![]() |
| Jerome powell, ketua the Fed / federal reverse AS. (Foto: Dok/Ist). |
Kebuntuan Kebijakan
Moneter: Suku Bunga "High & Dry" di Tengah Stagflasi
Dalam sepekan terakhir,
bank-bank sentral utama dunia menunjukkan sinkronisasi yang mengkhawatirkan:
tidak ada yang berani bergerak. Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku
bunga di kisaran 3,50%–3,75% pada pertemuan terakhir di bawah
kepemimpinan Jerome Powell, dengan voting delapan berbanding empat, tiga di
antaranya mendukung penahanan namun menolak pernyataan yang mengarah pada
pelonggaran kebijakan .
Bank of England dan
European Central Bank (ECB) mengikuti langkah serupa. ECB mempertahankan suku
bunga deposito di 2%, sementara Bank of England juga menahan suku
bunga di 3,75% . Satu-satunya outlier adalah Bank of Japan
(BoJ) yang justru mempertahankan suku bunga di 0,75% dengan
hasil voting enam berbanding tiga, tiga anggota mendorong kenaikan ke 1% .
Apa yang membuat
skenario ini berbeda dari siklus sebelumnya adalah ketiadaan panduan masa depan
(forward guidance). Tidak ada bank sentral yang berani menyatakan secara
tegas arah kebijakan selanjutnya .
Penyebabnya jelas:
ekonomi global memasuki fase stagflasi - kombinasi pertumbuhan
melambat dan inflasi yang kembali melonjak akibat harga energi pascakonflik
Iran. Data terbaru menunjukkan PDB AS kuartal I-2026 hanya tumbuh 2% secara
tahunan, di bawah ekspektasi. Namun inflasi PCE, indikator favorit The Fed, justru
melonjak ke 3,5%, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kawasan Euro juga menunjukkan gejala serupa: pertumbuhan hampir stagnan
sementara inflasi kembali menyentuh 3% .
Seorang analis Bitunix
menggambarkan situasi ini sebagai "jebakan kebijakan" klasik:
"Jika bank sentral terus mempertahankan suku bunga tinggi, ekonomi akan
semakin mendingin. Namun jika memangkas terlalu cepat, harga minyak yang tinggi
dan tekanan rantai pasok dapat menyebabkan inflasi lepas kendali
lagi" .
Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa penghentian permusuhan di Timur Tengah masih rapuh. Meskipun pejabat AS mengklaim "permusuhan telah berakhir," Israel memperingatkan kemungkinan aksi lanjutan terhadap Iran, dan blokade efektif Selat Hormuz belum berakhir .
Hegemoni Dolar AS Tak
Terbantahkan: Pangsa Sentuh Rekor 51,1%
Di tengah wacana
de-dolarisasi yang digaungkan negara-negara BRICS, data berbicara lain. Menurut
laporan terbaru SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial
Telecommunication) untuk Maret 2026, pangsa dolar AS dalam transaksi
internasional melonjak ke rekor 51,1% , naik signifikan dari
49,2% pada bulan sebelumnya .
Ini adalah level tertinggi
sejak SWIFT merevisi metode pengumpulan data pada 2023. Kenaikan ini terjadi di
tengah gejolak geopolitik pasca-serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada
akhir Februari, yang memicu aksi jual aset berisiko global, lonjakan harga
minyak, serta peningkatan permintaan terhadap dolar sebagai aset safe
haven .
Morgan Stanley
(sebagaimana dikutip berbagai sumber) menegaskan: "Pelemahan dolar yang
terjadi tahun lalu tidak serta-merta menurunkan perannya sebagai mata uang
cadangan maupun basis pasar modal global" .
Di belakang dolar, Euro
hanya menguasai sekitar 21% transaksi SWIFT, diikuti Poundsterling, Yen, Yuan
China, dan Dolar Kanada .
Peringatan penting: SWIFT
tidak mencakup seluruh pasar valas harian senilai US$9,5 triliun. Selain itu,
sejak perang Rusia-Ukraina, SWIFT telah mengeluarkan sejumlah bank besar Rusia
dari layanannya . Namun demikian, data ini tetap menjadi indikator paling
otoritatif mengenai arus pembayaran lintas batas.
