Suara Time, Bandung, 23 April 2026 — Dalam momentum peringatan Hari Bumi, workshop bertajuk “Sustainability Stewardship for Planetary Guardianship” digelar di Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan sekaligus merumuskan langkah nyata menuju masa depan berkelanjutan.
Workshop yang diinisiasi oleh Cipta Nusa ini mengangkat urgensi integrasi prinsip keberlanjutan dalam berbagai sektor, terutama industri dan pembangunan sosial. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, deforestasi, serta lonjakan emisi karbon, kegiatan ini menjadi refleksi bersama bahwa kondisi bumi saat ini sedang berada dalam situasi kritis.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa kenaikan suhu global, hilangnya jutaan hektar hutan, serta posisi Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi karbon terbesar di dunia menjadi indikator nyata bahwa krisis lingkungan bukan lagi sekadar isu jangka panjang, melainkan persoalan mendesak yang membutuhkan respons kolektif dan terstruktur.
Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih enam jam ini menghadirkan berbagai narasumber dari sektor pemerintah dan industri. Diskusi yang berlangsung mencakup topik-topik strategis, seperti kemitraan pemerintah dan perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan, implementasi ekonomi sirkular dalam dunia industri, hingga upaya pencapaian target net zero emission melalui pendekatan berkelanjutan.
Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, workshop ini juga menekankan pentingnya aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk sederhana yang didorong kepada peserta adalah membawa tumbler sebagai upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, yang selama ini menjadi kontributor utama pencemaran lingkungan.
Sebagai tamu undangan, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN Jakarta, Muhammad Yazid, turut hadir dan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya kegiatan ini. Ia menilai bahwa isu lingkungan saat ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kesejahteraan sosial masyarakat.
“Krisis lingkungan yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar isu yang bisa kita abaikan, tetapi sudah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan manusia. Persoalan kebersihan, pencemaran, dan kerusakan lingkungan secara langsung berdampak pada kualitas hidup masyarakat, terutama kelompok rentan yang memiliki keterbatasan dalam mengakses lingkungan yang sehat,” ujar Muhammad Yazid.
Menurutnya, dalam perspektif kesejahteraan sosial, lingkungan merupakan salah satu sistem penting yang memengaruhi kesejahteraan individu dan komunitas. Oleh karena itu, pendekatan terhadap isu sosial tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan. “Sebagai mahasiswa kesejahteraan sosial, kami memahami bahwa intervensi sosial tidak hanya berfokus pada individu atau kelompok, tetapi juga pada lingkungan sebagai bagian dari sistem yang saling berkaitan. Lingkungan yang tidak sehat akan memperparah ketimpangan sosial dan memperbesar risiko kerentanan masyarakat.”
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan tersebut. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia industri, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan solusi yang berkelanjutan.
“Kegiatan seperti ini menjadi sangat penting karena membuka ruang kolaborasi dan pertukaran gagasan dari berbagai sektor. Ke depan, pendekatan keberlanjutan harus menjadi bagian integral dalam praktik pekerjaan sosial, baik melalui advokasi kebijakan, edukasi masyarakat, maupun program pemberdayaan yang berbasis lingkungan.”
Semangat “Bring A Sustainable Future” yang diusung dalam workshop ini menjadi pengingat bahwa masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, tetapi juga oleh tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semakin banyak pihak yang memiliki kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau industri semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan sosial yang inklusif dan berkelanjutan.
Workshop ini sekaligus menjadi bukti bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menjadi langkah awal dalam menjawab krisis global yang kompleks, serta memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam menjaga keberlangsungan bumi bagi generasi mendatang.

Komentar0