasaran
tersebut, Arunanaya Nature Research 2026
menghadirkan penelitian bertajuk “Eksplorasi
Flora dan Fungi di Jalur Pendakian Gunung Sibayak, Kabupaten Karo” sebagai
salah satu luaran kegiatan bertema Jelajah Ilmiah Gunung Sibayak - Adventure
Through Knowledge. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi flora dan
fungi yang ditemukan di sepanjang jalur pendakian sekaligus menambah data awal
mengenai keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.
Kegiatan penelitian dilaksanakan pada
17-19 Juli 2026 oleh tim dari UKM Bidang Penelitian Arunanaya Universitas
Terbuka Medan. Selama kegiatan berlangsung, tim melakukan survei eksploratif
dengan mendokumentasikan setiap spesimen flora dan fungi yang dijumpai di
sepanjang jalur pendakian.
Annisa Pratiwi sebagai Penanggung
Jawab riset flora dan fungi, menjelaskan bahwa penelitian digerakkan oleh rasa ingin tahu terhadap keanekaragaman
hayati yang selama ini mungkin sering dilewati
begitu saja oleh para pendaki. “Sebagian
besar pendaki mungkin lebih fokus menuju puncak. Padahal, di sepanjang jalur
terdapat banyak tumbuhan dan fungi yang menarik untuk dikenali. Kami ingin
menunjukkan bahwa setiap perjalanan di alam juga dapat menjadi kesempatan untuk
belajar dan memahami keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita,"
ujarnya.
Dalam proses identifikasi, tim memanfaatkan beberapa aplikasi seperti PlantNet, iNaturalist, dan Google Lens sebagai alat bantu awal. Hasil identifikasi kemudian diverifikasi melalui pengamatan karakter morfologi untuk menentukan genus maupun nama ilmiah spesimen yang ditemukan. Dari hasil survei, tim berhasil mendokumentasikan 14 spesimen, terdiri atas 12 flora dan 2 fungi.
Sebanyak 12
spesimen berhasil diidentifikasi hingga tingkat genus maupun spesies. Sementara
itu, 2 spesimen lainnya belum dapat dipastikan identitas ilmiahnya karena
keterbatasan karakter morfologi yang terdokumentasi serta adanya perbedaan
hasil identifikasi antar aplikasi.
Meski jumlah spesimen yang berhasil didokumentasikan masih terbatas, penelitian ini memiliki nilai penting sebagai baseline data bagi penelitian lanjutan mengenai keanekaragaman hayati Gunung Sibayak. Data awal seperti ini dapat menjadi pijakan bagi penelitian yang lebih mendalam, termasuk pemetaan jenis tumbuhan, distribusi spesies, hingga kajian mengenai kondisi ekosistem di kawasan tersebut.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kegiatan eksplorasi alam tidak
harus berhenti pada aktivitas rekreasi. Dengan pendekatan yang sederhana namun
sistematis, mahasiswa dapat mengubah hasil pengamatan lapangan menjadi
informasi ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan maupun
upaya pelestarian lingkungan.
Penelitian didukung oleh AllMountain dan Catering Mbak Rani sebagai sponsor kegiatan, serta Yayasan Satu Jejak Indonesia sebagai kolaborator. Melalui Arunanaya Nature Research 2026, Gunung Sibayak tidak hanya menjadi tujuan pendakian, tetapi juga menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman langsung dalam mengenali kekayaan hayati Indonesia.
Harapannya, semakin banyak mahasiswa dan masyarakat yang terdorong untuk melihat alam bukan hanya sebagai tempat berwisata, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan yang layak dipelajari dan dijaga bersama.