![]() |
| The Human Safety Net Indonesia bersama Ibu Profesional menyerahkan simbolis bantuan beasiswa pendidikan kepada keluarga penerima manfaat Bergema Cianjur. |
Suaratime, Cianjur, 25 Juli 2026 — Sebuah keluarga mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk bermain bersama. Namun, bagi seorang anak, waktu singkat bersama ayah dan ibunya dapat menjadi kenangan yang membekas jauh lebih lama. Semangat itulah yang hadir dalam Bergema Cianjur, sebuah kegiatan yang mempertemukan lebih dari 50 keluarga dalam ruang belajar, bermain, berbagi, dan menguatkan kembali hubungan di dalam keluarga.
Bergema Cianjur digelar pada 25 Juli 2026 di SMA Muhammadiyah Cipanas dengan dukungan The Human Safety Net (THSN) Indonesia dan A Home Team. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Bergema yang telah dilaksanakan di sejumlah kota lain dengan menghadirkan Ibu Septi Peni Wulandani, Founder Ibu Profesional, serta A Home Team.
Acara diawali dengan persembahan angklung oleh siswa SMA Muhammadiyah Cipanas, dilanjutkan pembukaan oleh Homi dan Beebo yang diperankan oleh Teh Teni dan Teh Siti, dengan tarian Beebo dan Homi. Setelah sambutan Ketua Panitia oleh Rizka Irnawati dan sambutan dari THSN Indonesia, acara berlanjut pada penyerahan beasiswa pendidikan dan learning kit kepada 10 anak dari keluarga rentan yang berasal dari tiga sekolah. Empat di antaranya merupakan anak yatim. Beasiswa diserahkan oleh Bapak Deka dari THSN Indonesia.
Bagi para penerima manfaat, dukungan tersebut bukan sekadar bantuan pendidikan. Beasiswa dan perlengkapan sekolah menjadi dukungan nyata agar anak-anak dapat terus belajar dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
“Alhamdulillah, kami sangat senang dan bersyukur. Anak kami mendapatkan bantuan peralatan sekolah dan dukungan pendidikan. Terima kasih kepada The Human Safety Net yang telah memberikan bantuan ini. Insyaallah, bantuan ini sangat bermanfaat bagi pendidikan anak kami,” ujar salah satu orang tua penerima manfaat.
Kehangatan acara berlanjut melalui pertunjukan pantomim dari
Cipanas Art yang menampilkan kolaborasi ayah dan anak. Setelah itu, peserta
mengikuti dua kegiatan utama yang dirancang untuk menjawab kebutuhan keluarga
dari dua sisi: Aku dan Bapakku untuk ayah dan anak, serta
Workshop Pandu 45 untuk para ibu.
Dalam Workshop Pandu 45, 40 ibu mengikuti sesi bersama Ibu
Septi Peni Wulandani, Founder Ibu Profesional, untuk mengenali dan menggali
bakat anak. Sementara itu, 50 ayah dan 50 anak mengikuti kegiatan Aku dan
Bapakku, yang dirancang untuk membangun bonding dan kedekatan emosional melalui
aktivitas bermain, membuka ruang komunikasi yang hangat, serta mengajak ayah
merefleksikan perannya dalam keluarga.
Kegiatan Aku dan Bapakku menghadirkan tiga permainan: Rahasia
di Punggungku, Cerita Masa Lalu, dan Tebak Gayaku, Gayamu. Di balik permainan
yang sederhana, tersimpan ruang bagi ayah dan anak untuk saling melihat,
mendengar, tertawa, dan hadir sepenuhnya.
“Selama ini, keterlibatan saya dalam pengasuhan anak sepenuhnya lebih banyak diserahkan kepada istri. Saya bekerja dari Senin sampai Sabtu dan pulang malam. Setelah mengikuti acara ini, saya sadar bahwa pengasuhan anak memang harus ada peran seorang ayah,” tutur Bapak Dadan, peserta Aku dan Bapakku.
Ia mengaku kegiatan tersebut membuatnya menyadari pentingnya
meluangkan waktu untuk bermain bersama anak.
“Tidak lama anak-anak akan tumbuh besar. Maka bagi semua ayah, sempatkan bermain bersama anak, walaupun waktunya hanya sebentar,” ujarnya.
Perubahan suasana juga dirasakan oleh Bu Lilis, salah satu
peserta Bergema Cianjur. Ia mengaku mendapatkan wawasan baru tentang cara
mengenali bakat anak melalui Workshop Pandu 45. Ia juga melihat perubahan yang
menghangatkan hati saat mengikuti Aku dan Bapakku.
Sebelum kegiatan, menurutnya, waktu bermain antara ayah dan
anak relatif terbatas karena sang anak telah memiliki aktivitas sendiri. Namun,
melalui kegiatan tersebut, ia melihat keduanya dapat tertawa bersama sebuah
momen yang jarang ia saksikan sebelumnya.
“Alhamdulillah, saya bersyukur mengikuti acara ini karena kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan anak dalam masa pertumbuhannya. Semoga ke depannya hubungan ayah dan anak semakin solid, lebih akrab, dan semakin sering meluangkan waktu bersama,” ujar Bu Lilis.
Bagi anak-anak, pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang
sederhana, tetapi bermakna. Syafiq mengaku senang bermain bersama ayahnya dan
paling menyukai permainan Tebak Gayaku, Gayamu.
“Aku suka main sama Ayah. Ayah baik. Aku senang main game Tebak Gayaku, Gayamu. Aku mau main bareng lagi sama Ayah,” katanya.
Sementara itu, Gia memilih permainan Rahasia di Punggungku
sebagai permainan favoritnya.
“Ayah baik. Kadang suka main sama Ayah. Aku senang main Rahasia di Punggungku. Aku mau main lagi sama Ayah, main dokter-dokteran,” ujarnya.
Setelah kegiatan utama selesai, peserta diajak melakukan
refleksi. Para ayah berbagi tentang perasaan mereka setelah bermain bersama
anak, sementara para ibu merefleksikan pengalaman mengikuti workshop. Peserta
juga diajak menyampaikan komitmen yang akan dijalankan setelah acara, khususnya
komitmen untuk menghadirkan lebih banyak waktu dan komunikasi hangat di dalam
keluarga.
Suasana kemudian berlanjut dalam permainan massal di
lapangan utama SMA Muhammadiyah Cipanas. Ayah, ibu, dan anak kembali bermain
bersama. Meski berlangsung singkat, momen tersebut menjadi pengingat bahwa
kebersamaan keluarga tidak selalu membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi
berarti.
Rangkaian acara ditutup dengan doa, foto bersama, dan makan
siang bagi peserta. Setelah acara utama selesai, panitia Bergema mengikuti sesi
intimate bersama Ibu Septi Peni Wulandani selama sekitar satu jam. Sesi
tersebut menjadi ruang refleksi dan penguatan untuk memaksimalkan peran serta
kontribusi dalam Ibu Profesional.
Melalui Bergema Cianjur, dukungan pendidikan, pengenalan
bakat anak, dan penguatan relasi keluarga hadir dalam satu ruang yang sama.
Beasiswa membantu anak melanjutkan langkahnya. Workshop membantu orang tua
memahami potensi anak. Sementara permainan memberi ayah dan anak kesempatan
untuk kembali menemukan satu sama lain.
Karena terkadang, perubahan besar dalam keluarga tidak dimulai dari hal yang rumit. Ia dapat dimulai dari satu permainan, satu percakapan, satu tawa dan keputusan seorang ayah untuk meluangkan waktu bermain bersama anaknya.
