Siswa dan guru SDN 3 Ujunggebang turut berpartisipasi dalam aksi konservasi pesisir sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan pantai dan ekosistem pesisir, Foto ; Dok. Probadi

Indramayu, 30 Mei 2026 – Pendidikan lingkungan tidak harus selalu dilakukan di dalam ruang kelas. Melalui kegiatan edukasi dan aksi nyata di lapangan, puluhan siswa SDN 3 Ujunggebang, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, mendapatkan pengalaman langsung tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove di kawasan Pantai Plentong, Sabtu (30/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Program Partner FoLU-NC 4 dalam mendukung target nasional FoLU Net Sink 2030 yang dilaksanakan melalui kolaborasi antara Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Partner FoLU-NC 4, dan Yayasan Lingkungan Hidup Estuari.

Sebanyak 30 siswa SDN 3 Ujunggebang mengikuti kegiatan bertajuk “Edukasi Lingkungan Sejak Dini Melalui Aksi Penanaman Mangrove untuk Mencegah Abrasi dan Banjir Rob.” Program ini dirancang untuk memperkenalkan fungsi dan manfaat mangrove kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai sejak usia dini.  Dalam kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya memperoleh materi mengenai ekosistem pesisir, tetapi juga diajak melihat secara langsung kondisi kawasan pantai yang rentan terhadap abrasi dan banjir rob. Pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman ini diharapkan mampu membangun pemahaman yang lebih kuat dibandingkan pembelajaran teoritis semata.

Ketua Pengurus Yayasan Lingkungan Hidup Estuari, Casmudi, menjelaskan bahwa pelibatan pelajar dalam kegiatan konservasi merupakan investasi penting bagi keberlanjutan lingkungan di masa depan. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menjaga dan melestarikannya.

“Konservasi harus dimulai dari pendidikan. Menanam mangrove memang penting, tetapi yang lebih penting adalah menanamkan kesadaran kepada generasi muda tentang mengapa mangrove harus dijaga. Ketika anak-anak memahami manfaat mangrove sejak sekarang, mereka akan menjadi bagian dari solusi lingkungan di masa depan,” ujarnya.

Casmudi menambahkan bahwa Yayasan Lingkungan Hidup Estuari selama ini secara konsisten menjalankan berbagai program rehabilitasi mangrove, edukasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat pesisir, hingga pendampingan kelompok-kelompok lokal yang bergerak dalam bidang konservasi. Melalui berbagai program tersebut, yayasan berupaya memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi edukasi lingkungan yang disampaikan oleh Dr. Sodikin, S.Pd., M.Si., M.P.W.K., pakar ekologi mangrove dari Program Studi Magister Studi Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka. Dalam pemaparannya, Dr. Sodikin menjelaskan bahwa mangrove merupakan benteng alami kawasan pesisir yang memiliki banyak fungsi ekologis dan ekonomi. Selain mampu menahan abrasi dan meredam energi gelombang laut, mangrove juga berperan sebagai habitat penting bagi berbagai jenis ikan, kepiting, udang, dan burung yang menjadi bagian dari rantai kehidupan pesisir.

Lebih lanjut, Dr. Sodikin menjelaskan bahwa mangrove juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar atau dikenal sebagai blue carbon, sehingga menjadi salah satu ekosistem penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim global. Oleh karena itu, pelestarian mangrove tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat pesisir, tetapi juga berkontribusi terhadap agenda lingkungan nasional dan internasional.

Setelah mengikuti sesi edukasi, para siswa bersama tim Yayasan Lingkungan Hidup Estuari menuju lokasi penanaman di kawasan Pantai Plentong. Dengan pendampingan fasilitator, mereka diperkenalkan pada teknik penanaman mangrove yang baik dan benar, mulai dari pemilihan lokasi tanam, penempatan bibit, hingga cara menjaga bibit agar dapat tumbuh optimal. Pengalaman ini memberikan kesempatan bagi para siswa untuk belajar langsung mengenai praktik rehabilitasi ekosistem pesisir.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 4.000 bibit mangrove berhasil ditanam pada kawasan yang selama ini menjadi titik rawan abrasi dan banjir rob. Penanaman dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan alami garis pantai sekaligus mendukung pemulihan ekosistem mangrove di wilayah pesisir Indramayu. Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat.

Para siswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara, mulai dari sesi edukasi hingga praktik penanaman di lapangan. Bagi sebagian peserta, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama berinteraksi langsung dengan ekosistem mangrove dan memahami manfaatnya bagi kehidupan masyarakat pesisir.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendanaan lingkungan, dunia pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil, kegiatan ini menunjukkan bahwa upaya konservasi akan lebih efektif apabila dilakukan secara bersama-sama. Keterlibatan SDN 3 Ujunggebang dalam aksi penanaman mangrove menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan lingkungan dapat diwujudkan melalui pengalaman langsung yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik.

Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari tersebut sekaligus menegaskan bahwa konservasi mangrove bukan hanya tentang menanam pohon, tetapi juga tentang membangun kesadaran, memperkuat kolaborasi, dan menyiapkan generasi masa depan yang peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Ribuan mangrove yang kini tumbuh di Pantai Plentong diharapkan menjadi simbol harapan baru bagi ketahanan pesisir Indramayu serta kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian target FoLU Net Sink 2030 Indonesia.