![]() |
| Nisrina Dwi Septiyani, Mahasiswa Program Studi Manajemen, di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. |
Suara Time, Kolom - Suatu hari, seorang mahasiswa merasa gelisah karena terlambat mengumpulkan tugas kuliah. Ia berkali-kali meminta maaf kepada dosennya dan merasa tidak tenang sepanjang hari karena takut dianggap tidak bertanggung jawab. Di hari yang sama, ia juga terlambat menunaikan shalat Ashar hingga waktu shalat hampir habis. Namun, keterlambatan itu tidak membuatnya merasa segelisah ketika terlambat mengumpulkan tugas.
Fenomena seperti ini bukanlah sesuatu yang asing. Kita merasa malu apabila datang terlambat ke tempat kerja, takut apabila pesan dari atasan tidak segera dibalas, dan khawatir apabila mendapat penilaian buruk dari orang lain. Akan tetapi, mengapa perasaan yang sama tidak selalu hadir ketika kita menunda shalat, mengingkari janji, atau lalai menjalankan amanah yang Allah titipkan? Jangan-jangan, selama ini kita lebih takut dinilai manusia daripada dinilai Allah.
Takut Penilaian Manusia Menjadi Kebiasaan
Hidup sebagai makhluk sosial membuat manusia tidak dapat terlepas dari penilaian orang lain. Islam pun mengajarkan kita untuk menjaga hubungan yang baik dengan sesama manusia. Namun, persoalan muncul ketika penilaian manusia menjadi tujuan utama dalam menjalani kehidupan.
Kita takut dianggap tidak sopan oleh manusia, tetapi tidak takut berkata kasar kepada orang tua. Kita takut kehilangan pertemanan karena tidak mengikuti tren yang sedang viral, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan karena melakukan sesuatu yang dilarang Allah. Kita takut dianggap gagal oleh lingkungan sekitar, tetapi tidak takut apabila menjadi hamba yang lalai terhadap perintah-Nya.
Di era digital, fenomena ini semakin nyata. Tidak sedikit orang yang rela menghabiskan waktu untuk menjaga citra di media sosial agar terlihat baik di hadapan manusia. Kita ingin terlihat bahagia, sukses, dan saleh di mata orang lain. Namun, belum tentu kita memiliki semangat yang sama untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.
Allah Swt. berfirman: "Padahal Allah lebih berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman." (QS. At-Taubah: 13).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa rasa takut yang paling utama dalam diri seorang mukmin adalah rasa takut kepada Allah Swt. Ketika penilaian manusia lebih kita utamakan daripada penilaian Allah, maka ada sesuatu yang perlu kita perbaiki dalam hati dan cara pandang kita terhadap kehidupan.
Mengapa Kita Lebih Takut kepada Manusia?
Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia lebih takut dinilai oleh sesamanya.
Pertama, karena penilaian manusia dapat langsung kita rasakan. Kita dapat melihat komentar, kritik, dan respons dari orang lain terhadap diri kita. Sebaliknya, balasan dari Allah sering kali tidak kita lihat secara langsung sehingga membuat sebagian orang merasa lalai.
Kedua, budaya validasi sosial yang semakin kuat. Kita hidup di zaman ketika pujian dan pengakuan menjadi sesuatu yang sangat dihargai. Banyak orang merasa bahagia ketika mendapatkan apresiasi dari manusia, tetapi tidak lagi menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam beramal.
Ketiga, lemahnya pendidikan akhlak dan ketakwaan. Kita lebih banyak diajarkan untuk menjadi orang yang berhasil daripada menjadi orang yang ikhlas dan amanah. Akibatnya, kita lebih takut kehilangan penghargaan daripada kehilangan keberkahan.
Padahal Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa mencari keridhaan Allah meskipun membuat manusia marah, maka Allah akan mencukupinya dari (keburukan) manusia. Dan barang siapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia." (HR. At-Tirmidzi).
Hadis tersebut mengajarkan bahwa ridha Allah harus menjadi prioritas utama dalam kehidupan seorang Muslim. Sebab, manusia dapat berubah dalam menilai kita, sedangkan Allah Maha Mengetahui setiap niat dan amal yang kita lakukan.
Takwa dan Akhlak dalam Perspektif Muhammadiyah
Muhammadiyah melalui pemikiran Majelis Tarjih dan Tajdid menempatkan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai landasan dalam pembentukan kepribadian Muslim. Pendidikan Islam tidak hanya bertujuan mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia yang memiliki ketakwaan, integritas, dan akhlak mulia.
Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah mengajarkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan kemajuan akhlak. Oleh karena itu, ukuran keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari prestasi dan pengakuan manusia, tetapi juga dari kualitas hubungannya dengan Allah dan kemanfaatannya bagi sesama.
Seorang Muslim yang berkemajuan adalah mereka yang tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan pujian dari manusia dan tetap menjauhi kemaksiatan meskipun tidak ada seorang pun yang melihatnya.
Inilah yang disebut dengan muraqabah, yakni kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi seluruh perbuatan manusia. Ketika kesadaran ini tumbuh, maka seseorang tidak lagi menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama dalam hidupnya.
Bagaimana Agar Lebih Takut kepada Allah?
Pertama, membiasakan diri untuk melakukan muhasabah setiap hari. Sebelum tidur, tanyakan kepada diri sendiri, "Apakah Allah ridha terhadap apa yang telah aku lakukan hari ini?"
Kedua, memperbaiki niat dalam setiap amal yang dilakukan. Jangan sampai kita berbuat baik hanya karena ingin dipuji oleh manusia.
Ketiga, memperbanyak amal yang tersembunyi. Membaca Al-Qur'an, bersedekah secara diam-diam, dan berdoa di sepertiga malam akan membantu kita melatih keikhlasan dalam beribadah.
Keempat, membiasakan diri untuk lebih takut melanggar perintah Allah daripada takut kehilangan penilaian baik dari manusia. Jangan sampai kita rela mengorbankan prinsip dan nilai-nilai Islam hanya demi diterima oleh lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, manusia memang tidak dapat terlepas dari kehidupan sosial dan penilaian orang lain. Namun, sebagai seorang Muslim, penilaian yang paling penting bukanlah apa yang manusia katakan tentang kita, melainkan bagaimana Allah menilai setiap amal yang kita lakukan.
Sudah saatnya kita bertanya kepada diri sendiri: mengapa kita begitu takut dinilai buruk oleh manusia, tetapi tidak selalu takut ketika lalai di hadapan Allah? Mengapa kita merasa malu ketika mengecewakan manusia, tetapi belum tentu merasakan hal yang sama ketika mengecewakan Allah?
Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa menjaga akhlak, memperbaiki niat, dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama dalam setiap langkah kehidupan. Sebab, pujian manusia bersifat sementara, sedangkan ridha Allah adalah kebahagiaan yang sesungguhnya.
*) Penulis adalah Nisrina Dwi Septiyani, Mahasiswa Program Studi Manajemen, di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta.
