| Ilustrasi transformasi live TikTok bangun edukasi di era konvergensi media (Sumber: Pinterest) |
Oleh: Syealva Salsabila - Mahasiswa Universitas 17 Agustus Surabaya
Suara Time, Opini - Siapa sangka aplikasi yang selama ini identik dengan video hiburan singkat, tren viral, dan live shopping kini juga menjadi ruang belajar bagi ribuan orang setiap harinya? Di balik deretan konten hiburan yang memenuhi beranda, muncul fenomena baru yang perlahan mengubah wajah media sosial. Kini, tidak sedikit siswa yang memilih membuka fitur Live TikTok untuk belajar matematika, bahasa Inggris, hingga mempersiapkan diri menghadapi UTBK maupun seleksi CPNS. Bahkan, banyak guru, dosen, praktisi, dan kreator edukasi yang secara rutin memanfaatkan fitur tersebut untuk mengajar secara langsung. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak lagi sekadar menjadi ruang interaksi dan hiburan, tetapi telah berevolusi menjadi ruang berbagi pengetahuan yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.
Perkembangan teknologi komunikasi telah melahirkan berbagai perubahan dalam kehidupan masyarakat, mulai dari cara berkomunikasi, pola konsumsi informasi, hingga terbentuknya budaya dan ekosistem digital yang sama sekali baru. Di era konvergensi media, sebuah inovasi dapat dengan cepat berkembang menjadi fenomena yang memengaruhi cara masyarakat berinteraksi di ruang digital. Salah satu contoh paling nyata terlihat dari perkembangan media sosial. Berawal dari platform yang hanya menyediakan fitur sederhana untuk berbagi konten dan berkomunikasi, media sosial kini berevolusi menjadi ruang digital yang mampu mengakomodasi berbagai aktivitas layaknya kehidupan di dunia nyata.
Media sosial tidak lagi hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi. Platform digital kini berkembang menjadi ruang transaksi ekonomi, wadah membangun komunitas, hingga medium pembelajaran yang mempertemukan pengajar dan pembelajar tanpa dibatasi ruang maupun waktu. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital telah memperluas fungsi media sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern.
Di antara berbagai perkembangan tersebut, fenomena Live TikTok menjadi salah satu transformasi yang menarik untuk dicermati. Pada awalnya, fitur ini lebih banyak dimanfaatkan oleh kreator untuk berinteraksi dengan pengikutnya atau sebagai sarana memasarkan produk melalui live shopping. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat akan akses belajar yang lebih fleksibel, Live TikTok mulai melahirkan sebuah ekosistem baru. Semakin banyak kreator, guru, dosen, praktisi, maupun komunitas pendidikan yang memanfaatkan fitur ini untuk menyelenggarakan sesi pembelajaran secara langsung.
Berbagai materi kini dapat dipelajari melalui siaran langsung yang interaktif dan mudah diakses oleh siapa saja. Mulai dari mata pelajaran sekolah, persiapan UTBK, CPNS, pembelajaran bahasa asing, hingga keterampilan profesional dapat diikuti hanya melalui perangkat telepon genggam yang terhubung dengan internet. Kemudahan tersebut menjadikan proses belajar semakin inklusif dan dapat dijangkau oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, penulis memandang fenomena ini sebagai angin segar sekaligus tantangan. Di satu sisi, Live TikTok membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh akses terhadap pengetahuan secara cepat, mudah, murah, bahkan gratis. Di sisi lain, ekosistem pembelajaran digital ini juga menghadirkan tantangan baru terkait kualitas materi yang disampaikan, kredibilitas pengajar, serta kemampuan literasi digital masyarakat dalam menyaring informasi yang mereka konsumsi.
Yang menarik, ekosistem pembelajaran ini
tidak dibangun oleh satu lembaga tertentu, melainkan terbentuk melalui
partisipasi berbagai aktor. Guru, dosen, praktisi, mahasiswa, hingga
profesional dari berbagai bidang hadir sebagai penyedia pengetahuan. Di sisi
lain, siswa, mahasiswa, pencari kerja, bahkan masyarakat umum berperan sebagai
pembelajar yang dapat memilih materi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Dalam konteks ini, TikTok tidak lagi sekadar berfungsi sebagai platform media
sosial, tetapi telah menjadi ruang yang mempertemukan pengajar dan pembelajar
melalui teknologi live streaming yang memungkinkan interaksi berlangsung secara
langsung.
Keunikan lain dari ekosistem belajar ini
adalah hilangnya batas-batas ruang kelas konvensional. Jika sebelumnya proses
belajar identik dengan ruang fisik, jadwal yang tetap, dan kurikulum yang
terstruktur, kini pembelajaran dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja.
Seorang siswa di Papua dapat mengikuti pembelajaran yang disampaikan oleh guru
di Surabaya, sementara seorang pekerja di Jakarta dapat belajar bahasa asing
dari pengajar yang berada di negara lain. Teknologi komunikasi telah memperluas
ruang belajar melampaui batas geografis maupun institusional.
Ekosistem pembelajaran di Live TikTok juga menghadirkan pola komunikasi yang berbeda dibandingkan proses pembelajaran konvensional. Hubungan antara pengajar dan peserta didik menjadi lebih cair, terbuka, dan dialogis. Peserta tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga dapat mengajukan pertanyaan, memberikan tanggapan, bahkan berdiskusi secara langsung melalui kolom komentar. Interaksi semacam ini menciptakan pengalaman belajar yang lebih partisipatif sekaligus membangun rasa kebersamaan dalam komunitas belajar digital.
Menariknya lagi, proses pembelajaran di Live TikTok tidak hanya menghasilkan transfer pengetahuan, tetapi juga melahirkan komunitas-komunitas belajar. Banyak pengguna yang secara rutin mengikuti siaran dari pengajar tertentu, saling berbagi informasi, merekomendasikan kelas kepada pengguna lain, hingga membentuk jaringan belajar di luar platform. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi saluran distribusi informasi, tetapi juga menjadi ruang terbentuknya relasi sosial yang berorientasi pada pembelajaran.
Keberadaan komunitas belajar digital ini memperlihatkan bahwa teknologi komunikasi mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat. Ruang belajar tidak lagi dimonopoli oleh institusi formal, tetapi dapat tumbuh melalui interaksi yang dibangun secara organik di platform digital.
Oleh karena itu, fenomena Live TikTok tidak
dapat dipandang sekadar sebagai tren media sosial yang bersifat sementara.
Lebih dari itu, fenomena ini merupakan bentuk transformasi komunikasi yang
tengah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan, membangun interaksi,
dan mengembangkan budaya belajar di era digital. Lahirnya ekosistem
pembelajaran digital melalui Live TikTok menjadi bukti bahwa konvergensi media
telah membuka peluang baru bagi pendidikan yang lebih inklusif, fleksibel, dan
partisipatif. Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada pemanfaatan
teknologinya, melainkan bagaimana memastikan ruang belajar digital tersebut
tetap menghadirkan informasi yang berkualitas, kredibel, serta mampu memberikan
manfaat nyata bagi masyarakat luas.