GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

FOMO atau Kebutuhan? Menimbang Gaya Konsumsi Generasi Digital dalam Perspektif Muamalah

Ilustrasi - (Foto: Istimewa).

Suara Time, Kolom - Siapa yang tidak pernah tertarik membeli barang hanya karena ada tulisan Flash Sale, Limited Stock, atau Gratis Ongkir? Strategi promosi yang beragam sering kali mendorong seseorang untuk membeli barang secara mendadak tanpa memikirkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau tidak. Fenomena ini semakin dikenal oleh generasi digital dan disebut sebagai fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan cemas tidak ingin ketinggalan tren atau kesempatan yang sedang terjadi. Akibatnya, keputusan membeli tidak lagi ditentukan oleh kebutuhan, tetapi karena pengaruh ikut-ikutan tren yang sedang populer. 

Kemudahan berbelanja melalui berbagai platform digital memang memberikan banyak keuntungan. Hanya dengan sedikit gesekan di layar ponsel, seseorang bisa membeli hampir semua kebutuhan tanpa perlu keluar rumah. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru berupa kebiasaan belanja berlebihan yang sering kali tidak disadari. 

Keinginan perlahan berubah menjadi kebutuhan palsu, sementara rasa puas hanya bertahan sebentar sebelum muncul keinginan berikutnya. Fenomena ini bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga berkaitan dengan cara seseorang mengelola harta yang telah di titipkan oleh Allah Swt. Dari sudut pandang muamalah, setiap kegiatan ekonomi tidak hanya dilihat apakah transaksinya sah atau tidak, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan hartanya dengan tanggung jawab dan tidak berlebihan.

Ketika Keinginan Terlihat Seperti Kebutuhan

Media sosial dan platform perdagangan digital mampu memengaruhi cara masyarakat membeli dan menggunakan barang. Konten dari para influencer, siaran langsung penjualan, hingga ulasan produk yang semakin banyak muncul bisa memengaruhi seseorang untuk membeli barang yang sebelumnya tidak ada dalam rencana belanjanya. 

Banyak orang merasa harus membeli produk hanya karena tren di sekitar mereka. Padahal, bukan semua hal yang menarik untuk dimiliki benar-benar dibutuhkan. Jika tidak dikendalikan, kebiasaan mengikuti rasa takut ketinggalan (FOMO) bisa memicu pola belanja berlebihan, penggunaan uang secara boros, dan bahkan merusak kondisi keuangan seseorang. Dalam jangka panjang, pola konsumsi seperti ini bisa membuat seseorang semakin jauh dari tujuan utama dalam muamalah, yaitu menciptakan manfaat dan keberkahan dalam setiap kegiatan ekonomi.

Allah Swt. telah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak melarang seseorang menikmati rezeki yang halal. Namun, Islam juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar konsumsi tidak berubah menjadi perilaku berlebihan (israf) yang hanya mengikuti hawa nafsu

Muamalah Mengajarkan Konsumsi yang Bijak

Prinsip muamalah mengajarkan bahwa harta merupakan amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, setiap keputusan untuk membeli sesuatu sebaiknya didasarkan pada manfaat, kebutuhan, dan kemampuan finansial, bukan semata-mata karena tekanan tren atau keinginan sesaat.

Rasulullah saw. bersabda:

“Sesungguhnya Allah membenci kalian menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjadi pengingat bahwa Islam tidak hanya mengatur cara memperoleh harta, tetapi juga mengajarkan bagaimana menggunakannya secara bijaksana. Menghamburkan uang untuk memenuhi keinginan yang tidak diperlukan bukanlah perilaku yang mencerminkan nilai-nilai muamalah.

Di zaman digital saat ini, memiliki kesabaran sebelum membeli sesuatu di aplikasi atau situs belanja online adalah cara untuk mengendalikan diri sendiri dengan baik. Membiasakan diri bertanya, “Apakah barang ini benar-benar saya butuhkan?” bisa menjadi cara mudah untuk menghindari belanja impulsif yang akhirnya membuat kita merasa menyesal.

Menjadikan Transaksi sebagai Jalan Menuju Keberkahan

Kemajuan teknologi bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, teknologi bisa membantu mempermudah hidup asal digunakan dengan tanggung jawab. Tantangan terbesar bagi generasi digital bukan terletak pada jumlah promo yang banyak, tetapi pada kemampuan untuk mengendalikan diri di tengah banyaknya pilihan belanja. Pada akhirnya, cara bertransaksi mengajarkan bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya terlihat dari banyaknya barang yang dimiliki, tetapi juga dari kebijaksanaan dalam menggunakan uangnya.

Ketika seseorang memutuskan untuk membeli sesuatu berdasarkan kebutuhan, manfaat, dan prinsip-prinsip Islam, setiap pembelian tidak hanya memberikan rasa senang sementara, tetapi juga membawa keberkahan yang disukai oleh Allah SWT. melawan FOMO bukan berarti tertinggal, melainkan bentuk kemenangan diri dalam menjaga amanah harta. Bijak memilah antara butuh dan ingin adalah langkah nyata menuju muamalah yang penuh berkah.


*) Penulis adalah Seren DesaputriMahasiswi Manajemen di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta.

Type above and press Enter to search.