GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Tak Lagi Bergantung pada Dolar, Ini Langkah Cerdas Indonesia Bersama China

Ilustrasi - (Foto: Dok/Ist). 

Suara Time, Kolom — Selama bertahun-tahun, dolar Amerika Serikat (AS) telah menjadi satu-satunya mata uang yang digunakan dalam hampir semua jenis transaksi perdagangan dan investasi antar negara, termasuk di Indonesia. Namun, tren ini sekarang mulai berubah. Indonesia dan China, yang merupakan dua mitra dagang utama di Asia, secara bertahap menciptakan sistem transaksi yang tidak lagi bergantung pada dolar AS.

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa penggunaan transaksi dalam mata uang lokal, atau Local Currency Transaction (LCT), antara Indonesia dan China mengalami peningkatan yang drastis. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa nilai transaksi LCT kedua negara dalam empat bulan pertama tahun 2026 telah mencapai hampir 13 miliar dolar AS, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan sebelumnya. Sebagai perbandingan, total transaksi di tahun 2025 tercatat sekitar 18 miliar dolar AS, yang menunjukkan bahwa laju transaksi di awal tahun 2026 berkembang jauh lebih cepat.

 

Dari LCS Menuju LCT yang Lebih Luas

Kerja sama ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Bank Indonesia dan People's Bank of China (PBoC) mulai menerapkan kerangka Local Currency Settlement (LCS) sejak bulan September 2021 setelah adanya nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Perry Warjiyo dan mantan Gubernur PBoC Yi Gang akhir tahun 2020. Skema ini memberikan kesempatan untuk melakukan transaksi dalam rupiah dan yuan secara langsung melalui penawaran kurs langsung, tanpa perlu melakukan konversi ke dolar AS sebagai mata uang perantara.

Tahun lalu, kedua bank sentral memperluas kerjasama ini ke dalam kerangka Local Currency Transaction (LCT) yang cakupannya lebih besar. Sementara LCS sebelumnya hanya mencakup transaksi di bidang perdagangan dan investasi langsung, kini LCT juga mencakup aktivitas pada akun modal dan finansial yang melibatkan lintas batas. Perry Warjiyo mengatakan bahwa perluasan ini sejalan dengan upaya China dalam meningkatkan peranan yuan di tingkat internasional, sekaligus memastikan kedua negara dapat mengakses mata uang masing-masing cukup untuk keperluan penyelesaian transaksi.

Tiga Inisiatif Penguat Konektivitas

Penguatan kolaborasi dalam penggunaan mata uang lokal ini didukung oleh pembaruan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Bank Indonesia dan PBoC, yang pertama kali ditandatangani pada tahun 2009 dan terus diperpanjang setiap lima tahun. Perjanjian tersebut memastikan adanya likuiditas bagi rupiah dan yuan untuk kedua negara, sehingga kegiatan perdagangan dan finansial dapat berlangsung secara stabil meskipun tanpa keterlibatan dolar AS.

Dalam pertemuan pada 11 Juni 2026, Bank Indonesia dan PBoC menegaskan komitmen tersebut melalui tiga inisiatif utama. Pertama, penandatanganan nota kesepahaman untuk transaksi menggunakan mata uang lokal antara Indonesia dan Hong Kong. Kedua, penambahan jaringan Appointed Cross Currency Dealer (ACCD), yaitu bank-bank yang ditentukan khusus untuk memfasilitasi transaksi rupiah dan yuan, termasuk Bank Mandiri, BNI, BRI, dan Bank ICBC Indonesia. Ketiga, peningkatan konektivitas pembayaran internasional, termasuk percobaan interkoneksi QR code antara kedua negara yang direncanakan akan beroperasi penuh dalam waktu dekat.

Manfaat Nyata bagi Pelaku Usaha

Bagi pelaku bisnis, langkah ini menawarkan keuntungan yang nyata. Penggunaan mata uang lokal mengurangi biaya konversi yang umumnya muncul saat rupiah harus ditukarkan dengan dolar AS lalu dikonversi kembali ke yuan, atau sebaliknya. Strategi ini juga membuka pilihan pembiayaan ekspor dan investasi langsung dalam mata uang lokal, menawarkan instrumen untuk perlindungan nilai (hedging) tambahan, serta menurunkan ketergantungan eksportir dan importir terhadap satu jenis mata uang asing.

Selain itu, Bank Indonesia sebenarnya juga telah membangun jaringan LCS yang serupa dengan beberapa mitra dagang lainnya, seperti Jepang, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Hong Kong. Namun, China tetap menjadi mitra dengan perkembangan transaksi mata uang lokal yang paling pesat, mengikuti posisinya sebagai salah satu mitra dagang dan investasi terbesar bagi Indonesia.

Mengapa Ini Penting untuk Stabilitas Rupiah

Secara keseluruhan, kolaborasi ini diharapkan dapat mengurangi tekanan yang dialami rupiah di pasar valuta asing lokal. Selama ini, tingginya permintaan dolar AS untuk impor dan pembayaran utang kerap menjadikan rupiah rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, terutama ketika kondisi global memburuk. Dengan lebih banyak transaksi yang dilakukan secara langsung menggunakan rupiah dan yuan, sebagian dari tekanan permintaan dolar tersebut dapat berkurang.

Langkah yang diambil Indonesia juga sejalan dengan tren yang lebih besar di kawasan ini. Beberapa negara di Asia, termasuk yang berada di ASEAN, kini sedang menilai kembali ketergantungan jangka panjang mereka pada dolar AS, terutama setelah krisis keuangan Asia pada tahun 1997 dan krisis keuangan global 2008 yang menunjukkan betapa rentannya negara berkembang saat dolar AS mengalami gejolak yang berdampak pada perekonomian domestik.

Namun, beberapa analis memperingatkan bahwa peralihan dari dolar AS ke yuan bukanlah tanpa risiko. Pertumbuhan transaksi antara rupiah dan yuan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan transaksi mata uang lokal lainnya menimbulkan pertanyaan apakah Indonesia justru menciptakan ketergantungan baru, yaitu pada yuan, alih-alih benar-benar melakukan diversifikasi risiko mata uang dengan cara yang seimbang.

Terlepas dari adanya perdebatan ini, arah kebijakan sudah jelas: Indonesia tidak lagi memperlakukan dolar AS sebagai satu-satunya cara untuk bertransaksi dengan mitra dagangnya yang utama. Kerja sama dengan China menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana dua negara besar yang sedang berkembang di Asia berusaha untuk mengambil alih kendali lebih besar terhadap mata uang dan stabilitas ekonomi mereka masing-masing.


*) Penulis adalah Ina Muflihatun dan Nabila Noktaviani, Mahasiswa Prodi Manajamen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Pancasakti Tegal.

Type above and press Enter to search.