GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Di Tengah Padatnya Stasiun Gubeng, Dedikasi Relawan Muda Membantu Pemudik

Relawan muda mengenakan rompi berwarna coklat muda yang sibuk membantu para penumpang. (Foto: Dok/Ist). 

Suara Time, Surabaya - Kereta api masih menjadi salah satu moda transportasi primadona bagi masyarakat Indonesia, khususnya saat musim mudik Lebaran. Hal ini terlihat jelas di Stasiun Gubeng Surabaya, ketika ribuan penumpang tampak memadati area stasiun untuk berangkat menuju berbagai kota tujuan. Di tengah keramaian tersebut, tampak sejumlah relawan muda mengenakan rompi berwarna coklat muda yang sibuk membantu para penumpang.

Relawan-relawan ini berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa hingga pelajar. Salah satunya adalah Alicia, mahasiswi semester 6 Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Dengan sigap, ia membantu seorang penumpang lansia mengangkat koper, mencarikan gerbong, hingga mengantarkan pasangan tersebut sampai ke tempat duduknya di dalam kereta.

Di sisi lain, Fajar, siswa kelas 11 SMA Negeri 7 Surabaya yang tergabung dalam komunitas pecinta kereta api Javatrain Rail Fans Community, juga terlihat aktif membantu para penumpang. Ia dengan cekatan mengangkat barang bawaan penumpang agar proses naik kereta dapat berjalan lebih cepat dan tertib.

Alicia dan Fajar merupakan bagian dari belasan relawan muda yang bertugas di Stasiun Gubeng selama periode mudik Lebaran. Mereka bekerja dengan sistem shift, yaitu shift pagi dan shift siang hingga malam hari, guna memastikan pelayanan tetap optimal sepanjang waktu. Masa tugas mereka dimulai sejak 16 Maret hingga 27 Maret, mencakup periode arus mudik hingga arus balik.

Dalam menjalankan tugasnya, para relawan tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan informasi dan pendampingan kepada penumpang yang membutuhkan. Banyak pengalaman berkesan yang mereka rasakan, terutama saat membantu lansia, ibu dengan anak kecil, hingga penumpang yang kebingungan mencari jadwal atau peron.

“Yang paling seru itu membantu lansia membawakan barang, terus mengarahkan keretanya di mana. Pernah juga diminta menjaga anak-anak dari seorang ibu yang sedang sendirian,” ungkap Alicia.

Selain membantu sesama, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi para relawan untuk mengembangkan kemampuan diri, seperti komunikasi dan public speaking. Mereka bahkan kerap berinteraksi dengan penumpang asing menggunakan bahasa Inggris, sehingga menambah pengalaman berharga di usia muda.

Sementara itu, pihak KAI Daop 8 Surabaya mencatat bahwa Selasa, 24 Maret menjadi salah satu puncak arus mudik dan balik. jumlah penumpang yang datang mencapai sekitar 30.800 orang, sementara penumpang yang berangkat sekitar 23.000 orang. Secara total, lebih dari 54.000 penumpang dilayani dalam satu hari, menjadi angka tertinggi selama periode angkutan Lebaran sejak 11 Maret.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, KAI Daop 8 Surabaya menyiapkan sembilan perjalanan kereta tambahan di luar jadwal reguler. Selain itu, penumpang juga diimbau untuk memanfaatkan layanan face recognition saat proses check-in guna mengurangi antrean serta meningkatkan efisiensi, terutama pada jam-jam sibuk.

Para calon penumpang juga disarankan untuk selalu memeriksa jadwal keberangkatan sebelum tiba di stasiun guna menghindari kendala perjalanan.

Di balik padatnya aktivitas di Stasiun Gubeng, kehadiran relawan muda menjadi elemen penting dalam menjaga kelancaran dan kenyamanan perjalanan. Bantuan yang mereka berikan, meskipun sederhana, memberikan dampak besar bagi para pemudik.

Melalui pengalaman ini, para relawan tidak hanya menjalankan tugas sosial, tetapi juga belajar tentang empati, tanggung jawab, dan arti penting membantu sesama. Di tengah hiruk pikuk arus mudik, terselip kisah inspiratif tentang semangat kepedulian generasi muda yang hadir untuk melayani masyarakat.

Type above and press Enter to search.