Alarm IMF: Utang Global
Menuju 100% PDB, Subsidi BBM Justru Memperburuk Krisis
Ancaman paling sistemik
datang dari sisi fiskal. Dalam laporan Fiscal Monitor edisi April 2026 yang
dirilis di Washington DC pada 15 April lalu, Dana Moneter Internasional (IMF)
mengeluarkan peringatan keras: utang publik global mencapai 93,9% PDB pada
2025 dan diproyeksikan menembus 100% PDB pada 2029—lebih cepat
setahun dari perkiraan sebelumnya .
Ini akan menjadi beban
utang tertinggi sejak Perang Dunia II, dan diproyeksikan terus naik hingga
102,3% PDB pada 2031 .
Yang lebih mengkhawatirkan
adalah perubahan struktur kepemilikan utang. Rodrigo Valdes,
Direktur Departemen Fiskal IMF yang baru, memperingatkan bahwa porsi utang yang
dipegang oleh hedge fund dan investor non-bank (nonbank
financial intermediation) semakin besar. Investor ini dinilai sebagai
"tangan yang kurang kokoh untuk memegang utang dalam jangka panjang"
dan lebih sensitif terhadap sentimen pasar .
Selain itu, durasi
utang global semakin pendek, yang berarti dinamika utang lebih sensitif
terhadap kondisi jangka pendek .
Serangan Khusus IMF:
Hentikan Subsidi BBM
Dalam konferensi pers
peluncuran Fiscal Monitor, Valdes secara blak-blakan mengkritik kebijakan
subsidi energi yang masih diterapkan banyak negara untuk meredam gejolak harga.
"Kita tidak punya
minyak. Kita tidak punya energi. Energi harus menjadi lebih mahal bagi
semua orang, sehingga penyesuaian terjadi dan kita mengurangi
konsumsi," tegas Valdes .
Ia menjelaskan bahwa
subsidi harga BBM secara luas (broad-based subsidies) justru
menciptakan efek tumpahan internasional (international spillovers).
Jika sebagian besar negara menekan harga energi di dalam negeri, beban
penyesuaian akan ditanggung oleh segelintir negara yang membiarkan harga
mengambang bebas. Akibatnya, harga minyak global menjadi dua kali lipat lebih
tinggi dari yang seharusnya .
"Jika negara
menekan sinyal harga, harga global akan lebih tinggi... Sangat penting untuk
memberikan sinyal harga sehingga permintaan dapat menyesuaikan diri," ujar
Valdes kepada Reuters .
Sebagai alternatif, IMF
merekomendasikan bantuan tunai yang ditargetkan dan bersifat sementara
(targeted, temporary cash transfers) kepada masyarakat paling
rentan, bukan subsidi menyeluruh yang boros anggaran, regresif, dan sulit
dicabut .
Kabar baiknya,
Valdes menegaskan bahwa dunia saat ini belum berada dalam kondisi krisis
seperti COVID-19. Namun ia memperingatkan: "Semakin lama Anda menunda
langkah-langkah konsolidasi fiskal, akan semakin berat upaya yang diperlukan di
masa depan, dan semakin tinggi risiko menghadapi konsolidasi yang tidak tertib" .
Dampak bagi Negara
Berkembang
Kombinasi tiga tekanan
ini—suku bunga tinggi berkepanjangan, dolar yang terus menguat, dan utang yang
membengkak, menciptakan perfect storm bagi negara berkembang,
termasuk Indonesia.
Pertama, meningkatnya
biaya utang luar negeri. Dengan suku bunga acuan The Fed di 3,75%, imbal
hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield) tetap menarik, mendorong aliran
modal keluar dari pasar negara berkembang. Kedua, depresiasi mata uang
lokal. Penguatan dolar memberikan tekanan langsung pada nilai tukar rupiah
dan mata uang emerging market lainnya.
Ketiga, terbatasnya
ruang fiskal. Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga
energi untuk menjaga anggaran (berisiko memicu gejolak sosial) atau mempertahankan
subsidi (berisiko memperbesar defisit dan memperpanjang tekanan inflasi
global).
*) Penulis adalah Nakia Azhar, Nilam Tyasmitha, dan Sania Lutfianisa, Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Pancasakti Tegal.
