![]() |
| Ilustrasi - (Foto: AI). |
Suara Time, Kolom - Bayangkan berkeliling kompleks perbelanjaan hanya untuk mencari satu petak kosong tempat parkir, atau lampu jalan yang tetap menyala terang meski jalanan sudah lengang sejak tengah malam. Persoalan-persoalan kecil semacam ini terdengar sepele, tetapi jika dikalikan dengan jutaan kendaraan dan ribuan titik lampu di satu kota, dampaknya pada waktu, biaya, dan energi menjadi jauh lebih besar dari yang terlihat. Di sinilah Internet of Things, atau yang lebih akrab disingkat IoT, mulai dilirik sebagai jalan keluar oleh sejumlah peneliti di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, gagasan kota pintar bukan lagi sekadar jargon dalam seminar teknologi. Sejumlah kota mulai bereksperimen memasang sensor, mulai dari yang memantau ketersediaan lahan parkir, mendeteksi terang-gelapnya jalan, hingga mengawasi tinggi tumpukan sampah di tempat pembuangan sementara. Penelusuran terhadap sejumlah kajian ilmiah yang terbit sepanjang 2024 hingga 2025 memperlihatkan pola menarik: riset di bidang ini perlahan bergeser dari sekadar wacana besar tentang “kota masa depan” menuju uji coba teknis yang jauh lebih membumi.
Satu Alat Kecil, Banyak Janji
Salah satu temuan yang paling mencolok datang dari sebuah purwarupa sederhana: sensor ultrasonik yang disambungkan ke papan mikrokontroler Arduino Uno untuk mendeteksi ada-tidaknya kendaraan pada satu slot parkir. Data dari sensor itu langsung dikirim ke server dan bisa dipantau lewat situs web, sehingga pengemudi tidak perlu lagi berputar-putar mencari tempat kosong. Sederhana secara konsep, namun dampaknya nyata: antrean kendaraan yang mengular di depan gedung parkir bisa dipangkas signifikan hanya dengan modal komponen elektronik yang harganya relatif terjangkau.
Purwarupa semacam ini menunjukkan bahwa solusi kota pintar tidak selalu harus dimulai dari proyek raksasa bernilai miliaran rupiah. Justru inovasi kecil berbasis sensor murah bisa menjadi pintu masuk yang lebih realistis, terutama bagi kota-kota yang anggarannya jauh dari kata berlimpah.
Efisiensi di Balik Lampu Jalan dan Tumpukan Sampah
Selain urusan parkir, sejumlah studi berskala kota yang lebih luas turut menyoroti bagaimana sensor IoT dipakai untuk mengatur pencahayaan jalan agar menyesuaikan kondisi sekitar, memantau kualitas udara secara langsung, hingga mengawasi volume sampah di berbagai titik pengumpulan. Manfaatnya terasa dua arah: pemerintah kota bisa menghemat anggaran listrik dan operasional, sementara warga merasakan lingkungan yang lebih tertata dan aman.
Namun realitas di lapangan tidak selalu semulus rencana di atas kertas. Ketiga studi berskala kota yang ditelusuri kompak menyebut satu benang merah masalah: jaringan internet dan perangkat pendukung yang belum merata, kekhawatiran soal keamanan data warga yang terekam sensor, serta masyarakat yang belum sepenuhnya terbiasa dengan teknologi semacam ini. Tiga tantangan itu ibarat rem yang menahan laju adopsi kota pintar, sekalipun manfaatnya sudah terbukti di atas kertas.
Jurang Antara Ide Besar dan Alat Kecil
Menariknya, ada semacam jurang yang terlihat jelas antara dua kubu riset ini. Di satu sisi, ada kajian-kajian berskala kota yang bicara besar tentang efisiensi transportasi dan lingkungan, tetapi masih berhenti di tataran konsep dan tantangan struktural. Di sisi lain, ada purwarupa teknis semacam sensor parkir tadi yang sudah terbukti bekerja, namun baru diuji dalam skala kecil dan belum menyentuh persoalan besar seperti keamanan data atau interoperabilitas antarperangkat di level kota.
Belum ada satu pun kajian yang benar-benar menjembatani dua sisi ini, yaitu bagaimana caranya alat-alat kecil dan murah tadi bisa “naik kelas” menjadi solusi berskala kota tanpa harus mengorbankan keamanan data atau membengkakkan anggaran. Padahal, justru di titik pertemuan itulah kota pintar versi Indonesia, terutama kota kecil dan menengah, punya peluang paling besar untuk tumbuh.
Menuju Kota yang Lebih Cerdas, Bukan Hanya di Kota Besar
Kabar baiknya, arah riset ke depan sudah cukup jelas. Penelitian lanjutan idealnya tidak lagi berhenti pada uji coba di laboratorium atau prototipe skala kecil, melainkan mulai merambah pengujian keamanan data dan kemampuan berbagai perangkat untuk saling terhubung dalam skala yang lebih luas. Yang tidak kalah penting, strategi implementasi IoT ke depan perlu dirancang agar tetap terjangkau, sehingga kota-kota kecil dan berkembang yang selama ini jarang tersentuh riset teknologi tidak lagi tertinggal dalam perlombaan menuju kota pintar.
Pada akhirnya, cerita tentang sensor kecil yang membantu mencari tempat parkir ini bukan sekadar soal kenyamanan berkendara. Ia adalah gambaran kecil dari pertanyaan besar yang tengah dijawab pelan-pelan oleh para peneliti: apakah kota-kota di Indonesia siap menjadi lebih cerdas, tidak hanya di ibu kota, tetapi juga di kota-kota yang selama ini luput dari sorotan?
*) Penulis adalah Muhammad Evan Gavra, Mahasiswa Teknik Elektro UII.
