GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Hari Mangrove Sedunia 2026: Ketika Hutan Pesisir Menjadi Garda Terdepan Menghadapi Krisis Iklim

Dr. Sodikin, S.Pd, M.Si, M.P.W.K.

Suara Time, Opini - Setiap tahun, dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia sebagai pengingat bahwa hutan pesisir bukan sekadar kumpulan pohon yang tumbuh di antara daratan dan laut. Mangrove merupakan benteng alami yang melindungi garis pantai, tempat hidup berbagai biota, sekaligus penyerap karbon paling efektif di muka bumi. Namun pada tahun 2026, makna peringatan ini menjadi jauh lebih mendalam. Ketika dunia terus dihadapkan pada peningkatan suhu global, cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, kenaikan muka air laut, hingga ancaman tenggelamnya kawasan pesisir, mangrove tampil sebagai salah satu solusi berbasis alam (nature-based solutions) yang paling nyata.

Laporan-laporan ilmiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa laju perubahan iklim belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Konsentrasi karbon dioksida di atmosfer terus meningkat, sementara berbagai negara masih menghadapi tantangan besar dalam menekan emisi gas rumah kaca. Dampaknya semakin terasa, termasuk di Indonesia. Gelombang panas, musim yang sulit diprediksi, banjir rob yang semakin luas, abrasi pantai, dan perubahan pola curah hujan kini bukan lagi sekadar prediksi ilmuwan, tetapi kenyataan yang dialami masyarakat setiap tahun.

Di tengah kondisi tersebut, mangrove memiliki peran yang sering kali terlupakan. Selama ini publik lebih mengenal hutan hujan tropis sebagai penyerap karbon. Padahal, dalam luasan yang sama, ekosistem mangrove mampu menyimpan karbon jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar ekosistem daratan. Karbon tidak hanya tersimpan pada batang dan tajuk pohon, tetapi juga pada sedimen yang dapat mengunci karbon selama ratusan hingga ribuan tahun apabila ekosistemnya tetap terjaga.

Kemampuan menyimpan karbon inilah yang menjadikan mangrove sebagai bagian penting dari konsep blue carbon. Ketika hutan mangrove ditebang atau dialihfungsikan menjadi tambak, permukiman, maupun kawasan industri, karbon yang tersimpan selama puluhan hingga ratusan tahun akan kembali terlepas ke atmosfer. Ironisnya, Indonesia yang memiliki salah satu kawasan mangrove terluas di dunia justru masih menghadapi ancaman kehilangan ekosistem ini akibat tekanan pembangunan dan lemahnya pengelolaan di beberapa wilayah.

Namun, membicarakan mangrove tidak cukup hanya dalam konteks mitigasi perubahan iklim. Mangrove juga merupakan benteng adaptasi bagi jutaan masyarakat pesisir. Akar-akar yang rapat mampu meredam energi gelombang, mengurangi abrasi, memperlambat intrusi air laut, hingga melindungi permukiman dari dampak badai. Ketika permukaan laut terus meningkat sebagai akibat mencairnya es di kutub, keberadaan mangrove menjadi investasi perlindungan pesisir yang jauh lebih murah dibandingkan pembangunan infrastruktur keras seperti tanggul beton.

Sayangnya, masih terdapat paradigma yang keliru bahwa penanaman mangrove adalah tujuan akhir. Setiap tahun berbagai kegiatan seremonial dilakukan dengan menanam ribuan bibit, tetapi hanya sedikit yang memastikan bibit tersebut benar-benar hidup hingga dewasa. Padahal, keberhasilan rehabilitasi tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, melainkan dari tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan kemampuan membentuk kembali fungsi ekologisnya.

Pendekatan rehabilitasi mangrove juga harus lebih ilmiah. Penanaman perlu memperhatikan kesesuaian jenis, karakteristik pasang surut, salinitas, jenis substrat, hingga dinamika hidrologi pesisir. Menanam spesies yang tidak sesuai hanya akan menghasilkan tingkat kematian yang tinggi. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi geospasial, citra satelit, drone, kecerdasan buatan, hingga sistem pemantauan berbasis penginderaan jauh perlu menjadi bagian dari strategi nasional dalam mengelola mangrove secara berkelanjutan.

Di sisi lain, masyarakat lokal harus ditempatkan sebagai aktor utama konservasi. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa kawasan mangrove yang dikelola bersama masyarakat cenderung memiliki tingkat keberhasilan rehabilitasi yang lebih tinggi. Ketika masyarakat memperoleh manfaat ekonomi melalui ekowisata, perikanan berkelanjutan, hasil hutan bukan kayu, maupun skema perdagangan karbon, motivasi untuk menjaga mangrove akan tumbuh secara alami.

Hari Mangrove Sedunia 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita terhadap hutan pesisir. Mangrove bukan sekadar program penghijauan, bukan pula hanya objek penanaman saat peringatan lingkungan. Mangrove adalah infrastruktur hijau yang menopang ketahanan iklim, ketahanan pangan, perlindungan pesisir, serta kesejahteraan masyarakat.

Di tengah ketidakpastian iklim global, setiap hektare mangrove yang berhasil dipertahankan merupakan investasi bagi masa depan. Sebaliknya, setiap hektare yang hilang bukan hanya kehilangan pohon, tetapi juga hilangnya penyerap karbon alami, perlindungan pantai, habitat keanekaragaman hayati, dan sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Perubahan iklim merupakan persoalan global, tetapi solusi sering kali dimulai dari tindakan lokal. Menjaga mangrove berarti menjaga garis pantai, menjaga kehidupan masyarakat pesisir, sekaligus berkontribusi terhadap upaya dunia menekan laju pemanasan global. Pada akhirnya, Hari Mangrove Sedunia bukan hanya tentang merayakan keberadaan mangrove, melainkan mengingatkan bahwa masa depan iklim bumi juga bertumpu pada keberlangsungan hutan-hutan pesisir yang hari ini masih kita miliki.

Oleh: Dr. Sodikin, S.Pd, M.Si, M.P.W.K.

(Dosen Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka dan Pembina Yayasan Lingkungan Hidup Estuari)

Type above and press Enter to search.