GUdpBSYpTSd0TSY5TUW8TSC5TA==

Konflik Timur Tengah Mengguncang Energi Dunia, Ancaman Krisis Menguat

Ilustrasi - (Foto: Detik).

Ketegangan bersenjata di jantung kawasan penghasil minyak terbesar dunia memicu gelombang kepanikan di pasar komoditas global—harga minyak mentah melonjak, dan negara-negara importir mulai mengencangkan ikat pinggang.

Api konflik yang membara di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar tragedi kemanusiaan — ia telah menjelma menjadi bom waktu bagi perekonomian dunia. Selama beberapa pekan terakhir, eskalasi militer di sejumlah titik strategis kawasan Teluk Persia dan Laut Merah telah memaksa kapal-kapal tanker minyak memutar jalur, menaikkan biaya pengiriman, dan memantik kepanikan di bursa komoditas dari New York hingga Tokyo.

Harga minyak mentah jenis Brent menembus angka psikologis 95 dolar AS per barel dalam perdagangan awal pekan ini, melonjak hampir 12 persen dibandingkan bulan lalu. Para analis memperingatkan bahwa angka tersebut bisa kian melambung apabila jalur strategis Selat Hormuz — tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap harinya — mengalami gangguan serius akibat eskalasi lebih lanjut.

“Selat Hormuz bukan sekadar perairan. Ia adalah urat nadi peradaban industri modern yang bila tersumbat, dunia pun ikut sesak.”

Negara-negara anggota OPEC+ kini berada di persimpangan sulit. Di satu sisi, mereka harus merespons tekanan Barat untuk meningkatkan produksi demi menstabilkan harga. Di sisi lain, beberapa anggota utama kelompok ini justru merupakan pihak-pihak yang terlibat langsung atau bersinggungan dengan dinamika konflik yang sedang berlangsung. Rapat darurat OPEC+ yang dijadwalkan digelar pekan depan di Wina disebut-sebut akan menjadi salah satu pertemuan paling krusial dalam satu dekade terakhir.

Dampaknya sudah terasa ke seantero dunia. Di Eropa, harga gas alam kembali merangkak naik setelah sempat stabil pasca-krisis energi 2022. Di Asia Timur, Jepang dan Korea Selatan dua importir minyak terbesar di kawasan yang hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Timur Tengah mulai mengaktifkan protokol cadangan energi darurat. Sementara di negara-negara berkembang, ancaman inflasi energi mengintai harga pangan dan transportasi.

Indonesia, sebagai salah satu negara dengan konsumsi energi terbesar di Asia Tenggara, tidak luput dari dampak gejolak ini. Pemerintah Jakarta diketahui tengah mengintensifkan komunikasi dengan sejumlah mitra energi alternatif, termasuk menjajaki percepatan pembelian minyak dari Amerika Serikat dan negara-negara Afrika Barat, guna mengurangi ketergantungan pada pasokan dari kawasan konflik.

Para ekonom dan pakar energi mengingatkan bahwa krisis ini berbeda dari guncangan-guncangan sebelumnya. Tidak seperti pandemi atau resesi finansial yang bersifat siklus, ketegangan geopolitik yang mengakar dalam di Timur Tengah berpotensi menjadi konstanta baru dalam lanskap energi global. Transisi menuju energi terbarukan yang diimpikan banyak negara pun kini semakin mendesak  bukan sekadar karena alasan lingkungan, melainkan demi kedaulatan dan ketahanan energi nasional.

Di tengah segala ketidakpastian ini, satu hal yang pasti: dunia belum siap untuk hidup tanpa minyak Timur Tengah. Dan selama konflik masih membara, setiap tetes minyak yang mengalir melalui Selat Hormuz akan terus diperdebatkan, diperebutkan, dan dihargai dengan sangat mahal.

INDIKATOR PASAR ENERGI

Komoditas

Harga

Perubahan

Brent Crude (Minyak Mentah)

$95.40 / barel

+12.0%

WTI Crude

$91.70 / barel

+10.8%

Gas Eropa (TTF)

€48.20 / MWh

+7.3%

Transit Hormuz (per hari)

21 Juta Barel

Risiko Tinggi

 

*) Penulis adalah Tesa Rohmahwati, Ratna amelia, Annisa dwi nuraini, Mahasiswa Prodi Manajemen di Universitas Pancasakti Tegal

Komentar0

Type above and press Enter to search.